
Acehtraffic.com - Gelombang krisis ekonomi yang menimpa Israel semakin memburuk, dan kini disusul banjir krisis sosial yang semakin meluap. Setelah terjadi aksi bakar diri yang menewaskan dua orang belum lama ini, kini media massa Israel Kamis (20/9) memberitakan aksi nekat delapan pemuda Zionis yang mengancam akan melakukan tindakan bunuh diri massal.
Aksi protes tersebut mendapat dukungan dari puluhan orang lainnya yang mengancam akan melukakan bunuh diri massal mendukung tindakan delapan pemuda itu. Sehari sebelumnya, seorang Zionis Rabu (19/9) melakukan aksi bunuh diri di dalam mobilnya di wilayah Israel Utara.
Beberapa waktu lalu kantor pusat departemen kesejahteraan Israel dihujani ratusan telpon yang mengancam akan melakukan aksi bunuh diri massal sebagai bentuk protes atas memburuknya kondisi ekonomi rezim agresor itu. Dilaporkan setiap tahun setidaknya 400 orang Zionis melakukan aksi bunuh diri. Dan jumlahnya tahun ini diprediksi semakin meningkat seiring gelombang baru bunuh diri dengan membakar diri.
Fenomena eskalasi aksi bunuh diri massal menjadi lonceng kematian bagi rezim Zionis yang telah bersusah payah mendatangkan para imigran itu dari berbagai negara dunia. Para pengamat menilai fenomena itu dipicu sejumlah masalah. Pertama, tingginya kesenjangan sosial di dalam Israel sendiri. Tidak hanya itu dikriminasi dan rasisme menyebar luas di kalangan masyarakat Israel. Wajah diskriminatif rezim agresor itu semakin terbuka bagi publik dunia yang selama ini ditutupi kedok palsunya. Ternyata para zionis ekstrim itu bukan hanya melakukan berbagai kejahatan seperti pejarahan, penculikan, pemenjaraan hingga pembunuhan terhadap warga Palestina. Bahkan, terhadap sesama warga Israel sendiri mereka sangat rasis.
Stratifikasi sosial Ashkenazi, (Yahudi dari negara-negara Barat), Sephardim (Yahudi dari negara Timur), dan Falasha (Yahudi dari Afrika) menunjukkan fakta sebenarnya mengenai diskriminasi di tengah struktur masyarakat Israel sendiri. Rezim Tel Aviv menempatkan Ashkenazi sebagai warga kelas satu, sedangkan Sephardim sebagai kelas dua, dan Falasha sebagai kelas tiga.
Pos-pos penting pemerintahan dan masyarakat dikuasai Ashkenazi. Sebagai warga kelas dua, Sephardim tidak diberikan kesempatan untuk mengisi lini-lini penting di sektor sosial dan politik. Padahal mereka adalah mayoritas penghuni Israel. Sementara itu, Falasha yang lebih rendah posisinya dari Sephardim mengalami kondisi yang lebih buruk lagi. Mereka menjadi sasaran diskriminasi sesama Yahudi ekstrim di Israel yang mungkin setara dengan Apartheid dan Fasisme.
Kedua, memburuknya kondisi perekonomian Israel dan tingginya tingkat korupsi yang dilakukan pejabat teras rezim Zionis meningkatkan keputusasaan di kalangan warga Zionis, terutama etnis Sephardim dan Falasha.
Ketiga, di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan sosial Israel, kebijakan haus perang Tel Aviv dan ancaman serangan terhadap Iran yang dipropagandakan Netanyahu semakin memicu kecaman keras di tubuh warga Zionis sendiri.
Ketiga variabel tersebut menyebabkan tingginya masalah sosial rezim Zionis antara lain: bunuh diri, konsumsi narkotika, dan berbagai bentuk kriminalitas seperti perampokan dan pencurian yang semakin meresahkan masyarakat Israel.
Di sisi lain, mereka didatangkan dari berbagai negara ke Palestina Pendudukan dengan iming-iming "Surga yang Dijanjikan". Sebagian warga Zionis melakukan eksodus besar- besaran meninggalkan Israel.
