
Jakarta | Acehtraffic.com - Memasuki tahun ketiganya, upaya penyelesaian krisis utang di zona euro tidak kunjung menemukan titik cerah. Kini, para petinggi Eropa tengah dipusingkan oleh sejumlah permasalahan baru, salah satunya adalah kondisi utang Spanyol yang mengkhawatirkan.
Meski berperan sebagai biang keladi krisis ini, perekonomian Yunani tidak terlalu besar. Kalaupun negara itu keluar dari zona euro, secara fundamental mungkin tidak akan langsung membubarkan komunitas pengguna mata uang tunggal itu.
Lain halnya dengan Spanyol, yang memiliki perekonomian terbesar keempat di zona euro setelah Jerman, Prancis, dan Italia. Perekonomian Spanyol juga kembali terjungkal ke jurang resesi setelah produk domestik bruto (PDB) turun dalam 2 kuartal terakhir.
Utang Spanyol mencapai 68,5% terhadap PDB. Meski tidak sebesar Yunani yang mencapai 165,3%, tapi harus diingat ukuran perekonomian Spanyol yang jauh besar dari Yunani. Spanyol menyumbang 11,28% terhadap perekonomian, sedangkan Yunani hanya 2,28%.
Kemampuan Spanyol untuk menghadapi utangnya juga terus melemah karena resesi serta defisit anggaran dan beban utang yang tinggi. Defisit anggaran Spanyol mencapai 8,5% terhadap PDB, sedangkan imbal hasil (yield) surat utang negara-nya (SUN) telah bergerak di atas 5% sejak April 2012 dan bahkan sempat melampaui 7,5% pada akhir Juli 2012.
Spanyol tidak sendiri, beban utang negara anggota zona euro lain seperti Yunani, Irlandia, Italia, Portugis, dan Hongaria juga melonjak. Maka, Bank Sentral Eropa (ECB) berinisiatif menggulirkan program pembelian SUN untuk membuat pergerakan yield lebih terkendali.
Pada 6 September 2012, Presiden ECB Mario Draghi menyampaikan pihaknya tidak menetapkan batasan jumlah SUN yang dibeli dan tanggal berakhirnya program ini. ECB hanya mensyaratkan negara-negara zona euro yang ingin SUN-nya diborong agar mengajukan permohonan dana talangan (bailout) dari Dana Mekanisme Eropa (ESM).
ESM adalah dana penyelamatan Eropa untuk menggantikan paket dana sebelumnya yang bersifat sementara, yakni Fasilitas Stabilisasi Finansial Eropa (EFSF). Untuk mendapatkan akses dana ini negara penerima bantuan harus memenuhi sejumlah persyaratan yang ketat.
Salah satu persyaratan tersebut adalah penurunan defisit anggaran. Salah satu jalan untuk menurunkan defisit, yang paling direkomendasikan oleh para kreditur Eropa itu, adalah dengan pengetatan anggaran.
Pekan lalu, pemerintah Spanyol telah mengesahkan paket penghematan berikutnya agar defisit dapat mencapai target yakni 6,3% untuk tahun ini dan 4,5% untuk tahun depan dengan menaikkan pajak dan memangkas gaji pegawai negeri.
Namun, Rajoy belum mengajukan permohonan dana bantuan secara resmi hingga kini. Apalagi, kinerja SUN Spanyol dan Italia sempat menguat sejak ECB mengumumkan rencana pembelian SUN-nya.
Saat akan mengesahkan paket penghematan anggaran 2013 pada pekan lalu, Rajoy menyatakan siap mengajukan permohonan dana bantuan jika beban utang terlalu tinggi dalam waktu yang lama. Sebelumnya, dia mengatkan berkurangnya yield SUN Spanyol dapat membuat pihaknya enggan mencari dana bantuan.
“Spanyol tengah menunggu sinyal pasar sampai pasar mengharuskan mereka mengajukan permohonan dana bantuan [yang terlihat dari melonjaknya yield],” kata Ekonom Unika Atma Jaya A. Prasetyantoko saat dihubungi Bisnis beberapa waktu yang lalu.
