Aceh Timur | acehtraffic.com - Penyakit Tuberkulosi (TB) masih
menjadi persoalan di Indonesia.Penderita dan suspect TB masih sering ditemukan
di masyarakat, salah satunya di wilayah Kebupaten Aceh Timur. Minggu 22
September 2013
Sejak tahun 2008 sampai sekarang Yayasan Sheep
Indonesia menemukan puluhan kasus penderita penyakit TB di wilayah tersebut.
Bahkan sampai saat ini Puskesmas kecamatan Nurusalam, Kabupaten Aceh Timur,
masih sering menemukan masyarakat yang menderita TB. Demikian ucap Kristina,
Kordinator bidang kesehatan Yayasan Sheep Indonesia Sekretariat wilayah Aceh
Timur dan Aceh Tamiang.
“ Dalam lima tahun terakhir Yayasan Sheep
mendampingi 45 penderita TB di kabupaten Aceh Timur,” ucap Kristina.
Salah satu sebab tingginya angkat penyebaran
penyakit TB tersebut karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit
ini. Selain itu, masih rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap
penyakit TB membuat penderitanya tertutup dan malu untuk pergi berobat. Tidak
hanya penderita TB pada orang dewasa, beberapa kasus TB juga ditemukan pada
anak-anak.
“ Penderita TB pada orang dewasa mudah
diindetifikasi tetapi penderita TB pada anak-anak sering luput dari perhatian,”
ungkap Kristina.
Melihat kondisi tersebut Yayasan Sheep Indonesia
melakukan pendampingan terhadap penderita TB. Mulai dari melakukan
indentifikasi terhadap warga yang dicurigai menderita TB, lalu membantu
mendampingi pemeriksaan di Puskesmas sampai mendampingi penderita TB untuk
mengikuti proses penyembuhan selama 6
bulan. Setelah itu masih didampingi juga pemeriksaan untuk memastikan apakah
sudah benar bebas TB atau gagal pengobatan.
Selain pendampingan, melalui program kesehatan
masyarakat Yayasan Sheep Indonesia bekerjasama dengan pihak Puskesmas Kecamatan
Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur, baru-baru ini melakukan training peningkatan
kapasitas kepada 45 orang warga yang tergabung dalam Komunitas Peduli TB (KPT).
Komunitas Peduli TB ini adalah kumpulan orang-orang
yang memiliki kepedulian terhadap penyakit TB. “ KPT atau Komunitas Peduli TB
dibentuk pada Desember 2012 lalu, mereka adalah para penderita TB dan
keluarganya, mantan penderita TB, relawan kesehatan desa dan warga desa,”
ungkap Kristina.
Training yang dilakukan 3 hari lalu (19/9) di hotel
Diah Langsa, menyampaikan materi tentang Bagaimana penanganan dan pencegahan
penyakit TB pada orang dewasa dan anak. Dalam sesi diskusi para bidan desa,
relawan kesehatan desa dan anggota KPT saling berbagi pengalaman untuk
mendapatkan solusi dari kendala-kendala yang dihadapi selama melakukan tugas
sebagai komunitas peduli TB.
Nurma, salah
seorang mantan penderita TB mengatakan
training ini sangat membantu dirinya menemukan ilmu pengetahuan baru sehingga dapat memberitahukan kepada
keluarganya agar dapat mencegah penularan TB kepada orang lain.
“ Pengetahuan yang saya dapat dari training ini akan
saya sampaikan kepada adik dan teman agar dapat mencegah penularan penyakit
TB,” ungkap Nurma.
Seorang penderita TB, Nurdin mengungkapkan Training ini membantu
dirinya untuk lebih berani berbicara dan mengakui tentang penyakit yang
dideritanya.
Heri Sasmito Wibowo, Area manajer Yayasan SHEEP
Indonesia wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Timur, mengatakan penyakit TB merupakan
salah satu penyakit yang mematikan karenanya harus menjadi perhatian yang
serius dari seluruh masyarakat. Tidak hanya bagi petugas, penderita TB dan
keluarganya.
Dari kegitan ini diharapkan, Informasi tentang TB
semakin diketahui masyarakat. Sehingga penanganan yang tepat serta pencegahan
dapat dilakukan. Keberadaan KPT sebagai sebuah komunitas yang memiliki
kepedulian terhadap penyebaran penyakit TB dapat diketahui oleh banyak pihak
sehingga memudahkan dalam proses kerjasama dalam penanganan penyakit TB.
Pada training ini juga menghadirkan pemateri dr.
Sasilia Daniel, MKT (Magister Kesehatan Penyakit Tropis ). dr. H. Safrirrudin,
MM dan bapak Abdullah Kasie Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Aceh
Timur. | AT | RD | IV|

