
acehtraffic.com - Michel Chossudovsky, profesor ternama Kanada dan penulis pemenang penghargaan, berpendapat bahwa rencana AS untuk intervensi militer di Suriah bertujuan untuk mengintegrasikan "empat teater perang yang berbeda" - Afghanistan-Pakistan, Irak, Palestina dan Libya - yang kemudian menetapkan panggung "skenario Perang Dunia III."
"Serangan terhadap Suriah akan mengarah pada perpaduan semua teater perang yang terpisah, yang akhirnya mengarah menuju perang Timur Tengah-Asia Tengah yang lebih luas," tulis profesor itu dalam sebuah opini untuk Global Research.
Chossudovsky mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang memicu "perang saudara" di beberapa negara yaitu Yaman, Somalia, Mesir, Mali dan Niger dengan mensponsori kelompok afiliasi al-Qaeda, pada dasarnya menyiapkan lahan untuk intervensi militer AS yang seringkali dalam bentuk operasi kontra-terorisme.
"Opini publik sebagian besar tidak menyadari implikasi serius dari rencana perang yang bisa berpotensi mengarahkan umat manusia ke dalam skenario Perang Dunia III," ia mengingatkan.
Pemerintahan Obama menyatakan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad berada di balik serangan senjata kimia yang mematikan baru-baru ini di pinggiran kota Damaskus, meskipun tidak ada bukti keterkaitan serangan itu yang mengarah kepada pasukan pemerintah. Gedung Putih bersiap-siap untuk serangan militer terhadap sasaran Suriah.
Mengutip laporan Los Angeles Times pada Agustus 2012 lalu, Chossudovsky mengatakan persiapan "bendera palsu serangan senjata kimia" di Suriah dimulai lebih dari satu tahun yang lalu ketika Pentagon mengirim "tim kecil pasukan operasi khusus" ke negara Arab itu untuk menghancurkan dugaan senjata pemusnah massal.
"Awalnya AS mensponsori operasi tim khusus senjata pemusnah massal dengan membentuk skenario besar untuk membuat konspirasi serangan senjata kimia."
"Perencana militer AS, NATO dan Israel meletakkan dasar misi "kemanusiaan" untuk keterlibatan militer di Suriah selama bertahun-tahun."
Dia menegaskan bahwa AS dan sekutu regionalnya, yaitu Israel, Arab Saudi dan Qatar, telah mensponsori dan mempersenjatai kelompok militan di Suriah, beberapa di antaranya bertanggung jawab atas serangan teroris yang mengerikan terhadap penduduk sipil, Sebagai "peristiwa yang memakan korban warga sipil secara massal" sehingga memainkan peranan penting dalam doktrin militer AS.
"Korban sipil dipicu dengan maksud untuk menggalang dukungan publik untuk berperang dengan alasan misi kemanusiaan."
"MI6, CIA dan Mossad serta Pasukan Khusus Barat telah terintegrasi dengan pasukan pemberontak sejak awal. Tingginya profil serangan teroris dikoordinasi oleh kontraktor militer yang sangat terlatih dan operasi intelijen, "tambah profesor.
Komponen "terpadu" lain dari agenda militer AS adalah "eskalasi", menurut Chossudovsky.
"Apakah operasi militer AS-NATO yang akan diluncurkan terhadap Suriah, semakin meluas di wilayah Timur Tengah Asia Tengah membentang dari Afrika Utara dan Mediterania Timur sampai perbatasan Afghanistan-Pakistan dengan China akan tenggelam dalam kekacauan perang regional jangka panjang."
Chossudovsky berpendapat bahwa Israel dan Turki juga akan bekerja sama dengan AS baik dalam kampanye serangan udara dan pengerahan pasukan darat.
Professor itu mengingatkan bahwa serangan militer pimpinan AS terhadap Suriah akan berakibat serius di belahan dunia lain terutama Asia Tenggara dan Timur Jauh di mana AS melawan Cina dan Rusia sebagai bagian dari strategi "poros Asia". | AT | Z
