Jakarta | acehtraffic.com – Usai bentrok dengan warga Kendal,
Jawa Tengah, banyak pihak meminta agar organisasi masyarakat Front Pembela
Islam (FPI) dibubarkan. Organisasi ini dinilai kerap melakukan aksi kekerasan
terhadap warga.
Terkait desakan pembubaran itu, Ketua DPP FPI bidang Dakwah
sekaligus juru bicara FPI, Habib Muhsin Alattas mengatakan bahwa, bagi
pihak-pihak yang berharap FPI dibubarkan tak perlu risau.
"FPI akan bubar sendiri jika hukum ditegakkan dengan
baik oleh aparat dan pejabat negara," ujar Habib Muhsin Alattas dalam
keterangan pers.
Muhsin juga menyesali sikap media massa terhadap FPI. Dia
mengatakan FPI tidak perlu pembelaan dari media, yang dibutuhkan FPI hanya
pemberitaan yang berimbang dan apa adanya.
Menurutnya, tidak ada media yang menyebut bahwa FPI justru
yang diserang terlebih dulu oleh kelompok preman bayaran bos-bos judi. Selain
itu, kata dia, FPI juga bukan bentrok dengan warga, melainkan dengan preman
bayaran.
"Jangan hanya menyudutkan FPI dan menyuarakan berita
sepihak tanpa mendengar paparan dari pihak FPI," katanya.

Muhsin menegaskan, tujuan utama FPI selama ini adalah
melakukan kegiatan untuk membersihkan penyakit masyarakat yang sudah sangat
jauh merusak moral bangsa ini.
Bentrok terjadi antara puluhan anggota FPI dengan warga
Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah meletup Kamis 18 Juli 2013. Satu orang pengendara
sepeda motor tewas tertabrak mobil yang ditumpangi anggota FPI.
Selain korban tewas, dalam bentrokan itu sedikitnya satu
mobil yang ditumpangi rombongan FPI ludes dibakar massa, tiga mobil FPI lainnya
dirusak.
Rombongan FPI gabungan dari Kendal, Temanggung, dan Kabupaten
Semarang itu baru saja melakukan pawai di lokasi prostitusi dan judi togel di
Kota Sukorejo. Sehari sebelumnya, FPI juga merazia lokasi prostitusi di
Sukorejo.
Warga setempat kesal atas ulah anggota FPI yang melakukan
sweeping di wilayah mereka. Tindakan FPI dinilai menyinggung warga Sukorejo
karena dianggap main hakim sendiri. Apalagi para anggota FPI bukanlah warga setempat.

Sementara itu, ditengah kecamatan untuk FPI, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono sempat juga menyindir pelaku razia kemaksiatan dan kekerasan
agama. Saat menerima kunjungan pimpinan universitas Islam se Indonesia di
Istana Negara, Jakarta, Selasa 23 Juli, Presiden mengatakan kekerasan dan
perusakan yang dilakukan kelompok tertentu tak cuma merugikan Indonesia, tapi
juga negara lain.
SBY mengisahkan, saat ada kunjungan pimpunan Timur Tengah ke
Indonesia, dan ditemui Menteri Agama yang saat itu belum dijabat Suryadharma
Ali. Berbekal pengalamannya menonton televisi, utusan itu bertanya, "Apa
tujuan kelompok yang melakukan kekerasan itu?"
"Barangkali menertibkan (tempat maksiat)," kata
Menteri Agama. "Tidak boleh lah itu dilakukan dengan kekerasan,"
katanya. Sedangkan Menag hanya tersenyum.
"Begini, itu merugikan dua hal. Satu merugikan Islam,
karena Islam tidak (keras) begitu, dan kedua merugikan Arab, karena mereka
menggunakan pakaian Arab."

Tentu saja, mendengar kisah SBY ini semua pimpinan
universitas Islam tertawa. "Ini true story," kata SBY.
Dalam sambutannya itu, Presiden mengapresiasi seluruh pihak
yang telah berusaha menjaga kerukunan beragama. Sebab, kata dia, kerukunan umat
di Indonesia sudah jadi model contoh negara-negara lain di dunia.
Presiden mengatakan,
kerukunan beragama sulit terwujud tanpa kerjasama seluruh elemen
masyarakat. Hal itu terbukti di beberapa negara yang selalu terjadi konflik
antarkelompok. "Selama 9 tahun memimpin negeri ini di berbagai forum
mengatakan Indonesia bisa jadi model kehidupan berbangsa yang mayoritas Islam,"
katanya.
Sebelumnya aksi sweeping dan main hakim sendiri dilakukan
Front Pembela Islam di kawasan prostitusi Alas Karet, Sukorejo, Kendal. Namun,
karena warga melawan, aksi ini berujung benntrok. | AT | I | Vivanews.co.id | Foto: Andika Wahyu | Karikatur: Inilah.com |
