Jakarta | Acehtraffic.com - Kepulan asap putih dari rumah di Tambora membuka tabir sebuah perencanaan jahat. Salah seorang penghuni, Muhamad Toriq ternyata sedang meracik sebuah bom, tetapi gagal. Ketika polisi datang Toriq berhasil melarikan diri.
Kala itu, Rabu (5/9) awalnya warga mengira asap berasal dari kebakaran. Setelah tim Gegana melakukan penyisiran ternyata ditemukan sejumlah bahan peledak. Belum diketahui secara pasti akan digunakan untuk apa bom rakitan itu, tapi polisi mengatakan toriq berencana membawa bom itu ke Ambon.
Dalam beberapa hari keberadaan Toriq sulit dilacak. Sampai pada akhirnya terjadi sebuah ledakan hebat di Jalan Nusantara Beji, Depok pada Sabtu (8/9) malam. Selang satu hari setelah ledakan itu tiba-tiba saja Toriq menyerahkan diri ke Pos Pol Jembatan Lima. Polisi menyebut Toriq menyerah karena kangen keluarga.
Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui Toriq berada di Depok saat bom yang melukai tiga orang itu meledak. "Toriq ada dalam ledakan di Beji, Depok," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto.
Peran bapak beranak satu itu tidak bisa dianggap enteng. Polisi menyebut Toriq sudah merencanakan empat aksi bom bunuh diri, yaitu Mako Brimob, Pos Polisi Salemba, kantor Densus 88 dan kantor komunitas Buddha di Jakarta. Dia juga diketahui sempat singgah di Bogor, rumah yang siang kemarin di geledah Densus 88.
Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo melihat aksi Toriq merupakan bagian dari sisa-sisa sel teroris yang bergerak secara individu. Meski memiliki target aparat, namun Mardigu belum melihat adanya kaitan Toriq dan kawan-kawan dengan pelaku teror di Solo.
"Saya belum lihat kesamaan, tetapi bisa dicurigai. Ditemukannya senjata Bareta bisa jadi memang satu jaringan," kata Mardigu kepada merdeka.com, Selasa (10/9).
Mengenai peran, menurut Mardigu, Toriq hanya sebagai perakit bom. Melihat dua kegagalan yang terjadi di Tambora dan Depok, bisa dipastikan sepak terjang Toriq masih sangat minim.
"Kalau dilihat orang ini tidak pengalaman. Di Tambora salah racik, tidak profesional, tetapi punya ambisi besar," katanya.
Mardigu menilai tidak sebanding jika Toriq disebut-sebut sebagai generasi dr Azahari bin Husin, teroris yang pandai membuat bom. "Engga sampai, masih jauh. Pengetahuannya juga beda," kata Mardigu.
Menurut Mardigu, para pelaku teror saat ini sudah tidak lagi berkelompok seperti pelaku bom Bali dan JW Marriott 2003. Namun Polri, BIN dan BNPT harusnya bersinergi menumpas sel-sel teroris.| AT | M | MR |

