Kuala
Lumpur | acehtraffic.com - Setelah dua pekan menduduki sebuah desa di Lahad
Datu, Sabah, Malaysia, kelompok yang mengaku mantan tentara Kesultanan Sulu
beradu senjata dengan polisi Malaysia. Begitu dilaporkan media TEMPO, Jum'at, 01 Maret 2013
Dua
polisi Malaysia dan 12 kelompok bersenjata Sulu, tewas. Perdana Menteri
Malaysia Najib Razak mengatakan kesabarannya sudah habis.
Persoalan
bermula ketika ratusan orang bersenjata pengikut Sultan Jamalul Kiram III dari
Kesultanan Sulu, Filipina Selatan mendarat di Lahad Datu, wilayah timur Sabah
Malaysia, sejak 11 Februari lalu.
Dipimpin
oleh Agbimuddin Kiram, adik Sultan, mereka menuntut pengakuan dan pembayaran
kompensasi dari pemerintah Malaysia. Menurut sejarah, Sabah yang sekarang
menjadi bagian Malaysia, merupakan wilayah Kesultanan Sulu yang disewakan ke
pemerintah kolonial Inggris.
Perdana
Menteri Najib, seperti dikutip kantor berita Bernama, mengakui adanya korban
jiwa polisi Malaysia. Dia juga mengatakan 10-12 warga Filipina tewas setelah
mereka berusaha menerobos pengepungan di Desa Tandou, Lahad Datu, Sabah, yang
mereka duduki selama lebih dari dua pekan.
Duta
besar Malaysia di Manila, Mohammad Zamri bin Mohammad Kassim dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri
Filipina Alberto Del Rosario, kemarin siang, menyampaikan masalahnya telah
berakhir.
Baik
pemerintah Malaysia maupun Filipina mengimbau kelompok bersenjata dari Sulu,
pulang. Rosario juga meminta akses bagi kapal perang Filipina BRP Tagbanua
berlabuh di Lahad Datu untuk mengangkut warganya itu. Sebagian besar anggota
kelompok masih dalam pengejaran pasca pertempuran. Polisi Malaysia
memberlakukan jam malam di wilayah tersebut.
“Jangan
uji kesabaran kami, kesabaran kami sudah mencapai batasnya,” kata Najib seperti
dikutip Bernama. Kedatangan tentara Sulu di Sabah menempatkan Najib dalam
posisi sulit. Apalagi dia akan menyelenggarakan pemilihan raya pada April
mendatang. Pihak oposisi mendesak pemerintah segera bertindak.
Juru
bicara kelompok bersenjata Sulu, Abraham Idjirani kepada wartawan di Manila
mengatakan mereka pindah ke lokasi lain untuk meneruskan perjuangan dan
mendesak pemerintah Malaysia memenuhi
tuntutan mereka, yaitu pengakuan Malaysia atas tanah milik Kesultanan Sulu.
Mereka
juga menuntut negosiasi ulang persyaratan awal penyewaan wilayah Sabah oleh
Kesultanan Sulu kepada perusahaan dagang Inggris di Abad ke-19. Seorang pejabat
Malaysia mengatakan tuntutan kelompok itu mustahil dipenuhi. | AT | R | REUTERS
| INQUIRER | TEMPO|

