News Update :

Pembangunan Mental Spiritual Untuk Aceh

Minggu, 31 Maret 2013


Tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan mental spiritual adalah hal terpenting begi manusia. Manusia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dalam kehidupan tanpa adanya mental spiritual yang bagus. Mental spiritual yang bagus dapat menata suasana jiwa yang nyaman dan mendamaikan.

Dia adalah modal utama dalam menciptakan keadaan yang menyenangkan dalam diri manusia. Seberapa pun sempurnanya keperluan dan kemauan manusia tetap akan terasa kurang, hampa dan gersang tampa terbenahinya jiwa dengan mental spiritual yang mantap. Sempurna, tapi terasa tidak sempurna. Allah berkata, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang!

Pembangunan mental spiritual juga merupakan awal dari segala macam pembangunan. Tidak ada makna sama sekali pembangunan bidang lain yang super sukses sekalipun tanpa didahulukan oleh pembangunan jiwa manusia.

Segala jenis pembangunan akan mudah berdiri di atas bangunan jiwa yang baik. Jiwa manusia dapat membangunkan peradaban dan dinamika kehidupan. Akan nampak baik dan mendamaikan setiap apapun yang ada di kehidupan ini kalau yang menjadi kreator pembangunannya adalah manusia berjiwa baik. Itu fakta. Tidak akan pernah terbantahkan!

Lalu, bagaimana yang dimaksudkan dengan pembangunan mental spiritual dan jiwa yang baik tersebut? Ungkapan spiritual dapat dipahami bahwa ini masalah batiniah. Masalah kejiwaan yang bersifat abstraks.

Dia tidak dapat diartikulasikan secara gampang. Tidak seperti memaknai istilah semisal demokrasi contohnya, yang dapat diterjemahkan apa saja menurut kemauan orang yang menterjemahkannya.



Namanya saja demokrasi. Maka pemaknaannya pun demokratis. Sementara masalah batiniah ini adalah kawasan alam gaib. Dia tak dapat dideteksi. Hanya dapat dilihat dari refleksi dari eksperimen jiwa yang baik tersebut.

Jiwa yang baik akan menghasilkan karya yang baik juga. Manusia berjiwa spiritual yang bagus akan melahirkan kebijakan dan pendapat-pendapat yang bagus. Jiwa yang baik terletak di dalam hati yang baik. Sebagaimana jiwa buruk juga terdapat di dalam hati yang busuk.

Hati adalah sentral daripada segala sikap dan tindakan seorang manusia. Dia memberikan efek kepada tingkah nyata dari seseorang. Nabi berkata, dalam diri manusia ada segumpal daging. Apabila daging itu baik maka akan baik pemiliknya secara keseluruhan. Dan apabila dia buruk maka akan berimplikasi kepada buruknya sikap empunya hati itu. Daging itu adalah hati.

Kemudian, bagaimana upaya mendapatkan mental spiritual yang bagus itu? Sebagaimana telah tersebut di atas bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, tentram dan membahagiakan. Ketentraman rohani adalah dasar daripada ketentraman jasmani.

Dari kenyataan itu dapat disimpulkan bahwa mengingat Allah adalah di atas segalanya. Dialah cara mendapatkan mental spiritual yang bagus. Mengingat di sini bermakna bahwa manusia selalu sadar bahwa Allah selalu dan selamanya mengamati kepada segenap gerak dan sikap manusia. Itu akan menjadi pengawas manusia dari sikap dan sifat yang keliru, apalagi salah.

Dalam konteks keacehan sekarang, dimana rakyat Aceh baru saja menyukseskan sebuah perhelatan akbar, dan perhelatan itu telah memberikan pemimpin baru untuk masyarakat Aceh, program dan wacana membangun atau pembangunan mental spiritual adalah mutlah harus dilakukan.

 Itu wajib digalakkan oleh pemimpin baru Aceh. Pembangunan mental spiritual kepada pemimpin dan semua rakyat Aceh adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawarkan. Jangan dulu membangun bangunan fisik dan jembatan cantik kalau jiwa manusianya belum dibaguskan.

Isu kehancuran yang kini melanda dunia akan juga terjadi kepada rakyat Aceh apabila mementingkan setiap kebijakan yang mengedepankan kepada sektor material. Dunia barat yang terkenal dengan kemajuan dan pembangunan materialnya telah nampak jelas mulai mencari alternatif lain dalam upaya mensejahterakan manusia.

Terlihat sekarang pusat-pusat rehabilitasi pemulihan jiwa manusia yang haus akan ketentramana rohani. Dan aksi bunuh diri begitu kentara pada mereka yang telah sempurna mendapatkan kemewahan dan kemegahan duniawi. Itu bertanda bahwa kesejahteraan yang diidamkan manusia tidak dapat ditemukan dalam sektor jasmaniah.

UUD !945 jelas mengatakan bahwa cita-cita bangsa adalah menciptakan manusia yang sejahtera lahir batin. Bukan hanya kesejahteraan jasmaniah. Tapi juga kesejahteraan rohaniah.

