
Jenewa | acehtraffic.com – koordinator pusat ASNLF/AM mengklaim dan mengapresiasikan masyarakat aceh karena sebagian besar tidak memilih, namun di sebagian daerah suara kosong tersebut bisa jadi bisnis pihak penyelenggara pemilu. Selasa 15 April 2014.
menurut Ismail (39) Sejumlah TPS Gampong jelas terlihat puluhan persen masyarakat tidak hadir di hari pemilihan, misalnya di Aceh Utara kecamatan NS (bukan nama asli) rata gampong yang boikot pemilu di kecamatan tersebut melebihi dari 40 persen itu menurut data investigasi, per TPS ada yang tidak memilih dari 100 sampai 300 Jiwa, sewaktu kita lihat hasil rekapitulasi suara di tingkat kecamatan, yang boikot pemilu Cuma 0,12 persen. Ujar ismail di salah satu kecamatan.

Namun lain dengan Koordinator Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, yang dalam Rillisnya memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa dan rakyat Aceh, yang telah menentukan sikap untuk memboikot Pemilu di Aceh 9 April lalu.
“Kami juga mengucapkan selamat dan sukses atas hasil kerja keras, cerdas dan ikhlas yang telah rekan-rekan seperjuangan berikan dalam mensukseskan agenda boikot pemilu tersebut,” ujar Koordinator Pusat ASNLF/AM dalam Nanggroe, Teuku Agam melalui rilis yang diterima redaksi media ini, Selasa 15 April 2014.
Mereka menilai, lewat kerja sama yang baik antar lintas generasi pejuang dan aktivis Aceh Merdeka, serta dukungan masyarakat Aceh, ASNLF/AM dalam Nanggroe telah sukses memboikot Pemilu. “Dimana pemilu tersebut tidak lain bertujuan untuk melanjutkan penjajahan terstruktur di bumi Aceh,” Kata Teuku Agam lagi.
Keberhasilan tersebut lanjut mereka dapat dilihat dari jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih di beberapa TPS mencapai 50% dari jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap), belum lagi jumlah suara yang sengaja di rusak oleh rakyat yang mendukung kerja ASNLF/AM dalam mensukseskan boikot Pemilu ini.
“Jumlah suara rusak dan boikot dengan cara tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu Indonesia adalah salah satu sikap protes bangsa Aceh, yang menentang sistem penjajahan Indonesia di Aceh. Selanjutnya sikap ini adalah suara hati bangsa Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Sekali lagi ASNLF/AM mengucapkan ribuan terimakasih kepada ‘seluruh rakyat Aceh’,” katanya.
Ucapan selamat tersebut disampaikan kepada seluruh suku yang ada di Aceh tanpa kecuali.
“Selamat dan sukses untuk bangsa serta seluruh rakyat Aceh (tanpa memandang suku) kami sebarkan dan dilaksanakan secara bijaksana di setiap wilayah demi menegakkan kedaulatan Negara Aceh Merdeka terbebas dari penjajahan Republik Indonesia,” tutup mereka melalui rilis yang dikirim melalui email bernama Asnawi Ali. AT | TM | AP |
