Banda Aceh | Acehtraffic.com–
Puluhan masyarakat dari berbagai profesi, berkumpul di Café Canai
Mamak Setui Kota Banda Aceh, mereka berkumpul untuk menggagas gerakan anti pornografi media. Senin 8 Oktober 2012.
Gagasan ini terkait maraknya
pemberitaan yang mengandung unsur pornografi di media massa di Aceh.
Dalam pertemuan itu dibicarakan
pemberitaan yang mengandung unsur pornografi sudah sampai pada tahap yang
sangat mengkhawatirkan moralitas masyarakat pembaca yang hadir dari segala usia
dan golongan profesi, alasan itulah yang melatarbelakangi terbentuknya gerakan
masyarakat tersebut.
Pantauan kami, peserta yang hadir
dalam pertemuan tersebut, adalah mayoritas mahasiswa, ibu rumah tangga, Pegawai
Negeri Sipil, seniman, guru dan dosen.
Mayoritas peserta pertemuan, juga
mengaku sepakat untuk mengalang dukungan dari masyarakat Aceh secara lebih
luas, baik melalui facebook, twitter dan jejaring soal lainnya hingga
penggalangan tanda tangan langsung masyarakat yang mendukung kampanye anti
pornografi media tersebut.
Bahkan komunitas ini nantinya
akan melaporkan secara resmi permasalahan ini kepihak pemerintah dan instansi
terkait lainnya, dan bukan tidak mungkin akan memanfaatkan celah hukum yang
diatur dalam Undang-Undang Pers untuk mengadvokasi persoalan tersebut ke ranah
hukum.
“Gerakan ini murni muncul dari
keresahan kita sebagai pembaca media di Aceh. Maraknya pemberitaan yang
mengandung unsur pornografi, kita khawatirkan akan memberikan dampak negative
bagi pembentukan karakter masyarakat, karena publik disajikan berita yang tidak
mendidik, fulgar, yang dapat menggiring pola fikir masyarakat bawah,” Ujar
Faisal Zakaria peserta diskusi dalam acara tersebut.
Dia juga menambahkan, seharusnya
media juga mempertimbangkan efek pemberitaannya, mengemas pemberitaan dengan
mempertimbangkan psikologi pembaca yang datang dari segala usia, jadi tidak
hanya mengejar keuntungan ekonomi bisnis media semata.
Evi, seorang peserta pertemuan
lainnya menambahkan, pemberitaan yang mengandung unsur pornografi merupakan
persoalan serius yang terjadi di Aceh saat ini. Hal tersebut dinilai telah
melanggar nilai-nilai Syariat Islam serta bardampak buruk bagi pembentukan
karakter generasi muda di Aceh", lanjutnya.
Saat ini, mereka telah
mengantongi beberapa media yang dianggap terlalu fulgar dalam menyajikan
pemberitaan asusila di Aceh, dan terakhir yang lagi hangat dibicarakan di dunia
maya adalah efek pemberitaan salah satu media yang diduga banyak pihak sebagai
salah satu penyebab tekanan psikologis hingga menyebabkan seorang korban remaja
bunuh diri di Kota Langsa beberapa waktu lalu.
“Kita berharap dengan
terbentuknya gerakan masyarakat ini, dapat memberi sedikit tekanan dan
penyadaran bagi media "cabul" di Aceh, sehingga mampu berkomitmen
untuk lebih jeli dalam menyajikan pemberitaan yang mendidik, bermanfaat bagi
pembangunan karakter masyarakat, dan tentunya sesuai dengan semangat Syariat
Islam di Aceh,” Tambah Evi lagi. | AT | RD |

