
Manila | acehtraffic.com - Film anti-Islam, Innocence of Muslims yang diproduksi di Amerika Serikat (AS) ditayangkan di sebuah universitas terkemuka Filipina, Jumat (21/09), dengan mengesampingkan larangan oleh petugas universitas itu yang tidak mau menyiarkannya atas faktor keamanan.
Roque mengatakan dia terpaksa menyediakan proyektor sendiri, komputer, speaker dan layar karena universitas tidak akan meminjamkan peralatan apapun.
Harry Roque, seorang pengacara hak asasi terkemuka dan juga dosen Universitas Filipina di Manila mengatakan, ia menyiarkan film itu sebagai pertunjukan kebebasan berekspresi.
"Sebagai seorang akademisi dan seorang pengacara, saya tidak bisa membenarkan hak asasi untuk dilanggar. Saya juga menjalankan dengan sempurna tugas saya sebagai dosen hukum dan saya siap menanggung akibatnya,??? katanya kepada wartawan.
Film amatir, yang dibuat oleh seorang ekstrimis Kristen di Amerika Serikat, telah memicu protes oleh umat Islam setidaknya di 20 negara sejak cuplikan yang diposting secara online. Lebih dari 30 orang telah tewas dalam aksi protes terkait
Meskipun Filipina sebagian besar Kristen, namun memiliki minoritas Muslim yang sebagian besar berbasis di selatan jauh, beberapa di antaranya telah melancarkan perjuangan bersenjata selama beberapa dekade untuk kemerdekaan.
Pada hari Senin, ratusan Muslim di kota Marawi Filipina selatan menggelar unjuk rasa non-kekerasan atas film anti-islam dan membakar bendera AS dan Israel.
Kelompok pejuang Front Pembebasan Islam Moro (MILF), yang terlibat dalam pembicaraan damai dengan pemerintah Filipina, menolak seruan Al-Qaeda untuk menyerang sasaran AS atas film tersebut. | AT | Z | AFP
