The Aceh Traffic Media |
»

Warga Indonesia, Menggantungkan Hidup Dengan Malaysia

Wednesday, October 10, 2012

Share berita ini :

Kehidupan masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, sampai saat ini masih sangat tergantung pada negeri tetangga Malaysia.

"Ketergantungan itu antara lain terlihat dalam pemenuhan kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap harinya, hampir seluruhnya merupakan produk asal Malaysia," kata Sannari, seorang warga perbatasan di Ajikuning, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan, Senin.

Menurut Sannari, kondisi itu masih sulit dihindari mengingat masyarakat Pulau Sebatik dan Kabupaten Nunukan secara umum, suplai sembako masih tergantung dari Malaysia, karena sulitnya mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari asal Indonesia. 

Selain mudah mendapatkannya juga harganya lebih murah daripada produk asal Indonesia.

Misalnya, gula pasir yang merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat, harganya di Malaysia hanya RM 2.20 atau Rp6.600 (RM 1 = Rp3.000) per kg.

Sementara harga gula pasir asal Indonesia harganya mencapai Rp11.000 sampai Rp12.000 per kg bahkan lebih dari itu. Selain itu, untuk mendapatkan produk asal Indonesia sangat sulit karena hanya ada di Kota Tarakan.

Bukan hanya sembako yang diperoleh dari Malaysia, Sannari yang mengaku berasal dari Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan itu menambahkan juga bahan bangunan seperti batu gunung, kerikil, semen, dan lain-lainnya semuanya berasal dari Malaysia.

Oleh karena itu, ketergantungan dengan negeri jiran Malaysia sangat sulit dihindari.

"Kalau dibilang masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik ini menggantungkan hidupnya di Malaysia memang iya. Kalau tidak begitu mau makan apa kita di sini (Pulau Sebatik)," ujar Sannari.

Dia mengatakan kemudahan mendapatkan sembako atau kebutuhan lainnya di Malaysia, karena masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik hampir setiap harinya menyeberang ke Tawau, Malaysia, untuk berbelanja.

"Masyarakat di sini setiap hari ke Tawau, karena jangkauannya dekat hanya 15 menit sudah sampai di sana (Tawau)," katanya.

Ringgit Berlaku, Rupiah Ditolak

Mata uang ringgit Malaysia (RM) berjaya dalam transaksi perdagangan di perbatasan Indonesia-Malaysia. Sedangkan mata uang rupiah tidak berlaku karena warga Malaysia enggan menggunakannya.

Hal itu terjadi di dua sisi tapal batas Indonesia-Malaysia, yaitu Desa Long Midang, Kecamatan Krayan Induk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, dan warga Desa Bakalalan, Bandar Lawas, Negara Bagian Serawak (Malaysia).

"Mereka datang ke sini bawa ringgit dan kami ke sana harus bawa ringgit pula. Ini karena posisi kami yang lebih banyak membutuhkan barang-barang mereka," kata Camat Krayan Induk, Samuel St Padan, kepada Republika di Bandara Yuvai Semaring, Desa Long Bawan, Senin (28/5).

WNI di sana banyak berbelanja sembako, bahan bangunan, hingga bahan bakar minyak ke warga Malaysia. WNI juga juga menjual beras kualitas unggulan, kerbau, garam, dan kerajinan rakyat ke sana.

"Kadang warga Malaysia datang ke wilayah Indonesia untuk jemput bola beli kerbau," kata Samuel.

Dari Bandara Yuvei Semarik jarak ke perbatasan tersebut sekitar 10 km. Namun waktu tempuh bisa mencapai 1 jam dengan sepeda motor atau dua jam dengan mobil.

"Jalan ke sana belum di aspal dan kondisinya banyak lubang," ungkap Bripka Pangeran L, anggota Polres Nunukan.

Kondisi itu berbeda dengan jalanan di Desa Bakalalan (Malaysia). "Jalan di sana sudah disemenisasi, sehingga bisa dilalui kendaraan dengan mulus," kata Pangeran. | AT | R | Republika Mei 2012|


Redaksi menerima sumbangan tulisan dalam bentuk opini, artikel atau pengalaman pribadi. Setiap tulisan dapat dikirim ke email redaksiaceh.traffic@gmail.com dan disertai identitas dengan mencantumkan nomor telepon/email.