News Update :

Gerakan Pemberontakan Islam Moro Hadiri Upacara Kesepakatan Damai dengan Pemerintah Filipina

Senin, 29 Oktober 2012

Manila | acehtraffic.com- Presiden Benigno Aquino dan ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim, menyaksikan upacara penanda-tanganan hari Senin 29 Oktober 2012 di istana presiden di Manila.

Pemerintah Filipina dan pemberontak Muslim yang melancarkan pemberontakan separatis selama puluhan tahun di selatan negara itu telah menanda-tangani perjanjian perdamaian sementara yang memberi garis besar langkah-langkah untuk mengakhiri konflik itu sebelum tahun 2016.

Presiden Benigno Aquino dan ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ebrahim, menyaksikan upacara penanda-tanganan hari Senin di istana presiden di Manila.

Para pejabat mengatakan persetujuan itu menyebut dengan jelas besarnya kekuasaan, pendapatan, dan wilayah di bagian Selatan negara itu yang kelak akan menjadi  daerah otonomi Muslim baru yang dinamakan “Bangsamoro.”

Kerangka yang dirundingkan MILF di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, bulan ini, tersebut membentuk Komisi Transisi yang beranggotakan 15 orang dan diberi waktu hingga tahun 2016 untuk merancang undang-undang yang akan mendirikan daerah baru itu. 

200 Gerilyawan Hadir 

Sebelumnya pada hari Minggu, 28 Oktober 2012,  sekitar 200 gerilyawan Muslim tiba di ibukota Filipina  untuk penandatanganan pakta perdamaian awal yang ditujukan untuk mengakhiri salah satu gerakan separatis terlama di Asia.

Pemberontakan Front Pembebasan Islam Moro selama beberapa dasawarsa ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menghambat pembangunan di selatan, di mana Muslim membentuk minoritas yang cukup besar.

Pemerintah dan perunding kelompok pemberontakan itu menyepakati kerangka kerja perjanjian perdamaian pada tanggal 7 Oktober di Malaysia setelah perundingan yang sulit selama 15 tahun.

Penandatanganan perjanjian pada hari Senin akan disaksikan oleh Presiden Benigno Aquino, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan pimpinan pemberontak Al Haj Murad Ebrahim, yang akan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di istana presiden Malacanang di Manila, di mana para pejabat sudah menyiapkan penyambutan karpet merah.

Sekitar 300 Muslim dari Manila dan provinsi-propinsi di selatan menggelar unjuk rasa di luar istana pada hari Minggu untuk mendukung kesepakatan awal, dengan berteriak “Allahu Akbar,” atau “Allah Maha Besar.” Mereka meminta lebih banyak pembangunan di wilayah Mindanao yang kaya sumber daya itu.

Pengamanan diperketat di ibukota walaupun diduga tidak akan ada kerusuhan.

Kerangka kerja itu akan menjadi peta jalan bagi perjanjian umum terkait isu penting, termasuk kekuasaan, pendapatan dan teritori bagi daerah otonomi Muslim baru yang akan disebut Bangsamoro.  | AT | R | Voaindonesia|
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016