Bahkan kesejahteraan rohani jauh lebih penting dari sejahteranya jasmani. Karena tidak akan ada kesejahteraan jasmaniah tanpa danya kesejahteraan rohani. Maka pemimpin baru Aceh harus memaksimalkan kekuatan dan kemampuan untuk sukses membangun mental spiritual kepada semua rakyatnya.

Itu sangat payah memang. Tapi tetap tidak mustahil. Setiap sesuatu akan ada kemungkinan apabila mau diusahakan. Dan di dalam kesungguhan akan ada kejaiban.

Sesuatu yang nyaris mustahil pun akan sanggup dilakukan kalau ada kesungguhan. Kepayahan menciptakan menusia bermental spiritual yang mulia hanya sebuah keadaan. Dia bisa diubah dan dirubah. Manusia adalah subyek. Bukan obyek. Manusia yang menciptakan keadaan.

Bukan manusia yang diciptakan oleh keadaan. Allah akan memberikan sebagaimana yang diinginkan oleh manusia. Manusia menginginkan kebaikan maka Allah akan memberikannya.

Pemimpin Aceh menginginkan jiwa semua rakyatnya bermental spiritual yang bagus maka Allah akan memberikannya. Asal mau berusaha menuju ke arah itu.

Kesimpulan, wahai pemimpin baru Aceh tercinta, utamakanlah membangun mental spiritual kepada rakyat Aceh kalau ingin membangun Aceh. Prioritaskanlah itu. Dalam misi dan visi gubernur Aceh, Zaini-Muzakir, tersebutkan, menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam di semua sektor kehidupan dengan sasaran sebagai berikut:

a. Membangkitkan kembali pemahaman dan penghayatan masyarakat terhadap sejarah Aceh sebagai nilai budaya dalam tatanan kehidupan;

b. Terciptanya nilai-nilai budaya Aceh dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dalam upaya pengembalian harkat dan martabat Aceh yang telah hilang akibat berbagai persoalan konflik dan bencana yang telah terjadi;

c. Terwujudnya masyarakat Aceh berkualitas, memiliki karakter Islami yang dicirikan dengan sehat jasmani, rohani dan sosial, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki moral dan etika yang baik, rajin, tangguh, cerdas dan memiliki kompetensi dan daya saing, toleransi tinggi, berbudi luhur, peduli lingkungan, patuh pada hukum, serta mencintai perdamaian.

d. Meningkatnya pemahaman, penghayatan, pengamalan dan ketaatanmasyarakat serta aparatur pemerintah terhadap pelaksanaan nilai-nilai Dinul Islam;

e. Meningkatnya peran ulama terhadap penetapan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan untuk pengefektifan penerapan nilai-nilai Dinul Islam dan mengangkat kembali budaya-budaya Aceh yang Islami; (misi dan visi calon gubernur Aceh periode 2012-2017)

Dan di sana juga menyebutkan kebijakannya,Kebijakan

Membangun kembali pengetahuan dan wawasan sejarah dan nilainilai budaya Aceh dalam kehidupan masyarakat;

b. Melaksanakan nilai-nilai Dinul Islam di dalam penyelenggaraan pemerintahan secara baik dan bersih serta di dalam kehidupan masyarakat

c. Pemberlakuan nilai-nilai Dinul Islam secara komprehensif dengan mengedepankan kearifan lokal;

d. Mensosialisasikan qanun dan aturan yang berkenaan dengan pelaksanaan nilai-nilai Dinul islam;

e. Meningkatkan kualitas dan efektifitas penyebaran nilai-nilai Dinul islam dalam kehidupan masyarakat melalui memperbanyak intensitas kegiatan-kegiatan keagamaan dan menghidupkan kembali budayabudaya Aceh yang bernuansa keislaman;

f. Meningkatkan kapasitas aparatur pelaksana nilai-nilai Dinul Islam dan peran serta ulama dalam penyelenggaraan pemerintahan melalui penguatan dan pengembangan kapasitas lembaga Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), lembaga Dinul Islam yang berfungsi menegakkan amar makruf nahi mungkar;

g. Meningkatkan kerjasama antar lembaga terutama dengan lembaga pendidikan dalam upaya membangun pemahaman dan pengetahuan tentang nilai-nilai Dinul Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan;

h. Menjamin hak-hak kerukunan beragaman dalam upaya peningkatan toleransi dan kedamaian. (misi dan visi calon gubernur Aceh periode 2012-2017)

Untuk mewujudkan semua itu, maka, utamakanlah dengan membangun mental spiritual masyarakat Aceh. Insyaallah nanggroe Aceh akan menjadi Baldatun Thayyibatun Warabbul Ghafur! Dan rakyatnya akan sejahtera lahir dan batin! Amin! []

* Penulis adalah Tengku Bukhari, MK Santri Dayah Darussalam Krueng Kiran Pidie Jaya

Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016