
Jakarta | Acehtraffic.com - Rupiah diprediksi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah diprediksi melemah ke Rp9.620-Rp.9.630 per USD. Pelemahan rupiah meyusul pasar global yang ditutup turun pada perdagangan kemarin.
"Pasar Asia kemungkinan akan mengikuti. Untuk rupiah kami perkirakan ada akan melemah ke kisaran antara Rp9.620-Rp9.630 per USD," ungkap anlis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, dalam riset hariannya di Jakarta, Rabu 24 Oktober 2012.
Menurutnya, isu utama pada pergerakan rupiah adalah masih tingginnya subsidi energi senilai Rp274,7 triliun, dan Rp42,5 triliun untuk subsidi non energi, diikuti dengan belanja modal senilai Rp216,1 triliun, belanja barang Rp167 triliun, dan belanja pegawai Rp241,1 triliun.
"Besarnya subsidi energi yang menelan hingga 29 persen dari total belanja pusat tersebut sebagai tidak tepat sasaran dan akan lebih bermanfaat produktif jika teralokasi untuk meningkatkan belanja modal dan program ketahanan pangan," katanya.
Sementara untuk sentimen eksternal, datang dari Spanyol yang mengindikasikan ada kelonggaran terhadap defisit anggaran. PM Spanyol mensinyalkan kemungkinan ada kelonggaran terhadap kesepakatan atas defisit anggaran dalam rangka konsolidasi fiskal tampaknya akan bisa sedikit lebih longgar, karena kondisi ekonomi di UE yang terus melemah atau bahkan menuju resesi.
"Pernyataan tersebut menanggapi pernyataan bank sentral Spanyol bahwa resesi Spanyol akan memburuk dalam beberapa bulan ke depan. Resesi
membuat penerimaan pajak melemah," jelas dia.
Tahun ini, defisit Spanyol ditargetkan sebesar 6,3 persen dari PDB, turun dari 9,4 persen dari PDB pada tahun 2011 lalu. Pernyataan tersebut membuat biaya peminjaman Spanyol naik 12 bps menjadi 5,6 persen pada perdagangan kemarin.| AT | M | OZ |
"Pasar Asia kemungkinan akan mengikuti. Untuk rupiah kami perkirakan ada akan melemah ke kisaran antara Rp9.620-Rp9.630 per USD," ungkap anlis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, dalam riset hariannya di Jakarta, Rabu 24 Oktober 2012.
Menurutnya, isu utama pada pergerakan rupiah adalah masih tingginnya subsidi energi senilai Rp274,7 triliun, dan Rp42,5 triliun untuk subsidi non energi, diikuti dengan belanja modal senilai Rp216,1 triliun, belanja barang Rp167 triliun, dan belanja pegawai Rp241,1 triliun.
"Besarnya subsidi energi yang menelan hingga 29 persen dari total belanja pusat tersebut sebagai tidak tepat sasaran dan akan lebih bermanfaat produktif jika teralokasi untuk meningkatkan belanja modal dan program ketahanan pangan," katanya.
Sementara untuk sentimen eksternal, datang dari Spanyol yang mengindikasikan ada kelonggaran terhadap defisit anggaran. PM Spanyol mensinyalkan kemungkinan ada kelonggaran terhadap kesepakatan atas defisit anggaran dalam rangka konsolidasi fiskal tampaknya akan bisa sedikit lebih longgar, karena kondisi ekonomi di UE yang terus melemah atau bahkan menuju resesi.
"Pernyataan tersebut menanggapi pernyataan bank sentral Spanyol bahwa resesi Spanyol akan memburuk dalam beberapa bulan ke depan. Resesi
membuat penerimaan pajak melemah," jelas dia.
Tahun ini, defisit Spanyol ditargetkan sebesar 6,3 persen dari PDB, turun dari 9,4 persen dari PDB pada tahun 2011 lalu. Pernyataan tersebut membuat biaya peminjaman Spanyol naik 12 bps menjadi 5,6 persen pada perdagangan kemarin.| AT | M | OZ |
