News Update :

Bendera Aceh Versus Kemelaratan Ekonomi

Minggu, 21 April 2013


Selama beberapa pekan ini, di Provinsi Aceh sedang marak-maraknya dengan Bendera Aceh. Setelah Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mengesahkan Rancangan Qanun Bendera dan Lambang Aceh, pada hari Jumat 22 Maret 2013. Puluhan masyarakat di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh melakukan konvoi sambil membawa Bendera Bintang Bulan.

Seolah-olah masyarakat larut dengan euvoria ini, bukan hanya itu saja. Teriakkan “Merdeka” pun bergema di acara konvoi tersebut, dengan percaya dirinya para peserta konvoi bendera meneriakkan kalimat itu, sambil berkeliling kota.

Ada sebagian pihak menilai, bahwa dengan adanya bendera Aceh, maka marwah dan kedaulatan Aceh akan kembali lagi. Ibarat Aceh kembali meraih masa kejayaan, walaupun masa kejayaan itu tak seperti yang diagung-agungkan pada masa Kesultanan Aceh dulu.

Begitu juga dengan pihak lain, ada yang menilai Bendera Aceh tak terlalu penting. Hingga sebagai aksi tandingan, ada sebagian kelompok melakukan aksi konvoi bendera Merah Putih.

Bahkan ada juga yang membakar bendera Bintang Bulan dan haram untuk berkibar. Pembakaran terhadap bendera Bintang Bulan, bukan hanya dilakukan di Aceh saja, bahkan hal itu juga dilakukan di pulau Jawa.

Akibatnya, Pemerintah Pusat pun harus turun tanggan untuk menyelesaiakan persoalan ini. Karena Bendera Bintang Bulan dinilai melanggar PP 77 Tahun 2007 karena di Aceh tidak boleh berkibar bendera yang mirip dengan bendera Gerakan Aceh Merdeka atau separatis Aceh.

Bendera dan Lambang Aceh merupakan sebagai Amanah dari MoU Helsinki dan Undang-undang No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah Bendera Bintang Bulan itu penting? Mari kita bahas.

Bendera dan Lambang Aceh Tidak Penting

Menurut hemat saya, Bendara dan Lambang Aceh tidak penting sama sekali. bahkan dengan adanya Bendera dan Lambang Aceh dapat merusak kesatuan antara wilayah Kabupaten/Kota dan suku di Aceh. Sehingga nantinya akan terjadi konflik antar sesama masyarakat Aceh dan mengakibatkan pembangunan di Aceh menjadi terhambat.

Saat inui saja, benih-benih konflik itu sudah mulai terlihat. Coba bayangkan saja bagaimana masyarakat Gayo yang menentang keras Bendera dan Lambang Aceh, begitu juga dengan Masyarakat di Aceh Barat, Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang.

Lebih baiknya, saat ini Pemerintah Zaini – Muzakir untuk lebih fokus pada pembangunan Aceh, bukan fokus pada hal-hal yang tidak penting dan konyol. Coba bayangkan saja, angka kemiskinan di Aceh tahun 2012 mencapai mencapai 19,46 persen dan menempati posisi 29 dari 33 Provinsi di Indonesia.

Untuk tahun 2011, angka kemiskinan di Aceh mencapai 19,57 persen dan pada tahun 2010 mencapai 20,98 persen. Harus Zaini – Muzakir memikirkan bagaimana cara membuka lapangan kerja seluas-luasnya di Aceh, bukan justru yang utama di pikirkan bagaimana mengibarkan Bendera Aceh?

Yang harus kita akui saat ini adalah, pasca kekuasan di duduki oleh Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Mannaf. Kondisi ekonomi masyarakat Aceh  semakin carut marut, hampir diseluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh, masyarakat hidup dengan kondisi nyaris kelaparan. Dan akibatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tak sedikit “Dara Ceudah” (wanita cantik) Aceh yang terjerumus ke perbuatan terlarang,  menjual diri.

Akibat terbatasnya lapangan kerja, maka jalan pintas dianggap pantas. Jangan salahkan dan remehkan mereka yang menjual diri, karena sebenarnya mereka juga tak mau sama sekali untuk berbuat seperti itu. Namun karena tidak adanya  lapangan kerja membuat orang memilih pekerjaan yang tersedia walaupun pekerjaan itu dianggap hina dan bertentangan dengan syariah itu sendiri.

Selain itu beasiswa pemerintahan Aceh pun dihapuskan, begitu juga Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) sangat sedikit tercantum anggaran untuk pemberdayaan masyarakat.

Bahkan Pemerintahan Aceh yang saat ini dikuasai oleh Partai Aceh, lebih banyak mengalokasi untuk operasional Wali Nanggroe yaitu sebesar Rp. 40 miliar. Artinya untuk pemerintahan Zikir sudah bertambah satu porsi lagi pos anggaran yaitu untuk wali Nanggroe.

Adanya pos baru dan besaran anggaran untuk “Wali”, justru akan berdampak pada kehidupan para yatim piatu yang ditinggal mati orang tuanya. Maka tidak salah jika  ada Dara Ceudah Aceh yang terpaksa, baik dengan sadar maupun tidak sadar terlibat dalam praktik prustitusi terselubung, tidak lain karena alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Lupakan Saja Bendera Aceh

Kalau masyarakat lebih memikirkan pembangunan Aceh yang lebih baik, maka menurut hemat saya. Lupakan saja Bendera Aceh, karena masih banyak hal lain yang lebih penting dari Bendera dan Lambang Aceh.

Dengan kondisi yang saat ini, jelas lah Pemerintah Aceh gagal dalam memimpin Aceh. hal tersebut terbukti setelah posisi Gubernur diduduki oleh Zaini Abdullah, benih-benih konflik bermunculan di Aceh dan kemiskinan juga merajalela di Tanah Rencong ini.

Semoga saja kedepan ini, Aceh akan menjadi lebih baik dan bermartabat. Sehingga Aceh bisa dikenal di mata Nusantara ini, hingga masyarakat Aceh pun menjadi lebih sejahtera, bukan malah semakin terjepit. Semoga saja impian ini kesampaian. [*}

*Tulisan ini ditulis oleh  Novita Angraini, Masyarakat Aceh yang saat ini menempuh pendidikan di Jakarta.
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016