Jakarta | Acehtraffic.com - Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang terus melesat menyisakan pekerjaan rumah khusus. Mampukah mereka menjaga tingkat perekonomiannya di tengah serbuan orang asing yang masuk ke Indonesia?
Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Michael Steven menyebut hal itulah yang harus diwaspadai oleh masyarakat Indonesia selama 20 tahun ke depan, sejak 2010 hingga 2030. "Di dalam masa itu, Indonesia memasuki fase Indo Boom, masa gemilang di mana masyarakat kelas menengahnya tumbuh begitu pesat," kata Michael di Jakarta, Rabu 21 November 2012.
Saat ini, di tengah fundamental Indonesia yang begitu kuat, investor asing terus merangsek masuk untuk mencicipi kue imbal hasil (yield) investasi di tanah air. Masalah yang muncul adalah masyarakat kelas menengah di Indonesia itu apakah sadar bahwa orang asing sudah memanfaatkan momentum untuk mengambil kue-kue imbal hasil dari hasil investasinya di Indonesia.
"Sementara masyarakat kita selalu sibuk bekerja mengumpulkan uang. Padahal, orang asing justru membiarkan uangnya bekerja keras untuk mereka," tambahnya.
Artinya, orang asing yang masuk ke tanah air sudah sadar tentang investasi di tanah air. Mereka membawa uangnya untuk diinvestasikan di portofolio yang mereka kehendaki dan tentu saja memiliki imbal hasil tinggi. Asal tahu saja, imbal hasil orang asing di negara asalnya relatif rendah. Ini disebabkan karena ketidakpastian global dan masih ada potensi krisis di negaranya, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Eropa.
"Mereka sudah terbiasa berinvestasi. Dengan kedatangan mereka, itu akan menyadarkan kita bahwa kita juga harus mencicipi legitnya berinvestasi di negeri sendiri," tambahnya.
Salah satu caranya adalah dengan menabung, menyisihkan sebagian pendapatan untuk kepentingan di masa depan. Saat ini, sudah cukup banyak produk investasi yang menawarkan ragam keuntungan. Misalnya berinvestasi di pasar saham, reksadana, asuransi, dana pensiun dan sebagainya.
"Investasi semacam itu memberikan keuntungan lebih. Biarkan uang kita bekerja keras untuk kita. Biarkan saja, minimal 20 tahun," tambahnya.
Bila masyarakat tanah air sadar akan pentingnya berinvestasi, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menyaingi negara-negara yang tergabung dalam BRIC yaitu Brazil, Rusia, India dan China. Negara tersebut adalah negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat.
"Artinya kita masih bisa sejahtera kalau tahu ilmunya. Kalau tidak ikut menikmati, kita harus siap menjadi penonton di negeri sendiri," jelasnya. | AT | H | KP |