Sepekan setelah pengumuman ECB, Mahkamah Konstitusi Jerman mengesahkan dana ESM. Jerman pun tampak mulai kehabisan kesabaran dengan ketidakjelasan sikap Spanyol. “Jika butuh bantuan, Rajoy harus menyampaikannya,” kata Michael Meister, petinggi Partai Uni Demokratik Kristen yang mengusung Angela Merkel sebagai kanselir Jerman.
Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan melihat pada akhirnya Spanyol akan mengajukan permohonan tersebut. “Mau tidak mau Spanyol akan minta bantuan karena pada akhirnya beban utang mereka akan kembali naik,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.
Namun, menurut Prasetyantoko, jika Rajoy jadi menandatangani komitmen untuk memenuhi persyaratan yang diberikan Uni Eropa untuk mendapatkan bailout, dia akan menghadapi tekanan politik yang luar biasa, baik dari pihak oposisi maupun dari rakyat Spanyol.
Meskipun belum menandatangi komitmen apapun, pekan lalu rakyat Yunani telah turun ke jalan dan berunjuk rasa memprotes kebijakan pengetatan anggaran. Bahkan, mereka bentrok dengan barikade kepolisian yang melindungi gedung parlemen Spanyol.
“Wajar saja jika rakyatnya marah karena uang yang biasanya mereka nikmati tiba-tiba ditarik,” ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti kepada Bisnis awal bulan ini.
Menurut Prasetyantoko, Fauzi, dan Destry, untuk jangka panjang strategi suntikan dana tidak akan dapat menyelesaikan krisis Eropa karena akar masalahnya adalah struktur fiskal yang tidak sehat.
Selama ini, dana bailout hanya digunakan untuk membayar utang, bukan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi. “Makanya dana bantuan untuk Spanyol harus melibatkan IMF dengan segala persyaratannya yang ketat karena jika tidak ada reformasi struktural akan sulit,” kata Fauzi.
Krisis utang Eropa yang dimulai sejak 2009 itu telah mengancam Eropa menuju resesi dan membantu memperlambat pertumbuhan ekonomi global akibat permintaan ekspor yang berkurang. Dana EFSF terbukti gagal menyembuhkan zona euro. Kita lihat saja sejauh mana Spanyol akan bertahan tanpa dana bantuan dan seberapa tangguh dana ESM bekerja.| AT | M | BS |
Meski berperan sebagai biang keladi krisis ini, perekonomian Yunani tidak terlalu besar. Kalaupun negara itu keluar dari zona euro, secara fundamental mungkin tidak akan langsung membubarkan komunitas pengguna mata uang tunggal itu.
Lain halnya dengan Spanyol, yang memiliki perekonomian terbesar keempat di zona euro setelah Jerman, Prancis, dan Italia. Perekonomian Spanyol juga kembali terjungkal ke jurang resesi setelah produk domestik bruto (PDB) turun dalam 2 kuartal terakhir.
Utang Spanyol mencapai 68,5% terhadap PDB. Meski tidak sebesar Yunani yang mencapai 165,3%, tapi harus diingat ukuran perekonomian Spanyol yang jauh besar dari Yunani. Spanyol menyumbang 11,28% terhadap perekonomian, sedangkan Yunani hanya 2,28%.
Kemampuan Spanyol untuk menghadapi utangnya juga terus melemah karena resesi serta defisit anggaran dan beban utang yang tinggi. Defisit anggaran Spanyol mencapai 8,5% terhadap PDB, sedangkan imbal hasil (yield) surat utang negara-nya (SUN) telah bergerak di atas 5% sejak April 2012 dan bahkan sempat melampaui 7,5% pada akhir Juli 2012.
Spanyol tidak sendiri, beban utang negara anggota zona euro lain seperti Yunani, Irlandia, Italia, Portugis, dan Hongaria juga melonjak. Maka, Bank Sentral Eropa (ECB) berinisiatif menggulirkan program pembelian SUN untuk membuat pergerakan yield lebih terkendali.
Pada 6 September 2012, Presiden ECB Mario Draghi menyampaikan pihaknya tidak menetapkan batasan jumlah SUN yang dibeli dan tanggal berakhirnya program ini. ECB hanya mensyaratkan negara-negara zona euro yang ingin SUN-nya diborong agar mengajukan permohonan dana talangan (bailout) dari Dana Mekanisme Eropa (ESM).
