Ini
penyataan 8 tahun musibah dahsyat tsunami oleh organisasi Acheh-Sumatra
National Liberation Front (Asnlf) nama
ini dulu di pakai oleh kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro dengan kabinet seperti Malik Mahmud, Zaini
Abdullah Dll.
Namun pasca Mou perdamaian 15 Agustus 2005 lalu antara RI kemudian setelah berdamai pimpinannya seperti Malik Mahmud dan Zaini Abdullah kembali ke Aceh, dan kembali menjadi warga Negara Indonesia.
Seiring dengan itu, nama Asnlf yang sempat fakum, tiba-tiba muncul kembali dan mereka (kelompok asnfl versi sekarang) mengklaim tidak sepaham dengan kelompok Malik makmud dan Zaini Abdullah, mereka yang bermarkas di swedia itu menyebar informasi katanya masih berjuang untuk membebaskan Aceh ?.
Namun pasca Mou perdamaian 15 Agustus 2005 lalu antara RI kemudian setelah berdamai pimpinannya seperti Malik Mahmud dan Zaini Abdullah kembali ke Aceh, dan kembali menjadi warga Negara Indonesia.
Seiring dengan itu, nama Asnlf yang sempat fakum, tiba-tiba muncul kembali dan mereka (kelompok asnfl versi sekarang) mengklaim tidak sepaham dengan kelompok Malik makmud dan Zaini Abdullah, mereka yang bermarkas di swedia itu menyebar informasi katanya masih berjuang untuk membebaskan Aceh ?.
Asssalamu'alaikum wr.wb. Bismillaahir
Rahmaanir Rahiim...
”Walanabluwan nakum bisyai-in
minal khaufi wal juu'i, wanaqshim minal amwaali wal-anfusi wats-tsamaraat.
Wabasy-syirish-shaabiriin. Alladhiina idhaa ashaabathum mushiibatun, qaaluu:
Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji'uun. Ulaa ika 'alahim shalawaatun min rabbihim
wa rahmah. Wa ulaa ika humul muhtaduun.” (Al-Baqarah: 155-157)
Hari ini, 26 Desember 2012, genap
delapan tahun sudah musibah gempa dan tsunami meluluh-lantakkan bumi Aceh.
Malapetaka yang sangat dahsyat tersebut telah mengguncang dunia dan telah pula
menyayatkan luka yang sangat mendalam di hati kita semua.
Musibah ini tentunya merupakan
tragedi nasional bagi bangsa Aceh. Hanya dalam hitungan menit saja, petaka
tersebut telah mengakibatkan ratusan ribu jiwa bangsa kita, lelaki-wanita,
tua-muda, kaya-miskin, menjadi korban gelombang raksasa bersama seluruh harta
benda mereka: rumah, kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Allahu akbar,
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil Hamd...
Bansa Aceh yang Mulia,
Hari ini, kami dari ASNLF
bermaksud untuk menyambung tali silaturahmi serta menyampaikan duka cita yang
paling mendalam kepada seluruh bangsa Aceh di mana saja berada. Pada hari
bersejarah ini, kami menghimbau agar kita mengesampingkan semua perbedaan yang
mungkin ada dan berpotensi untuk memecahbelahkan sesama anak bangsa.
Hari ini, marilah kita tunduk
sejenak untuk mengingat dan mengkaji kembali ujian yang telah Allah berikan,
agar kita tidak menjadi manusia-manusia yang takabur tatkala Ia telah
memberikan sedikit nikmat dan rahmat-Nya kepada kita semua.
Dari surat Al-Baqarah, ayat
155-157, yang disebutkan di atas, dengan sangat jelas Allah telah menerangkan
bahwa suatu musibah, seperti tragedi tsunami, adalah ujian serta peringatan
dari-Nya - dalam hal ini khususnya bagi kita bangsa Islam Aceh - agar kita
sadar akan tanggung jawab terhadap sang Pencipta; agar kita tidak disibukkan
hanya dengan kepentingan dunia saja;
dan supaya kita menyadari bahwa diri, harta, dan anak-istri kita, serta segala sesuatu yang kita sayang adalah milik Allah semata. Kapan pun Ia berkehendak untuk mengambilnya kembali, maka tidak ada seorang pun yang mampu mencegah dan menghalang - seperti yang terjadi pada musibah tsunami delapan tahun yang lalu.
dan supaya kita menyadari bahwa diri, harta, dan anak-istri kita, serta segala sesuatu yang kita sayang adalah milik Allah semata. Kapan pun Ia berkehendak untuk mengambilnya kembali, maka tidak ada seorang pun yang mampu mencegah dan menghalang - seperti yang terjadi pada musibah tsunami delapan tahun yang lalu.
