
Banda Aceh | acehtraffic.com - Pasca gempa dan tsunami Aceh 2004, sangat banyak
infrastruktur yang dibangun dari dana bantuan, baik dari LSM Nasional maupun
internasional. Seluruh sarana dan prasarana tersebut pada dasarnya dibangun
untuk memulihkan kehidupan masyarakat, bahkan tidak sedikit pula
sarana/prasarana yang dibangun baru itu justru belum ada sebelum gempa/tsunami.
Minggu, 3 Agustus 2013.
Menurut informasi yang diperoleh dari American Red Cross Aceh, Rabu
31 Agustus 2013, lalu, salah satu bentuk prasarana yang dibangun untuk
masyarakat adalah jaringan air bersih di desa-desa. Paling sedikit terdapat
delapan Badan Air dan Sanitasi Gampong yang ada di Aceh, yang merupakan
bentukan swadaya masyarakat yang bertugas layaknya seperti PDAM, hanya posisi
mereka berada di desa.
![]() |
| Reservoir Gampong Ladong Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar |
Jika menilik aktivitasnya, badan-badan air tersebut layaknya
memang seperti sebuah lembaga layanan publik yang professional. Contohnya
adalah Perkumpulan Mata Ie Alue Pochiek yang berada di Kecamatan Masjid Raya,
Kabupaten Aceh Besar.
Badan Air ini melayani delapan desa, yaitu Ladong, Ruyung, Paya
Kameng, Beurandeh, Meunasah Kulam, Meunasah Keudeu, Meunasah Mon, dan Lamreh.
Jaringan air bersih yang dibangun oleh American RedCross ini
terdiri dari intake air bersih yang
merupakan mata air dengan bangunan penampung air, bak penampung atau reservoir untuk menampung air, sistem jaringan
perpipaan lengkap dengan instalasi pompa, pintu air, katup pengendalian, dan
lain-lain yang kemudian tersambung sampai ke rumah-rumah di delapan
desa tersebut.
![]() |
| Rumah Pompa_Di Gampong Ruyung Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar |
Sistem yang sama juga dijumpai di tujuh badan air dan sanitasi
di Kabupaten Aceh Jaya, yaitu Badan Air Ceuraceu Gleh di Desa Karang Atueh Kec
Indra Jaya, Badan Air Tirta Baruna di Desa Keude Unga Kec Indra Jaya, Badan Air
Makmeu Beusare Desa Pulo Raya Kec Sampoiniet, Badan Air Mata Ie Gunong Desa
Crakmong Kec Sampoiniet, Badan Air Lhok Kruet Desa Lgok Kruet Kec Sampoiniet,
Badan Air Jubet Desa Lhokglumpang Kec Setia Bakti, dan Badan Air Kuala
Dho/Alue Batak Desa Lhokglumpang Kec Setia Bakti.
Perkumpulan atau badan-badan air ini memiliki pengurus dan staf
teknis yang bertanggung-jawab mengoperasikan dan memelihara sistem
penyediaan air bersih di desa-desa.
![]() |
| Intake Jubet |
Masyarakat juga membayar retribusi, meskipun dalam jumlah
nominal yang jauh dari harga minimum standar regional air minum Provinsi Aceh
karena daya beli masyarakat desa yang masih rendah. Dengan kata lain,
perkumpulan air ini sesungguhnya masih mensubsidi masyarakat, padahal di sisi
lain revenue atau pendapatan
yang diperoleh dari masyarakat tersebut masih di bawah production cost air bersih per
liter.
Inilah kendala yang dihadapi oleh badan-badan air desa tersebut.
Upaya-upaya untuk memberdayakan badan-badan air ini, baik secara teknis dan
manajerial telah dan terus diupayakan pendampingannya oleh Palang Merah
Indonesia Wilayah Provinsi Aceh dan American Redcross Aceh, tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa dari sisi anggaran, badan-badan air ini masih memerlukan perhatian
yang serius dari Pemerintah Daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten
untuk menutupi kelemahan pendanaan yang dihadapi.
![]() |
| Badan Air Karang Ateuh - Keude Unga |
Untuk itu memang susungguhnya
Pemerintah Daerah Aceh baik di tingkat provinsi sampai ke kabupaten memiliki
peluang untuk “turun ke bawah” di dalam membantu badan-badan air tersebut.
Bantuan tersebut dapat diakses
melalui program pemerintah seperti Pamsimas yang berada di bawah koordinasi
Dinas Cipta Karya, atau melalui PDAM di kabupaten sebagai upaya perluasan
wilayah layanan sampai ke desa-desa. Karena jika tidak, kita akan melihat
kembali sebuah persoalan kesulitan air di suatu daerah yang sesungguhnya
memiliki sumber air yang melimpah. | AT | Mursal |




