News Update :

Konsekuensi Aksi Penistaan

Senin, 17 September 2012

Acehtraffic.com - Semua kalangan politisi, sosial dan media memahami bahwa penghinaan terhadap kesucian Islam seperti pelecehan terhadap al-Quran dan Nabi Muhammad Saw akan menyulut kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Pihak-pihak yang sengaja menghina kesucian Islam pada dasarnya telah menyulut perang peradaban dan konflik di antara penganut agama dan bangsa.

Penistaan terhadap kesucian Islam telah terjadi sejak lebih dari 14 abad lalu. Di masa permulaan Islam, orang-orang yang bodoh dan tidak mampu mencegah meluasnya ajaran suci Nabi Muhammad Saw berupaya membendung meluasnya ajaran ini dengan cara menebar fitnah, adu domba, pelecehan dan penghinaan. Meski demikian, upaya-upaya musuh Islam tidak mampu menghancurkan keagungan agama samawi ini dan bahkan ajaran Rasulullah Saw tetap berkembang luas hingga saat ini.

Pada dekade terakhir, musuh-musuh Islam menggunakan metode baru yang lebih terorganisir untuk menistakan kesucian Islam. Mereka seakan ingin menyulut Perang Salib baru di dunia. Genderang Perang Salib baru ini pertama kalinya ditabuh oleh Salman Rushdie dengan menulis dan mempublikasikan sebuah buku berjudul "Ayat-ayat Setan". Buku tersebut terang-terangan telah melecehkan kesucian Nabi Muhammad Saw.

Buku Salman Rushdie telah menyulut kemarahan dunia Islam dan membuat darah umat Islam mendidih. Meski aksi-aksi seperti itu dikecam, namun tindakan nista itu selalu diulang. Musuh-musuh Islam terus melancarkan tindakan provokatif dan melukai hati satu miliar lebih umat Islam. 

Upaya lain musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan kesucian agama ini adalah dengan cara membentuk berbagai kelompok ekstremis di antara umat Islam. Kelompok ini kemudian menebarkan berbagai tindakan kekerasan yang tidak sesuai dengan ajaran suci Islam, bahkan melakukan berbagai kejahatan seperti pemboman dan aksi teror lainnya atas nama Islam. Dengan demikian, musuh-musuh Islam dapat menjustifikasi tindakan permusuhan mereka dan mempropagandakan kepada publik bahwa Islam adalah agama kekerasan yang harus dimusuhi.

Kelompok ekstremis seperti al-Qaeda terbentuk tidak lepas dari peran Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA), meski kelompok ini kemudian mengancam kepentingan AS dan Barat. Al-Qaeda dan Salafi mengklaim bahwa mereka berperang dan berjuang demi Islam, padahal tindakan mereka yang menebar teror seperti pemboman dan pembantaian, bahkan pembunuhan dengan cara menggorok leher korban yang mereka anggap halal darahnya telah mengotori wajah Islam dan memperburuk citra agama suci ini serta bertentangan dengan ajaran Islam yang cinta perdamaian.

Kelompok-kelompok ekstremis ini dimanfaatkan AS untuk mengejar ambisinya. Pasca serangan terhadap gedung World Trade Center New York pada 11 September, Washington menyebut al-Qaeda sebagai dalang dalam serangan tersebut dan menjadikan hal itu sebagai dalih untuk melancarkan agresi ke negara lain. Kemudian militer AS membantai warga Muslim di Afghanistan dan Irak dan merampas harta benda mereka dengan dalih memerangi terorisme.

Di sisi lain, musuh-musuh Islam membuat berbagai karikatur anti-Islam di Denmark dan memporduksi film di Belanda yang melecehkan agama suci ini. Mereka mengklaim memporduksi film tersebut demi melawan kelompok yang mereka sebut "umat Islam" di Timur Tengah. Sementara itu, Terry Jones ,seorang pastor dari Florida Amerika Serikat mengorganisir 50 orang untuk menggelar aksi pembakaran al-Quran dalam acara memperingati peristiwa 11 Septermber.

Upaya terbaru pengagum Perang Salib baru adalah memproduksi film penghinaan terhadap kesucian Rasulullah Saw yang berjudul  "Innocence of Muslims". Film ini dibuat oleh Sam Bacile, seorang warga California Amerika Serikat keturunan Israel dengan sumbangan Zionis sebesar 5 juta dolar.

Film anti-Islam yang disebarkan melalui Youtube itu telah menyulut kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Ribuan warga Mesir menyerbu gedung Kedutaan Besar AS di Kairo dan menurunkan bendera negara itu serta mengibarkan sebuah bendera bertuliskan syahadah  ""Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah" di atas gedung tersebut . Di sisi lain, warga Libya yang marah mengepung konsulat Amerika di kota Benghazi, bahkan aksi protes tersebut menyebabkan tewasnya Duta Besar Amerika Serikat Christopher Steven dan tiga diplomatnya.

Sebenarnya, peristiwa di Benghazi dapat dikatakan sebagai puncak lain dari genderang perang peradaban yang ditabuh oleh musuh-musuh Islam. Sebab, pertama, peristiwa ini dijadikan alat musuh untuk mengurangi perhatian opini publik terhadap gelombang protes umat Islam yang menentang film tersebut. Kedua, para pengagum perang Salib akan menggunakan peristiwa ini sebagai dalih untuk melanjutkan kekerasan terhadap umat Islam. Padahal, saat ini ditemukan tanda-tanda bahwa dalang pembunuhan terhadap Dubes AS di Libya mengarah kepada kelompok teroris al-Qaeda di mana anasir kelompok ini menembakkan roket ke konsulat AS.

Serangan terhadap konsulat AS di kota Benghazi yang bersamaan dengan hari penyerangan terhadap gedung WTC pada 11 September mengindikasikan adanya skenario tertentu di balik serangan yang menewaskan Dubes AS itu. Ada kemungkinan Washington dengan dalih serangan tersebut akan mengerahkan pasukannya ke Libya dan membajak revolusi di negara itu atau paling tidak mengontrol Kebangkitan Islam di kawasan sesuai dengan kepentingan Gedung Putih. Hal itu diperkuat dengan agresi Amerika ke Afghanistan dan Irak pasca serangan 11 September sekitar sebelas tahun lalu dan ada kemungkinan Washington akan mengulangi cara-cara yang sama.
Jika Barat menuding umat Islam sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan gedung WTC di New York dan konsulat AS di Benghazi kemudian mencampur hal itu dengan protes umat Islam terhadap film penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw, maka dunia akan terseret ke dalam perang peradaban.

Dalam kondisi ini, tidak hanya umat Islam yang akan menanggungnya tetapi keamanan warga Barat juga terancam. Dengan demikian, tindakan provokatif seperti pelecehan, penghinaan, kekerasan dan agresi harus dihindari. Menghormati nilai-nilai semua agama di dunia serta menjaga martabat manusia adalah hal yang urgen untuk menjaga keamanan dunia.| AT | M | Irib |
Share this Article on :
 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016