Jakarta | Acehtraffic.com - Seiring dengan ketenarannya, obat kuat ternyata memang banyak dicari kaum pria untuk meningkatkan kemampuannya di atas ranjang. Sayangnya, kepopuleran obat ini membuat oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk memalsukan demi mereguk keuntungan pribadi.
"Kenapa obat kuat paling sering dipalsukan? Karena harganya cukup tinggi tapi pasien mau bayar mahal. Kalau pasien punya disfungsi ereksi, mereka malu untuk bertemu dengan dokter," terang DR Melva Louisa, SSi, M.Biomed dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.
Hal itu dikemukakan Melva dalam acara Konferensi Pers mengenai 'Risiko dan Dampak Zat Berbahaya Pada Obat Palsu Terhadap Kesehatan' serta pemaparan hasil penelitian 'Victory Project' yang diselenggarakan oleh PT Pfizer dan RSCM - FKUI di Ruang Kenari, Jakarta Convention Center, Kamis (2/5/2013).
Hasil penelitian tahun 2011 - 2012 bertajuk 'Victory Project' yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menemukan bahwa 100 persen sampel obat kuat Sildenafil yang dijual di pinggir jalan ternyata adalah palsu. Tak hanya di Indonesia saja, ternyata sejarah pemalsuan obat kuat banyak terjadi di berbagai negara di dunia.
Melva menerangkan, pada tangal 31 Maret 2012, WHO mengumumkan bahwa obat palsu ditemukan di 105 negara di dunia. Sedangkan obat yang paling banyak dipalsukan di Eropa adalah obat bernama PDE‐5 inhibitor atau akrab dengan sebutan Sildenafil. Obat ini merupakan obat kuat yang paling terkenal di dunia.
Di Indonesia, Sildenafil diproduksi oleh Pfizer dan dijual dengan nama dagang 'Viagra' atau lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan pil biru. Selain sildenafil, ada juga berbagai macam obat kuat yang mengandung bahan aktif berbeda, misalnya Tadalafil dan Vardenafil.
"Sekitar 35.800.000 tablet sildenafil palsu disita di Uni Eropa pada tahun 2004 sampai 2008. Bahkan diperkirakan pengguna sildenafil yang asli dan yang palsu prosentasenya sama di Uni Eropa pada tahun 2006, yaitu sekitar 2,5 juta jiwa," terang Melva.
Setelah diteliti, ternyata kandungan dalam Sildenafil palsu tersebut berisi bahan-bahan berbahaya seperti tinta biru, amfetamin, antibiotik, parasetamol, bahan pengikat, kafein, laktosa hingga bedak talek. Yang lebih parah, sempat ditemukan kasus SIldenafil palsu yang diisi dengan obat diabetes.
Akibat obat diabetes yang dicampur obat kuat, sebanyak 144 orang di Hong Kong pernah menjadi korban pada tahun 2009 lalu. Sebanyak 3 orang di antaranya meninggal, 1 orang mengalami koma dan 1 menderita gangguan kognitif. Di Singapura, kasus yang sama terjadi di tahun 2008 memakan 150 orang korban. Sebanyak 7 orang di antaranya mengalami koma dan 4 orang meninggal.| AT | M | DT |
"Kenapa obat kuat paling sering dipalsukan? Karena harganya cukup tinggi tapi pasien mau bayar mahal. Kalau pasien punya disfungsi ereksi, mereka malu untuk bertemu dengan dokter," terang DR Melva Louisa, SSi, M.Biomed dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.
Hal itu dikemukakan Melva dalam acara Konferensi Pers mengenai 'Risiko dan Dampak Zat Berbahaya Pada Obat Palsu Terhadap Kesehatan' serta pemaparan hasil penelitian 'Victory Project' yang diselenggarakan oleh PT Pfizer dan RSCM - FKUI di Ruang Kenari, Jakarta Convention Center, Kamis (2/5/2013).
Hasil penelitian tahun 2011 - 2012 bertajuk 'Victory Project' yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menemukan bahwa 100 persen sampel obat kuat Sildenafil yang dijual di pinggir jalan ternyata adalah palsu. Tak hanya di Indonesia saja, ternyata sejarah pemalsuan obat kuat banyak terjadi di berbagai negara di dunia.
Melva menerangkan, pada tangal 31 Maret 2012, WHO mengumumkan bahwa obat palsu ditemukan di 105 negara di dunia. Sedangkan obat yang paling banyak dipalsukan di Eropa adalah obat bernama PDE‐5 inhibitor atau akrab dengan sebutan Sildenafil. Obat ini merupakan obat kuat yang paling terkenal di dunia.
Di Indonesia, Sildenafil diproduksi oleh Pfizer dan dijual dengan nama dagang 'Viagra' atau lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan pil biru. Selain sildenafil, ada juga berbagai macam obat kuat yang mengandung bahan aktif berbeda, misalnya Tadalafil dan Vardenafil.
"Sekitar 35.800.000 tablet sildenafil palsu disita di Uni Eropa pada tahun 2004 sampai 2008. Bahkan diperkirakan pengguna sildenafil yang asli dan yang palsu prosentasenya sama di Uni Eropa pada tahun 2006, yaitu sekitar 2,5 juta jiwa," terang Melva.
Setelah diteliti, ternyata kandungan dalam Sildenafil palsu tersebut berisi bahan-bahan berbahaya seperti tinta biru, amfetamin, antibiotik, parasetamol, bahan pengikat, kafein, laktosa hingga bedak talek. Yang lebih parah, sempat ditemukan kasus SIldenafil palsu yang diisi dengan obat diabetes.
Akibat obat diabetes yang dicampur obat kuat, sebanyak 144 orang di Hong Kong pernah menjadi korban pada tahun 2009 lalu. Sebanyak 3 orang di antaranya meninggal, 1 orang mengalami koma dan 1 menderita gangguan kognitif. Di Singapura, kasus yang sama terjadi di tahun 2008 memakan 150 orang korban. Sebanyak 7 orang di antaranya mengalami koma dan 4 orang meninggal.| AT | M | DT |

