Acehtraffic.com - Milisi bersenjata yang aktif di Libya menjadi beban dan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pemerintah. Tak hanya itu keberadaan milisi ini juga membahayakan kondisi Libya. Baru-baru ini terjadi peristiwa menggemparkan di Libya, ketika komandan staf gabungan militer Libya menyatakan bahwa enam anggota militer dari batalyon satu infantri di Benghazi tewas di tangan milisi bersenjata. Jenazah keenam militer ini ditemukan di salah satu kawasan di Benghazi.
Pergerakan dan aktivitas milisi bersenjata di Libya kian menambah beban dan kesulitan pemerintah yang baru dibentuk di negar a ini, khususnya di bidang keamanan. Pasca kemenangan revolusi rakyat di Libya, mayoritas kelompok milisi bersenjata secara sukarela membubarkan diri atau bergabung dengan militer. Sejumlah kelompok lainnya dengan dalih menuntut saham lebih di pemerintahan karena jasa mereka ikut menumbangkan diktator Muammar Gaddafi menolak untuk membubarkan diri atau bergabung dengan militer.
Sementera itu, pemerintah Libya dalam beberapa hari terakhir memutuskan untuk membubarkan milisi bersenjata yang masih berkeliaran di negara ini. keputusan ini diambil setelah sejumlah anasir milisi bersenjata menyerbu markas kubu Salafi di kota Benghazi, utara negara ini, serta membunuh beberapa orang. Keputusan Tripoli ini mendapat reaksi beragam dari pejabat. Sejumlah mereka memperingatkan dampak keamanan bagi keputusan ini.
Ketua parlemen Libya, Mohammad Yusuf al-Magariaf dilaporkan terlibat dalam perilisan keputusan pemerintah untuk membubarkan milisi bersenjata. Namun begitu, ia memperingatkan kemungkinan aksi kerusuhan akibat keputusan tersebut.
Serangan milisi bersenjata terhadap militer Libya yang mengakibatkan enam serdadu tewas selain menguatkan peringatan al-Magariaf juga mengindikasikan bahwa milisi bersenjata di negara ini tidak ingin menyerah dan meninggalkan arena untuk berhadapan dengan militer serta pemerintah.
Milisi bersenjata meyakini bahwa di perang 9 bulan menumbangkan Gaddafi, mereka telah memainkan peran vital yang menguntungkan revolusi. Namun ternyata di pemerintahan baru mereka tidak mendapat porsi yang pantas. Oleh karena itu, anasir bersenjata yang dibubarkan oleh pemerintah memilih melakukan aktivitas rahasia. Poin penting di sini adalah meski pemerintah menyatakan telah membubarkan milisi bersenjata, namun nyatanya kelompok ini masih aktif di seluruh negara ini. Bahkan di sejumlah kota mereka menentukan undang-undangnya sendiri.
Ada berita lain yang tak kalah mengejutkannya bahwa milisi bersenjata ini tak segan-segan bekerjasama dengan sejumlah negara temasuk Amerika Serikat di bidang intelijen. Strategi baru milisi ini yang memilih aktivitas rahasia tentunya akan berdampak buruk dan membahayakan Libya.
Di sisi lain, rakyat tidak puas dan menentang aktivitas milisi bersenjata ini. Mereka mendukung penuh keputusan pemerintah yang membubarkan kelompok ini. transformasi terbaru di Libya menunjukkan bahwa petinggi negara ini masih menghadapi kendala besar untuk menciptakan keamanan di berbagai wilayah. Meski Libya telah menggelar pemilu parlemen dan membentuk pemerintahan baru, namun hingga kini belum terbuka peluang untuk mengambil keputusan yang tegas dan penting.| AT | M | Irib |
