acehtraffic.com-Gempa
gayo membuat semua orang berempati dan ingin melihat serta menolong. Sebut
saja namanya Benseh (36) dan tiga sahabatnya yang lain sebut
saja bernama Mat Usuf, Mae dan Maun. Dalam kelompok itu Benseh adalah
yang tertua secara umur.
Malam itu, mulut
Benseh terlihat terbuka tutup, matanya melihat kesana kemari, sembari
menjelaskan tentang apa yang dialami pengungsi Gempa. Benseh sangat berambisi
untuk melihat dan untuk berbuat sesuatu, namun yang membuatnya sengkak biaya
untuk menuju kesana hanya sedikit tersedia. Tentunya itu menjadi sumber
kebingungan.
Namun
tekat Benseh untuk mencapai lokasi bencana sudah bulat dengan modal cekak, ia
mempresentasikan kondisi pengungsi yang sedang cekak di hajar gempa, Benseh
terlupakan cekaknya yang sudah menuju sesak jika memikirkan bagaiamana ia
mewujudkan ke tanah Gayo.
Setelah
diskusi panjang, akhirnya Jumat 19 Juli 2013 sebuah mobil butut bergerak pelan menuju dataran
tinggi Gayo, Mat Usuf, Serta Mae dan Maun ikut didalamnya. Jalanan sedang dalam
perbaikan dikawasan Cot Ijo Bireuen dilumat pelan, beberapa tikungan di kawasan
Juli Bireuen terlihat sudah agak sepi karena aktivitas warga sudah terhenti
akibat malam sudah larut.
Lalu lintas mobil yang turun dan naik ke dataran tinggi Gayo terlihat dijalan, ada truk pengangkut sembako, banyak mobil pengangkut kelapa untuk dijajakan di pasar Takengon esok. .
Lalu lintas mobil yang turun dan naik ke dataran tinggi Gayo terlihat dijalan, ada truk pengangkut sembako, banyak mobil pengangkut kelapa untuk dijajakan di pasar Takengon esok. .
Mulai
dari kilo meter 17 semilir angin membuat tubuh mulai terasa dingin, tanjakan
kecil terlewatkan,kedepannya sejumlah perbukitan segera berhadapan, para sopir
harus hati-hati bila berpapasan dengan truk besar baik yang sedang mendaki atau
sedang turun. Karena sejumlah tempat harus menurunkan kecepatan laju
kenderaaan, bukan tidak mungkin didaerah tersebut lonsor dan tanahnya sudah
retak.
Jelang
pagi mobil yang membawa 4 para penolong itu sampai di sekitar lokasi. Karena
masih malam, mereka memilih menghabiskan waktu di kawasan Lampahan, baru
paginya dengan tumpukan bantuan menyisir lokasi para pengungsi.
Benseh
telah membina koneksi dengan beberapa pihak untuk suatu tindakan menolong para
pengungsi gempa yang sedang membutuhkan pertolongan. Beberapa laporan kecil
dilaporkan dengan harapan sang jaringan segera mendapat sang Funder yang dapat
mendukung kegiatan beerdasarkan assessment
tersebut.
Matahari
menyingsing dari balik perbukitan, pertanda pagi sudah tiba. Empat sekawan melanjutkan
perjalanan ke lokasi, mobil butut yang membawa mereka sudah mengeluarkan asap
putih lewat knalpot, pertanda mesin sudah dinyalakan. Pemanasan sedang terjadi
dalamnya.
Setelah
semua naik, mereka pun berangkat, tak seberapa jauh mereka memutar ke salah
satu kecamatan yang terkena ekses gempa. Disana terlihat pemukiman penduduk
terletak di punggung bukit yang disisi kiri dan kanannya di penuhi kebun kopi
dan sesekali terlihat pohon Alfokat.
Satu
tanjakan tinggi dan lonsoran didepan membuat perjalanan empat sang penolong itu
sedikit ngeri, apalagi ada sebuah truk sedang turun dari arah berlawanan.
Benseh dibalik kemudi kelihatan kelabakan mengendalikan setior dijalan sempit
itu. Krok..krokkk mobil terperosok sedikit ke paret jalan. Truk terlewatkan. Benseh
dengan tenang melumat satu tanjakan lagi yang juga lumayam menantang.
Mulaiah
terlihat rumah rumah telah hancur, sejumlah tenda berjejer, sekilas terlihat
ini seperti pemukiman penduduk belum
jadi, didalam permainan rumah-rumahan anak-anak. Warga terlihat memandangi
reruntuhan itu, dan ada juga yang sedang mengumpulkan kayu sisa, dan mengambil
barang dibalik reruntuhan untuk kumpulkan dengan rapi.
Setelah
sekitar 30 menit perjalanan sampailah di tempat yang di tuju, Benseh berdiskusi
dengan empat sahabat yang lain, tentang kemana bantuan tersebut
didistribusikan. Dengan pertanyaan dan jawabanntya sendiri akhirnya Benseh
memutuskan untuk memberikan bantuan tersebut ke salah satu posko desa.
Benseh
dan kawan-kawan bercerita di posko itu, tidak berlama-lama disana, mereka pun
pamit kembali. Tentunya Benseh dan empat
kawannya mendapatkan sedikit informasi dari berbagai keterangan warga dan para
kepala desa itu.
Dan
itu menjadi catatan penting bagi Benseh, bukan tidak mungkin dari informasi
itulah, dapat direncanakan pertolongan, bila,kemudian rencana tersebut disambut
oleh sejumlah penolong gempa yang memiliki dana yang cukup.
Baru
sebentar disana sebuah informasi lain masuk ke Benseh, pikiran Benseh sedikit
galau, apa yang baik ? ini atau itu. Namun setelah dianalisa, keputusan itu
harus dikerjakan. Dan keyakinan itu juga didukung dengan masih perlunya sejumlah bantuan guna
menolong para pengungsi disana.
Dalam
posisi itu seakan Benseh bertenaga baja, ia segera merespon informasi tersebut, dengan kotak-katik perjalanan, seakan bagani dan bagatu akan secepat kilat terjadi.
Kemudian dengan mobil butut mereka berlayar dalam kegelapan malam untuk tujuan 200 kilo meter. Benseh, Mat Usuf, serta Mae dan Maun sudah sangat lelah, namun tetap dipaksakan, akhirnya jelang pagi mobil itu mendarat di kota tujuan.Mata Benseh terlihat ngantuk, begitu juga dengan Mat Usuf, Maun dan Maee juga sama.
Terserah pertimbangan atau alasan serta ada analisa lain, memang kepulangan itu– Benseh sang relawan, - terlihat sangat Galau | TIM acehtraffic.com |
Kemudian dengan mobil butut mereka berlayar dalam kegelapan malam untuk tujuan 200 kilo meter. Benseh, Mat Usuf, serta Mae dan Maun sudah sangat lelah, namun tetap dipaksakan, akhirnya jelang pagi mobil itu mendarat di kota tujuan.Mata Benseh terlihat ngantuk, begitu juga dengan Mat Usuf, Maun dan Maee juga sama.
Terserah pertimbangan atau alasan serta ada analisa lain, memang kepulangan itu– Benseh sang relawan, - terlihat sangat Galau | TIM acehtraffic.com |
