Acehtraffic.com - Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, dalam pidatonya di sidang Majelis Umum PBB ke-67 memaparkan tahapan produksi bom nuklir dan juga penetapan garis merah untuk Iran.
Fars News 27 September 2012 melaporkan, Netanyahu dalam pidatonya menekankan pentingnya penetapan garis merah terkait program nuklir Iran.
"Ijinkan saya mengatakan kepada Anda mengapa harus ditentukan garis merah untuk program pengayaan uranium oleh Iran. Setiap bom terdiri dari bahan peledak dan sebuah mekanisme peledak yang contoh sederhananya adalah bom yang dengan mesiu di dalamnya meledak dengan menekan tombol dan pengaktifan fuse," jelasnya.
Ditambahkannya, terkait program nuklir Iran, mesiu itu adalah uranium yang telah diperkaya dan sulit bagi Iran untuk memproduksi dan mengumpulkan uranium akan tetapi alat untuk meledakkan bahan tersebut tidak terlalu sulit.
"Perlu bertahun-tahun bagi Iran untuk memperkaya uranium sehingga mampu memproduksi bom dan untuk hal ini diperlukan ribuan sentrifugal. Akan tetapi Iran dapat memproduksi komponen peledak bom nuklir dalam satu tahun atau beberapa bulan dan alat tersebut dapat diproduksi dalam sebuah ruangan kecil seukuran kelas," ujar Netanyahu.
Dalam menjelaskan level pengayaan uranium di Iran dan seberapa dekat Republik Islam dengan produksi bom nuklir, Netanyahu kemudian mengangkat sebuah papan grafik bergambar bom dan mengatakan, "Iran telah melalui tahap pertama dan sekarang sedang memasuki tahap kedua, hingga musim semi mendatang dan paling lambat sampai musim panas tahun depan, Iran telah menyelesaikan tahap kedua dan memasuki tahap terakhir. Setelah itu hanya perlu beberapa bulan atau beberapa minggu untuk memproduksi bom nuklir pertamanya."
Para pengamat berpendapat bahwa "pelajaran produksi bom atom" oleh Netanyahu di sidang Majelis Umum PBB itu juga berarti deklarasi kepada dunia bahwa Israel memang memiliki senjata pemusnah massal.
Namun di sisi lain, Republik Islam Iran telah berulangkali menyatakan bahwa program nuklirnya berstatus damai dan hal ini telah dibuktikan dalam berbagai laporan hasil inspeksi Badan Energi Atom Internasional. Klaim yang selama ini dikemukakan oleh Amerika Serikat, Israel dan negara-negara Barat soal penyimpangan dalam program nuklir Iran berasaskan asumsi.| AT | M | Irib |

.jpg)