Acehtraffic.com - Seorang pakar Lebanon menilai serangan militer Turki yang menewaskan sejumlah pasukan Suriah sebagai reaksi atas tembakan mortir yang diduga dilakukan oleh pasukan Suriah ke wilayah negara itu sebagai tindakan yang berlebih-lebihan.
"Ankara dengan reaksi itu ingin menarik dukungan dari Amerika Serikat dan NATO," kata Mohammad Noureddine kepada televisi al-Alam, Jumat 5 Oktober 2012.
Ia menambahkan, masih ada banyak pertanyaan tentang motivasi Turki mereaksi berlebihan atas peristiwa itu.
Lebih lanjut Noureddine menilai Ankara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ketegangan terbaru di perbatasan Suriah-Turki, sebab wilayah selatan Turki dan utara Suriah itu telah berubah menjadi basis anasir kelompok militan anti-Damaskus yang didukung penuh oleh Ankara.
Reaksi cepat Turki, kata Noureddine, dan penyelenggaraan sidang parlemen negara itu terkait peristiwa di perbatasan amat mengejutkan dan hal itu menunjukkan bahwa sejak awal reaksi ini telah diagendakan dan hanya menunggu kesempatan, sebab anggota parlemen Turki menyebut hal itu sebagai "sebuah catatan perang".
Menurut pakar politik Lebanon, reaksi Turki itu juga sebagai upaya untuk mengorganisir opini publik internal Turki tentang kebijakan luar negeri pemerintah negara itu, sebab selama ini kebijakan luar negeri Turki mendapat penentangan keras dari berbagai pihak internal negara itu karena kebijakan itu dinilai salah, bahkan 57-85 persen warga Turki menentang intervensi Ankara dalam urusan internal Damaskus.
"Ankara tidak puas dengan lemahnya kebijakan NATO di Suriah dan berupaya mengubah sikap NATO dan AS untuk menegaskan intervensinya di Suriah," pungkasnya.| AT | M | Irib |
"Ankara dengan reaksi itu ingin menarik dukungan dari Amerika Serikat dan NATO," kata Mohammad Noureddine kepada televisi al-Alam, Jumat 5 Oktober 2012.
Ia menambahkan, masih ada banyak pertanyaan tentang motivasi Turki mereaksi berlebihan atas peristiwa itu.
Lebih lanjut Noureddine menilai Ankara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ketegangan terbaru di perbatasan Suriah-Turki, sebab wilayah selatan Turki dan utara Suriah itu telah berubah menjadi basis anasir kelompok militan anti-Damaskus yang didukung penuh oleh Ankara.
Reaksi cepat Turki, kata Noureddine, dan penyelenggaraan sidang parlemen negara itu terkait peristiwa di perbatasan amat mengejutkan dan hal itu menunjukkan bahwa sejak awal reaksi ini telah diagendakan dan hanya menunggu kesempatan, sebab anggota parlemen Turki menyebut hal itu sebagai "sebuah catatan perang".
Menurut pakar politik Lebanon, reaksi Turki itu juga sebagai upaya untuk mengorganisir opini publik internal Turki tentang kebijakan luar negeri pemerintah negara itu, sebab selama ini kebijakan luar negeri Turki mendapat penentangan keras dari berbagai pihak internal negara itu karena kebijakan itu dinilai salah, bahkan 57-85 persen warga Turki menentang intervensi Ankara dalam urusan internal Damaskus.
"Ankara tidak puas dengan lemahnya kebijakan NATO di Suriah dan berupaya mengubah sikap NATO dan AS untuk menegaskan intervensinya di Suriah," pungkasnya.| AT | M | Irib |

