News Update :

Babak Baru Perundingan Nuklir Iran

Kamis, 04 April 2013

Acehtraffic.com - Babak baru perundingan antara Republik Islam Iran dan Kelompok 5+1 akan dimulai besok, Jumat 5 April 2013 di Almaty, Kazakhstan. Delegasi Iran yang dipimpin oleh Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional (SNSC) Saeed Jalili telah tiba di Almaty sejak hari Rabu.

Putaran sebelumnya juga digelar di Ibukota Kazakhstan pada tanggal 26-27 April dan kedua belah pihak sepakat untuk memulai babak baru setelah menyelesaikan perundingan tingkat pakar pada 25 April di Istanbul, Turki.

Perundingan Almaty dari beberapa dimensi berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Barat mulai berpaling dari beberapa tuntutan seperti diskusi terkait penutupan instalasi nuklir Fordo atau penghentian pengayaan uranium. Sebagai gantinya, mereka meminta Tehran untuk mengurangi intensitas kegiatan nuklirnya.

Mencermatu perubahan itu, Catherine Ashton, kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dan koordinator Kelompok 5+1, menyatakan optimis tentang hasil pembicaraan Jumat di Almaty, terutama mengenai program energi nuklir Iran. Sebelumnya, ia juga meminta para perunding Barat untuk memperluas interaksi dalam pembicaraan dengan Tehran.

Komentar itu mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di internal Kelompok 5+1 sendiri. Berbagai laporan juga menginformasikan terjadinya perbedaan di antara enam kekuatan utama dunia menyangkut program nuklir damai Iran.

Sikap Cina dan Rusia sepenuhnya berbeda dengan kebijakan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Jerman. Amerika dan sekutunya juga menerima tekanan dari beberapa negara berkembang seperti Brazil, India, dan Afrika Selatan. Mereka tidak suka dan dirugikan dengan sanksi sepihak Barat yang melarang impor minyak dan gas dari Republik Islam.

Para pengamat memperkirakan Cina dan Rusia akan menentang penerapan sanksi lebih lanjut jika perundingan di Kazakhstan berakhir gagal. Amerika mengklaim sanksi-sanksi tersebut bertujuan untuk mendesak Iran agar bersedia bekerjasama dan kembali ke meja perundingan. Padahal, Washington sendiri berkali-kali merusak perundingan konstruktif soal nuklir Tehran.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, langkah-langkah Barat dalam negosiasi dengan Iran harus bisa membangun kepercayaan dan optimisme. Jika tidak demikian, maka tidak menutup kemungkinan Amerika sesuai tradisinya akan menggunakan kanal diplomasi sebagai instrumen untuk meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam.

Meski demikian, perundingan Almaty dapat dikatakan sebagai sebuah awal yang positif. Namun hasil pastinya sangat tergantung pada keputusan-keputusan rasional sehingga mendorong kemajuan dan menghasilkan sikap saling percaya.

Barat sampai sekarang telah kehilangan banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan Iran. Oleh karena itu, jika Barat benar-benar tulus untuk berunding dengan Tehran, maka mereka perlu kiranya mengambil langkah-langkah positif yang disertai dengan pengakuan resmi atas hak nuklir Iran dan penghentian sanksi-sanksi ilegal.

Sanksi-sanksi tersebut bertentangan dengan norma-norma hak asasi manusia dan prinsip perdagangan global yang diadopsi oleh Amerika dan Barat, terlebih lagi sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan penyimpangan dalam program nuklir damai Iran.

Namun sayangnya, beberapa pihak yang terlibat perundingan mengabaikan fakta itu serta mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak logis dan keluar dari kerangka Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Langkah ini tentu saja akan merusak perundingan.

Iran menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai sebagaimana yang ditegaskan oleh NPT. Akan tetapi, Barat memanfaatkan isu nuklir Iran sebagai alasan untuk mengerahkan tekanan dan ancaman dengan tujuan mencegah Tehran memperoleh akses ke sumber energi handal.| AT | M | Irib |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016