
Acehtraffic.com - Setelah meninggalnya para pengeran tua secara berturut-turut dalam satu tahun ini, Raja Abdullah bin Abdul Aziz, pemimpin Arab Saudi mengeluarkan keputusan pemecatan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz (72 tahun) dari jabatan menteri dalam negeri dan digantikan oleh Pangeran Muhammad bin Nayef al-Saud (52 tahun), keponakannya sendiri.
Pangeran Muhammad bin Nayef, anak dari mantan Pangeran Mahkota, Nayef bin Abdul Aziz yang meninggal beberapa waktu lalu sebelumnya menjabat wakil menteri dalam negeri selama 13 tahun. Pangeran Nayef bin Abdul Aziz sebelumnya juga menduduki jabatan menteri dalam negeri Arab Saudi selama beberapa tahun.
Pengeran Muhammad bin Nayef adalah salah satu anak dari mantan Pangeran Mahkota Nayef bin Abdul Aziz dan lulusan Amerika Serikat serta mahir di urusan militer dan keamanan. Pemecatan salah satu anak Abdul Aziz, pendiri dinasti al-Saud di Arab Saudi dari posisi penting seperti departemen dalam negeri termasuk keputusan yang sangat jarang diambil oleh raja selama beberapa dekade kepemimpinan dinasti ini.
Sebelum pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri Arab Saudi, kebanyakan anggota keluarga kerajaan mengkritik berlanjutnya kekuasaan para pangeran tua dan ketidakmampuan mereka mengurus urusan negara berdasarkan kebutuhan masyarakan. Generasi muda pangeran Arab Saudi ini juga menuntut reformasi khususnya pergantian struktur pemerintahan dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang lebih muda dari pangeran generasi kedua.
Dengan perubahan penting ini dapat dikatakan bahwa kekuasaan para pangeran tua khususnya raja yang kini menginjak usia 90 tahun maka dapat dipastikan bahwa tidak ada kuputusan yang lebih baik ketimbang menyetujui desakan para pangeran muda untuk tampil mengurusi negara. Apalagi saat ini kondisi dalam negeri Arab Saudi dilanda aksi demo luas anti pemerintah oleh warga khususnya di wilayah timur negara ini.
Pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri dilakukan bertepatan dengan insiden peledakan bom di kota-kota penting negara ini termasuk Riyadh dan Mekkah. Meski pemerintah Arab Saudi terkesan menutup-nutupi insiden ini, namun sepertinya mutasi ini cukup mencengangkan dan belum pernah terjadi. Selain itu, hal ini juga dapat dicerna sebagai reaksi tergesa-gesa al-Saud menanggapi isu keamanan nasional.
Di sisi lain, aksi demo warga khususnya di wilayah Timur dalam satu tahun terakhir terus meningkat. Para demonstran menuntut pemberantasan aksi korupsi, pelaksanaan reformasi dan dihentikannya aksi diskriminasi terhadap warga. Eskalasi aksi demo anti pemerintah direaksi keras oleh Riyadh. Pasukan keamanan negara ini dengan buas membubarkan aksi damai warga dan menangkapi para demonstran. Isu ini kini menjadi salah satu ganjalan terbesar bagi para penguasa dinasti al-Saud.
Di kondisi seperti ini, mutasi jabatan di Arab Saudi semakin penting untuk dicermati dan kekuasaan para pangeran Arab Saudi biasanya akan tamat jika mereka meninggal. Bukti nyata adalah Saud al-Faisal, menteri luar negeri yang menduduki jabatan ini sejak tahun 1975 dan kini tengah mengidap berbagai penyakit kronis serta menginjak usia tua. Akibat penyakitnya ini, Saud al-Faisal telah beberapa kali menjalani operasi pinggang, tangan dan punggung. Pangeran Nayef bin Abdul Aziz juga menduduki jabatan menteri dalam negeri hingga ia meninggal.