Di dalam Al-Quran terdapat banyak
sekali kisah-kisah kekuasaan Allah menyangkut musibah. Terutama, di kala
perbuatan maksiat sudah menjadi pekerjaan sehari-hari penghuni negeri yang
dimaksud, dan perbuatan yang dilarang sudah menjadi kebiasaan, sehingga antara
benar dan salah pun sudah tercampur baur.
Contoh kejadiannya adalah:
bencana air bah atas kaum Nabi Nuh a.s., dan musibah atas kaum Fir’aun pada
zaman Nabi Musa a.s. Namun Allah tidak pula menurunkan bala hanya kepada
orang-orang yang tidak beriman saja, melainkan Ia juga menguji mereka yang
bertakwa.
Bahkan Nabi-Nabi yang dikasih dan
sayangi-Nya pun tidak luput dari ujian, seperti dalam kisah Nabi Yunus yang
terpaksa melompat ke laut dan akhirnya diselamatkan oleh ikan paus, dan juga
pada kisah musibah Nabi Zakaria yang kehilangan harta. Kisah-kisah ini
ditujukan agar kita dapat mengambil i’tibar dan pelajaran, serta agar kita
mengetahui bahwa musibah juga diturunkan kepada orang-orang yang sayangi-Nya.
Walaupun demikian, ada pula orang
yang berpendapat bahwa musibah tsunami itu adalah murka dan juga hukuman Allah
terhadap bangsa kita akibat dari maraknya perbuatan zalim yang berlaku di bumi
Aceh, karena penduduk Serambi Mekah ini telah terlalu meraja lela, dan karena
yang memegang perintah di Aceh di masa itu adalah pihak-pihak bersenjata.
Sementara kaum cerdik pandai,
orang-orang bijak, termasuk pula alim-ulama, hanya bisa duduk terpojok dan tak
mampu bersuara. Maka mungkin kah hal tersebut yang mengakibatkan diturunkannya
bala kepada bansa Aceh?
Pendapat ini bukan tidak ada
beralasan, karena banyak ayat-ayat suci yang menunjukkan bahwa musibah sering
juga terjadi terhadap kaum-kaum yang bergelimang perhiasan dunia dan sudah lupa
kepada akhirat.
“Dhaharal fasaadu fil barri wal
bahri bimaa kasabat aidin naasi liyudhiya qahum ba’dhal ladhii ‘amiluu
la’allahum yarji’uun” (Ar-Rum: 44)
Kita musti memahami bahwa musibah
itu merupakan sunnatullah, dimana tidak ada kekuatan apapun yang dapat melawan
kehendak-Nya. Dan apabila Allah berkehendak akan sesuatu, maka hanya dengan
mengatakan “kun” tidak-boleh-tidak akan mengakibatkan “fa yakun”.
Oleh karena itu, kami menyerukan
kepada bangsa Aceh, khususnya kepada siapa saja yang sedang disibukkan dengan
harta, kesenangan, dan kekayaan yang melimpah, dari hasil korupsi dan
penyelewengan hak-hak rakyat, agar sudi kembali ke jalan yang benar, sebelum
bala yang lebih dahsyat tiba. Ingat lah peringatan Allah dalam surat Al-Humazah:
“Celaka lah bagi orang-orang yang mengumpat
dan mencaci; itu lah orang-orang yang mengumpul harta dan menghitung-hitung
nya. Mereka mengira bahwa harta yang ada pada nya akan bisa mengekalkannya.
Sekali-kali tidak! Mereka-mereka
itu akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah....”
Sementara itu, kepada sanak
keluarga korban tsunami, dengan penuh keikhlasan kami mendoakan supaya tetap
memiliki kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini, dan supaya dapat
lebih mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.
Sebab, dibalik setiap musibah itu
terkandung banyak hikmah yang kita, sebagai manusia biasa, tidak sanggup
memahami.
Hanya Allah-lah tempat kita
meminta pertolongan dan hanya kehadapan-Nya kita berserah diri. “Hasbunallah wa
ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir “- Cukup lah Allah yang
melindungi kami dan Allah jua lah sebaik-baik pelindung | AT | RILIS|

