acehtraffic.com | suara warga - Sekarang ini zaman globalisasi, remaja harus diselamatkan
dari globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak
kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk, sementara tidak cocok dengan
kebudayaan kita.
Sebagai contoh
kebudayaan kita. Pada saat ini ,kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat
yang mengkuatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis, tidak
jarang di jumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling
berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Mereka sudah mengenal pacaran sejak awal masa remaja. Pacar,
bagi mereka merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya,
dikalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan
di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar
lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada
kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya.
Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter
tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras,
mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain, yang dapat menyebabkan
terjangkitnya suatu penyakit misalnya HIV/AIDS.
Kita tentu tahu bahwa pergaulan bebas itu adalah salah satu
bentuk perilaku menyimpang, yang mana “bebas” yang di maksud adalah melewati
batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita
dengar dilingkungan maupun dimedia massa.
Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak
terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan,
pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin
berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa.
Sedangkan remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke
dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia
antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
Seorang remaja seudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak ,namun
masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari
pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui
metodecoba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran
serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tuanya.
Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah
sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya ,di
jaman ini banyak remaja ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh
karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang
idealisme dan kenyataan.
Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering
tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan.
Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran
sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya .
Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya kaget mendengar
pemberitaan tentang Kota Lhokseumawe menduduki peringkat satu dalam kasus seks
bebas di kalangan pelajar. Senin 18 Februari 2013. Dalam kasus ini kita dapat
melihat kenakalan remaja yang semakin meningkat khususnya di kota Lhokseumawe
yang dikenal dengan serambi mekahnya. (acehtraffic.com diaksek pada tanggal 23/4)
Berikut ini di antara maraknya pergaulan bebas di indonesia
termasuk kota Lhokseumawe :
1. Sikap mental
yang tidak sehat
2. Pelampiasan
rasa kecewa
3. Kegagalan
remaja menyerap norma
Pergaulan bebas ini identik sekali dengan yang namanya
“dugem” (duniagemerlap) yang sudah menjadi rahasia umum seperti yang terjadi di
Pulau Semadu aceh utara. Bahwa di dalamnya marak sekali pelaku-pelaku seks.
Yang akhirnya berujung kepada HIV/AIDS, dan penyakit lainnya. Dan pastinya
setelah terkena virus ini kehidupan remaja akan menjadi sangat timpang dari
segala segi.
Solusi untuk menyelesaikan masalah pergaulan bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan
kepada Tuhan YME, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal
yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya.
Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’
tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya
dilakukan. Selian dari pada solusi diatas masih banyak solusi lainnya.
Solusi-solusi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki
cara pandang
Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan
hidup dalam “kenyataan”, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar
tidak memiliki angan-angan
yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan
kekecewaan mereka akan mampu menanggapi dengan positif.
2. Menjaga
keseimbangan pola hidup
Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola
waktu, emosi, energi serta pikiran
dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari- hari serta mengisi waktu luang dengan
kegiatan positif.
3. Jujur pada
diri sendiri
Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang
terbaik untuk diri masing-masing sehingga pergaulan bebas tersebut dapat
dihindari.
4. Memperbaiki
cara berkomunikasi
Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga
terbina hubungan baik dengan
masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita mulai dengan komunikasi
yang baik dengan orang-orang di sekeliling
kita.
5. Perlunya
Remaja Berpikir Untuk Masa Depan
Jaranya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja
mampu menanamkan pertanyaan “apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika
saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik
?”, kemudian hal itu diiringi dengan
tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja.
Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk
melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yanh terkena
HIV & AIDS nantinya.
Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari
mkhluk manusia sebab manusia adalah mkhluk sosial yang dalam kesehariannya
membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu
pergaulan (interpersonal relationship)
Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus
dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak boleh dibatasi dalam pergaulan,
apalagi dengan melakukan disktiminasi, sebab hal itu melanggar HAM.
Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap
mematuhi norma hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermasyarakat.
Jadi, kalau secara medis kalau bergaul bebas namun teratur atau terbatasi
aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan
akses-akses seperti saat ini .
Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat
menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan
agama daan norma yang berlaku di dalam masyarakat serta dituntut peran serta
orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari anaknya,
memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks yang benar. Oleh sebab
itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangasa tanpa terkecuali.
Usaha untuk pencegahan sudah semestinya terus dilakukan
untuk menyelamatkan generasi muda kita. Agar lebih bermoral,agar lebih bisa
diandalkan untuk kebaikan negara kedepan. []
Penulis adalah Sutrisnawati Nababan pelajar tinggal di Batu
Phat Lhokseumawe