ESM adalah dana penyelamatan Eropa untuk menggantikan paket dana sebelumnya yang bersifat sementara, yakni Fasilitas Stabilisasi Finansial Eropa (EFSF). Untuk mendapatkan akses dana ini negara penerima bantuan harus memenuhi sejumlah persyaratan yang ketat.
Salah satu persyaratan tersebut adalah penurunan defisit anggaran. Salah satu jalan untuk menurunkan defisit, yang paling direkomendasikan oleh para kreditur Eropa itu, adalah dengan pengetatan anggaran.
Pekan lalu, pemerintah Spanyol telah mengesahkan paket penghematan berikutnya agar defisit dapat mencapai target yakni 6,3% untuk tahun ini dan 4,5% untuk tahun depan dengan menaikkan pajak dan memangkas gaji pegawai negeri.
Namun, Rajoy belum mengajukan permohonan dana bantuan secara resmi hingga kini. Apalagi, kinerja SUN Spanyol dan Italia sempat menguat sejak ECB mengumumkan rencana pembelian SUN-nya.
Saat akan mengesahkan paket penghematan anggaran 2013 pada pekan lalu, Rajoy menyatakan siap mengajukan permohonan dana bantuan jika beban utang terlalu tinggi dalam waktu yang lama. Sebelumnya, dia mengatkan berkurangnya yield SUN Spanyol dapat membuat pihaknya enggan mencari dana bantuan.
“Spanyol tengah menunggu sinyal pasar sampai pasar mengharuskan mereka mengajukan permohonan dana bantuan [yang terlihat dari melonjaknya yield],” kata Ekonom Unika Atma Jaya A. Prasetyantoko saat dihubungi Bisnis beberapa waktu yang lalu.
Sepekan setelah pengumuman ECB, Mahkamah Konstitusi Jerman mengesahkan dana ESM. Jerman pun tampak mulai kehabisan kesabaran dengan ketidakjelasan sikap Spanyol. “Jika butuh bantuan, Rajoy harus menyampaikannya,” kata Michael Meister, petinggi Partai Uni Demokratik Kristen yang mengusung Angela Merkel sebagai kanselir Jerman.
Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan melihat pada akhirnya Spanyol akan mengajukan permohonan tersebut. “Mau tidak mau Spanyol akan minta bantuan karena pada akhirnya beban utang mereka akan kembali naik,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.
Namun, menurut Prasetyantoko, jika Rajoy jadi menandatangani komitmen untuk memenuhi persyaratan yang diberikan Uni Eropa untuk mendapatkan bailout, dia akan menghadapi tekanan politik yang luar biasa, baik dari pihak oposisi maupun dari rakyat Spanyol.
Meskipun belum menandatangi komitmen apapun, pekan lalu rakyat Yunani telah turun ke jalan dan berunjuk rasa memprotes kebijakan pengetatan anggaran. Bahkan, mereka bentrok dengan barikade kepolisian yang melindungi gedung parlemen Spanyol.
“Wajar saja jika rakyatnya marah karena uang yang biasanya mereka nikmati tiba-tiba ditarik,” ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti kepada Bisnis awal bulan ini.
Menurut Prasetyantoko, Fauzi, dan Destry, untuk jangka panjang strategi suntikan dana tidak akan dapat menyelesaikan krisis Eropa karena akar masalahnya adalah struktur fiskal yang tidak sehat.
Selama ini, dana bailout hanya digunakan untuk membayar utang, bukan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi. “Makanya dana bantuan untuk Spanyol harus melibatkan IMF dengan segala persyaratannya yang ketat karena jika tidak ada reformasi struktural akan sulit,” kata Fauzi.
Krisis utang Eropa yang dimulai sejak 2009 itu telah mengancam Eropa menuju resesi dan membantu memperlambat pertumbuhan ekonomi global akibat permintaan ekspor yang berkurang. Dana EFSF terbukti gagal menyembuhkan zona euro. Kita lihat saja sejauh mana Spanyol akan bertahan tanpa dana bantuan dan seberapa tangguh dana ESM bekerja.| AT | M | BS |