Sejatinya, berbagai variabel ini menunjukkan bahwa rezim Zionis bukan hanya menghadapi krisis sosial dan ekonomi. Tapi lebih jauh lagi ancaman terhadap eksistensi Israel sendiri yang semakin ditinggalkan oleh kaum Yahudi sendiri. Seperti kereta yang ditinggalkan para penumpangnya, gerbong-gerbong itu mulai kosong sedangkan para pengendali lokomotifnya sibuk menghitung pundi-pundi dan tidak mempedulikan arah kereta yang sedang melaju kencang menuju gerbang kehancuran.| AT | M | Irib |
Aksi protes tersebut mendapat dukungan dari puluhan orang lainnya yang mengancam akan melukakan bunuh diri massal mendukung tindakan delapan pemuda itu. Sehari sebelumnya, seorang Zionis Rabu (19/9) melakukan aksi bunuh diri di dalam mobilnya di wilayah Israel Utara.
Beberapa waktu lalu kantor pusat departemen kesejahteraan Israel dihujani ratusan telpon yang mengancam akan melakukan aksi bunuh diri massal sebagai bentuk protes atas memburuknya kondisi ekonomi rezim agresor itu. Dilaporkan setiap tahun setidaknya 400 orang Zionis melakukan aksi bunuh diri. Dan jumlahnya tahun ini diprediksi semakin meningkat seiring gelombang baru bunuh diri dengan membakar diri.
Fenomena eskalasi aksi bunuh diri massal menjadi lonceng kematian bagi rezim Zionis yang telah bersusah payah mendatangkan para imigran itu dari berbagai negara dunia. Para pengamat menilai fenomena itu dipicu sejumlah masalah. Pertama, tingginya kesenjangan sosial di dalam Israel sendiri. Tidak hanya itu dikriminasi dan rasisme menyebar luas di kalangan masyarakat Israel. Wajah diskriminatif rezim agresor itu semakin terbuka bagi publik dunia yang selama ini ditutupi kedok palsunya. Ternyata para zionis ekstrim itu bukan hanya melakukan berbagai kejahatan seperti pejarahan, penculikan, pemenjaraan hingga pembunuhan terhadap warga Palestina. Bahkan, terhadap sesama warga Israel sendiri mereka sangat rasis.
Stratifikasi sosial Ashkenazi, (Yahudi dari negara-negara Barat), Sephardim (Yahudi dari negara Timur), dan Falasha (Yahudi dari Afrika) menunjukkan fakta sebenarnya mengenai diskriminasi di tengah struktur masyarakat Israel sendiri. Rezim Tel Aviv menempatkan Ashkenazi sebagai warga kelas satu, sedangkan Sephardim sebagai kelas dua, dan Falasha sebagai kelas tiga.
Pos-pos penting pemerintahan dan masyarakat dikuasai Ashkenazi. Sebagai warga kelas dua, Sephardim tidak diberikan kesempatan untuk mengisi lini-lini penting di sektor sosial dan politik. Padahal mereka adalah mayoritas penghuni Israel. Sementara itu, Falasha yang lebih rendah posisinya dari Sephardim mengalami kondisi yang lebih buruk lagi. Mereka menjadi sasaran diskriminasi sesama Yahudi ekstrim di Israel yang mungkin setara dengan Apartheid dan Fasisme.
Kedua, memburuknya kondisi perekonomian Israel dan tingginya tingkat korupsi yang dilakukan pejabat teras rezim Zionis meningkatkan keputusasaan di kalangan warga Zionis, terutama etnis Sephardim dan Falasha.
Ketiga, di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan sosial Israel, kebijakan haus perang Tel Aviv dan ancaman serangan terhadap Iran yang dipropagandakan Netanyahu semakin memicu kecaman keras di tubuh warga Zionis sendiri.
Ketiga variabel tersebut menyebabkan tingginya masalah sosial rezim Zionis antara lain: bunuh diri, konsumsi narkotika, dan berbagai bentuk kriminalitas seperti perampokan dan pencurian yang semakin meresahkan masyarakat Israel.
Di sisi lain, mereka didatangkan dari berbagai negara ke Palestina Pendudukan dengan iming-iming "Surga yang Dijanjikan". Sebagian warga Zionis melakukan eksodus besar- besaran meninggalkan Israel.
Sejatinya, berbagai variabel ini menunjukkan bahwa rezim Zionis bukan hanya menghadapi krisis sosial dan ekonomi. Tapi lebih jauh lagi ancaman terhadap eksistensi Israel sendiri yang semakin ditinggalkan oleh kaum Yahudi sendiri. Seperti kereta yang ditinggalkan para penumpangnya, gerbong-gerbong itu mulai kosong sedangkan para pengendali lokomotifnya sibuk menghitung pundi-pundi dan tidak mempedulikan arah kereta yang sedang melaju kencang menuju gerbang kehancuran.| AT | M | Irib |
