
Aceh
yang sering dipuji dengan sebuah daerah yang kaya raya, dan sepintas banyak
masyarakat yang meyakininya, walau terkadang dikala detik dan waktu ketika
mereka meyakini hal tersebut, sedang
menipu diri sendiri dan dan membenam bisikan hatinya, bahwa ia sedang
bermasalah dengan baju anaknya, susu bayinya, dan bahan makanan di dapur untuk, dimasak.
Diskusi
malam di warung-warung desa sering terdengar berkoar soal ini, dengan tarikan
suara yang keras dan menyiapkan tenaga
terus membuka mulut dan bercerita serta berdebat bahwa kita adalah
makluk yang hebat dan terhormat di tanah ini.
Baju
yang lusuh, kaki yang kusam, tertinggalkan ditengah semangat kegarangan, demi
menyeimbangi debat untuk berbagi serta berusaha untuk agar menemukan satu
persepsi, bahwa kita adalah orang yang hebat dan sejahtera.
Jam
pun sudah larut, mata mulai melayu,
semua sebutkanlah panganut keyakinan hebat dan sejahtera adalah penghuni
tanah ini. Satu persatu berangkat pulang, Si A mengambil Astrea Grand tahun
2001, Si B mengambil sepeda motor butut astute tahun 1976, dan si C mengambil
sepeda phonix warisan orang tuanya. Sementara
Si D harus menumpang sama si C, karena hanya memiliki kenderaan dasar
pemberian Allah SWT yaitu kaki. Dia tidak memiliki kenderaan zaman kekinian.
Rantai
sepeda berputar, bannya berguling pelan melumat jalan berbatu tampa aspas,
keretak keretuk suarnya sepedanya, krak
sekali berbunyi. Si D agak terkejut.
Dengan cepat di tepis si C , tidak masalah, tempat duduk hampir patah.
Sepeda
itu sudah kritis, mungkin saja jika dokter dari Amirika lihat, mereka justru
sangat khawatir, karena kondisi sepeda bakal menjadi petaka bagi pemakainya.
Pasalnya karatan sangat riskan menusuk tuannya hingga kemudian mengakibatkan
terserang tetanus.
Namun
kehangatan diskusi, membuat kedua manusia itu tidak merasakan itu, tapi bagi
sepeda terasa begitu berat dengan kondisnya yang sudah kronis mengangkut dua
manusia yang sedang mematok harapan.
,”Kita
ini pelan-pelan, ini sudah kuasai semua, itu sudah, yang ini sedang diperjuangkan,
pokoknya kita tidak lama lagi,” tidak lama lagi yang di maksud adalah puncak
keyakinan yang di yakinkan bersama antara kedua manusia itu.
Si
D sudah tiba, pagar rumahnya sudah nampak, “ saya disini saja” sepeda yang
dikenderai Si C berhenti. Kala itulah, mereka saling mengerti, “ Apa ada duit
5000 ? untuk jajan anak sekolah besok?...Oma ngak ada 5000, 2000 ada,” Boleh
juga jawab si D yang terlihat juga sedang sekarat.
Ia
berlalu, Si C terus mengayu sepeda yang tidak lama lagi sampai juga dirumahnya.
Sementara Si D melanjutkan jalan kaki yang sebentar lagi sampai di pintu
rumahnya.
Dalam
perjalanan dari pintu pagar ke pintu rumah, pikirannya kembali bersemangat
untuk menyusun, dan membayangkan sebuah kesejahteraan yang didiskusikan tadi
bersama si C. “Kata tidak lama lagi menjadi patok keyakinan”
“
Keyakinan tidak lama lagi yang dianut si C dan D bukanlah baru kemarin, sejak
tahun 80-an ia sudah masuk dalam keyakinan itu. Bila dihitung saat ini kira
30an tahun sudah berjalan dan memutar mutar dalam jiwa dan raganya.
Hingga
titik 30an tahun keyakinan itu pun belum pudar, malah selalu ada “tidak lama
lagi yang baru” bahasa kren “tidak lama lagi news version” tentunya yang punya
terbaru dengan modis rapi, dan dengan sedikit pembaruan.
Sementara
kawan, sahabat dan saudara Si C dan Si D yang lebih duluan meyakini “tidak lama lagi, banyak juga yang benar,
karena tidak lama setelah keyakinan itu dilekatkan didalam keyakinannya, Allah
pun mengambilnya, kalau jistilah yang lebih mudah di pahami adalah “ Ia telah
berpulang”
Drama
keyakinan yang beredar dan termainkan serta dimainkan mengalahkan akal sehat
dan logika nyata, sehingga walaupun
kehidupan sudah meugab-gab dan terancam punah, tidak lama lagi, duduk terpisah dengan kesekaratan yang sedang
dialami.
Se-akan
dikala kesekaratan kehidupan tersebut “ Tidak lama lagi” tidak mau dilibatkan,
agar ia tidak bersalah. Justru yang semakin diyakini bila -- ketika sampai waktu " tidak lama lagi
itu, justru bakal menjadi solusi atas semua kesekaratan sekarang. Itu lah
kira-kira ilustrasi keyakinan itu.
Kini
Si D dan Si C berhadapan dengan fenomena baru dari sebuah keyakinannya itu,
dimana hingga duduk musyawarah dan hingga saat ini, belum sampai juga patok
kesejahteraan. Tapi lagi lagi “ Tidak lama lagi “ memberi solusi untuk
keyakinannya.
Dikala
tolak tarik tentang selembar kain, dan belum keputusannya. Si D dan Si C
mendapat pasokan keyakinan baru, juga tidak terlepas dari “ Kata Tidak lama
Lagi” kira kira beginilah bahasanya “ Setelah itu selesai, sekian persen jelas
untuk kita, dan kita langsung sejahtera dengan pendapatan jelas”
Tidak
penting siapa dan pada tingkat mana pengetahuan yang bicarakan informasi
begituan, namun bagi Si C dan Si D itu adalah oli yang penting agar roda
keyakinannya tidak lama lagi tidak bosan berputar.
Si
D dan Si C pun seperyi mendapat judul baru untuk didiskusi mereka berdua, ia pun seakan melupakan perut keroncong,
bibir panas dalam, baju yang semakin pudar terus mengayuh sepeda tua itu.
Nah
tibalah pada malam berikutnya, Si C dan Si D pulang dari pasar, dilorong desa,
sebuah lampu besar menyinari mata mereka. Si C berucap, “Oma raya that lampu motonyan, nyan matonya
leupi na AC wate Tae k,” Sebut Si D.
Tidak
lain, sipemilik mobil itu adalah juga satu keyakinan dengan mereka. Namun satu
keyakinan yang sama tidak mesti memiliki kehidupan yang sama. Jangan kan mendekati bau sama aja kagak ada, itulah yang terjadi;
Karena
untuk Si C dan Si D masih harus menunggu tahapan yang tidak lama
lagi. “ Tidak lama lagi berpulang ke-rahmatullah atau tidak lama lagi menggapai
kesejahteraan..? Pertanyaan ini yang belum ada jawaban sama Si C dan Si D [*]