Diprediksikan pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri selain membuka peluang pangeran muda untuk tampil di kekuasaan rezim al-Saud juga aksi penumpasan terhadap aksi damai warga akan semakin keras. Poin penting di sini adalah, berdasarkan etika yang biasa terjadi di Arab Saudi, siapa yang menduduki jabatan menteri dalam negeri maka ia memiliki peluang lebih besar untuk merebut kursi Pangeran Mahkota dan menjadi penerus raja.| AT | M | Irib |
Pangeran Muhammad bin Nayef, anak dari mantan Pangeran Mahkota, Nayef bin Abdul Aziz yang meninggal beberapa waktu lalu sebelumnya menjabat wakil menteri dalam negeri selama 13 tahun. Pangeran Nayef bin Abdul Aziz sebelumnya juga menduduki jabatan menteri dalam negeri Arab Saudi selama beberapa tahun.
Pengeran Muhammad bin Nayef adalah salah satu anak dari mantan Pangeran Mahkota Nayef bin Abdul Aziz dan lulusan Amerika Serikat serta mahir di urusan militer dan keamanan. Pemecatan salah satu anak Abdul Aziz, pendiri dinasti al-Saud di Arab Saudi dari posisi penting seperti departemen dalam negeri termasuk keputusan yang sangat jarang diambil oleh raja selama beberapa dekade kepemimpinan dinasti ini.
Sebelum pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri Arab Saudi, kebanyakan anggota keluarga kerajaan mengkritik berlanjutnya kekuasaan para pangeran tua dan ketidakmampuan mereka mengurus urusan negara berdasarkan kebutuhan masyarakan. Generasi muda pangeran Arab Saudi ini juga menuntut reformasi khususnya pergantian struktur pemerintahan dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang lebih muda dari pangeran generasi kedua.
Dengan perubahan penting ini dapat dikatakan bahwa kekuasaan para pangeran tua khususnya raja yang kini menginjak usia 90 tahun maka dapat dipastikan bahwa tidak ada kuputusan yang lebih baik ketimbang menyetujui desakan para pangeran muda untuk tampil mengurusi negara. Apalagi saat ini kondisi dalam negeri Arab Saudi dilanda aksi demo luas anti pemerintah oleh warga khususnya di wilayah timur negara ini.
Pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri dilakukan bertepatan dengan insiden peledakan bom di kota-kota penting negara ini termasuk Riyadh dan Mekkah. Meski pemerintah Arab Saudi terkesan menutup-nutupi insiden ini, namun sepertinya mutasi ini cukup mencengangkan dan belum pernah terjadi. Selain itu, hal ini juga dapat dicerna sebagai reaksi tergesa-gesa al-Saud menanggapi isu keamanan nasional.
Di sisi lain, aksi demo warga khususnya di wilayah Timur dalam satu tahun terakhir terus meningkat. Para demonstran menuntut pemberantasan aksi korupsi, pelaksanaan reformasi dan dihentikannya aksi diskriminasi terhadap warga. Eskalasi aksi demo anti pemerintah direaksi keras oleh Riyadh. Pasukan keamanan negara ini dengan buas membubarkan aksi damai warga dan menangkapi para demonstran. Isu ini kini menjadi salah satu ganjalan terbesar bagi para penguasa dinasti al-Saud.
Di kondisi seperti ini, mutasi jabatan di Arab Saudi semakin penting untuk dicermati dan kekuasaan para pangeran Arab Saudi biasanya akan tamat jika mereka meninggal. Bukti nyata adalah Saud al-Faisal, menteri luar negeri yang menduduki jabatan ini sejak tahun 1975 dan kini tengah mengidap berbagai penyakit kronis serta menginjak usia tua. Akibat penyakitnya ini, Saud al-Faisal telah beberapa kali menjalani operasi pinggang, tangan dan punggung. Pangeran Nayef bin Abdul Aziz juga menduduki jabatan menteri dalam negeri hingga ia meninggal.
Diprediksikan pengangkatan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai menteri dalam negeri selain membuka peluang pangeran muda untuk tampil di kekuasaan rezim al-Saud juga aksi penumpasan terhadap aksi damai warga akan semakin keras. Poin penting di sini adalah, berdasarkan etika yang biasa terjadi di Arab Saudi, siapa yang menduduki jabatan menteri dalam negeri maka ia memiliki peluang lebih besar untuk merebut kursi Pangeran Mahkota dan menjadi penerus raja.| AT | M | Irib |
