Jakarta | acehtraffic.com- AR alias RD, 26 tahun, eksekutor penembak Djuli Ervano, wartawan TVRI, ditembak polisi pagi tadi pukul 06.30 karena mencoba melarikan diri.
RD yang dicokok di parkiran Rumah Sakit Umum Daerah Dadi Cokrodipo, Jalan Basuki Rahmat, Lampung, Selasa kemarin pukul 10.00, diterbangkan ke Jakarta pada malam harinya. Dia digeledah, namun polisi tak menemukan barang bukti.
RD memang diketahui memiliki dua alamat. Pertama di Dusun II RT 001 RW 002 Kelurahan Jabung, Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Satu lagi di Kompleks Mutiara Indah RT 003 RW 018 Kelurahan Kaligandu, Kecamatan Serang, Banten.
Polisi telah memburunya sejak kasus kematian Djuli. Berdasarkan penyelidikan sepekan terakhir, dia diketahui berada di Lampung. "Ada keluarganya di sana," kata Ajun Komisaris Besar Helmi Santika, Kepala Subdirektorat Jatanras Polda Metro Jaya, Rabu, 21 November 2012.
Sesampai di Jakarta tadi malam, polisi mengembangkan kasus. Hasilnya, pagi tadi, RD diseret ke kontrakan RN di Jalan Raya Hankam, Kranggan, Pondok Gede, Bekasi. Berdasar hasil interogasi RD selama perjalanan, RN adalah tandem RD dalam melakukan kejahatan.
Pukul 06.30, ketika polisi sedang menggeledah kontrakan RN, pria asal Lampung itu berusaha melarikan diri. "Dia memanfaatkan kelengahan petugas untuk melarikan diri dan terpaksa ditembak, dan meninggal dunia," kata Komisaris Besar Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.
Sebelumnya, polisi sudah melepaskan tembakan peringatan ke udara tiga kali serta meminta tersangka berhenti. Kenyataannya, RD tak acuh. "Pelaksana tugas melepaskan dua tembakan untuk melumpuhkan dan mengenai punggung kiri," ucap Helmi.
Saat ini, jenazah RD sedang diurus oleh kepolisian. Direktorat Kriminal Umum Polda Metro, Komisaris Besar Toni Harmanto, mengatakan, ia belum dapat memastikan lokasi pemakaman RD. "Akan dimakamkan, tapi belum pasti di mana."
Di kontrakan RN, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu pucuk senjata api jenis FN beserta magazen, delapan butir peluru, beberapa lembar pelat nomor polisi kendaraan bermotor, tiga buah kunci T, dan sebilah golok. Sedangkan, "RN tidak ada di tempat," ucap Helmi.
Namun, menurut Helmi, senjata itu bukanlah yang digunakan untuk membunuh Djuli. RD menyatakan senjata untuk menembak Djuli diberikan pada rekan lainnya, HR. Adapun barang-barang curian RD dijual ke Sukabumi, Banten, dan Lampung melalui penadah, CN. Kini, HR dan CN masih dalam pengejaran polisi.
Penembakan Djuli Ervano terjadi 17 Maret silam. Djuli tewas setelah tertembak di dada kiri. Ketika itu, almarhum memergoki dua pelaku berusaha mencuri sepeda motor di depan rumahnya di Villa Bintaro Indah Blok B3 Nomor 2A, Jombang, Tangerang Selatan. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit EMC Bintaro, Tangerang Selatan, tapi nyawanya tidak tertolong.
Dengan tertangkapnya RD, pihak TVRI berterima kasih pada kepolisian. "Terima kasih pada kepolisian yang akhirnya berhasil menangkap pelaku utama yang kami tunggu-tunggu," ucap Pipit Irianto, General Manager Berita Lembaga Penyiaran Publik TVRI. | AT | R | TEMPO |
RD yang dicokok di parkiran Rumah Sakit Umum Daerah Dadi Cokrodipo, Jalan Basuki Rahmat, Lampung, Selasa kemarin pukul 10.00, diterbangkan ke Jakarta pada malam harinya. Dia digeledah, namun polisi tak menemukan barang bukti.
RD memang diketahui memiliki dua alamat. Pertama di Dusun II RT 001 RW 002 Kelurahan Jabung, Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Satu lagi di Kompleks Mutiara Indah RT 003 RW 018 Kelurahan Kaligandu, Kecamatan Serang, Banten.
Polisi telah memburunya sejak kasus kematian Djuli. Berdasarkan penyelidikan sepekan terakhir, dia diketahui berada di Lampung. "Ada keluarganya di sana," kata Ajun Komisaris Besar Helmi Santika, Kepala Subdirektorat Jatanras Polda Metro Jaya, Rabu, 21 November 2012.
Sesampai di Jakarta tadi malam, polisi mengembangkan kasus. Hasilnya, pagi tadi, RD diseret ke kontrakan RN di Jalan Raya Hankam, Kranggan, Pondok Gede, Bekasi. Berdasar hasil interogasi RD selama perjalanan, RN adalah tandem RD dalam melakukan kejahatan.
Pukul 06.30, ketika polisi sedang menggeledah kontrakan RN, pria asal Lampung itu berusaha melarikan diri. "Dia memanfaatkan kelengahan petugas untuk melarikan diri dan terpaksa ditembak, dan meninggal dunia," kata Komisaris Besar Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.
Sebelumnya, polisi sudah melepaskan tembakan peringatan ke udara tiga kali serta meminta tersangka berhenti. Kenyataannya, RD tak acuh. "Pelaksana tugas melepaskan dua tembakan untuk melumpuhkan dan mengenai punggung kiri," ucap Helmi.
Saat ini, jenazah RD sedang diurus oleh kepolisian. Direktorat Kriminal Umum Polda Metro, Komisaris Besar Toni Harmanto, mengatakan, ia belum dapat memastikan lokasi pemakaman RD. "Akan dimakamkan, tapi belum pasti di mana."
Di kontrakan RN, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu pucuk senjata api jenis FN beserta magazen, delapan butir peluru, beberapa lembar pelat nomor polisi kendaraan bermotor, tiga buah kunci T, dan sebilah golok. Sedangkan, "RN tidak ada di tempat," ucap Helmi.
Namun, menurut Helmi, senjata itu bukanlah yang digunakan untuk membunuh Djuli. RD menyatakan senjata untuk menembak Djuli diberikan pada rekan lainnya, HR. Adapun barang-barang curian RD dijual ke Sukabumi, Banten, dan Lampung melalui penadah, CN. Kini, HR dan CN masih dalam pengejaran polisi.
Penembakan Djuli Ervano terjadi 17 Maret silam. Djuli tewas setelah tertembak di dada kiri. Ketika itu, almarhum memergoki dua pelaku berusaha mencuri sepeda motor di depan rumahnya di Villa Bintaro Indah Blok B3 Nomor 2A, Jombang, Tangerang Selatan. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit EMC Bintaro, Tangerang Selatan, tapi nyawanya tidak tertolong.
Dengan tertangkapnya RD, pihak TVRI berterima kasih pada kepolisian. "Terima kasih pada kepolisian yang akhirnya berhasil menangkap pelaku utama yang kami tunggu-tunggu," ucap Pipit Irianto, General Manager Berita Lembaga Penyiaran Publik TVRI. | AT | R | TEMPO |

