News Update :

Utusan PBB desak kekerasan atas etnis Rohingya diusut

Minggu, 05 Agustus 2012

Acehtraffic.com - Tomas Ojea Quintana, utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Myanmar, kemarin mendesak segera memulai penyelidikan independen atas konflik antara etnis Rohingya dan Rakhai di Negara Bagian Rakhine. Hal itu diperlukan lantaran negara itu dianggap menghadapi banyak tantangan soal hak asasi manusia.

Dia menganggap kekerasan antara dua etnis itu mesti diusut menyeluruh. Selain itu ada laporan menyebutkan polisi dan tentara menyiksa dan membunuh orang Rohingya. "Saya peduli dan sampai saat ini saya banyak menerima laporan pelanggaran hak asasi manusia serius dalam upaya mengembalikan keamanan dan ketertiban di daerah itu," kata Quintana seperti dilansir dari stasiun televisi AlJazeera, Minggu (5/8).

Namun, meski Quintana mengaku saat ini tidak berhak membenarkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, tapi masalah itu menjadi perhatian utama. Menurut dia, pengusutan atas kekerasan itu penting dilakukan agar semua pihak paham tentang apa yang terjadi dan tidak membuat asumsi menyesatkan.

Quintana Sabtu kemarin mengakhiri kunjungannya ke Myanmar, khususnya ke Kota Arakan, Negara Bagian Rakhine, sejak tiba Senin lalu. Kota itu adalah lokasi kekerasan terparah menyebabkan etnis Rohingya terbantai akhir Juni lalu.

Akhir Juni lalu pecah kerusuhan antara etnis minoritas muslim Rohingya dan Rakhai beragama Buddha di Negara Bagian Rakhine, barat Myanmar. Hal itu dipicu selentingan gadis Buddha diperkosa tiga pria Rohingya dua bulan sebelumnya. Warga dari etnis mayoritas mengamuk dan menyerang perkampungan minoritas muslim itu.

Penduduk mayoritas makin terpancing emosi lantaran permasalahan Rohingya sudah berlarut-larut tidak terselesaikan. Setelah kudeta militer pada 1950-an, pemerintah Myanmar sampai saat enggan mengakui penduduk minoritas itu sebagai salah satu etnis di negara mereka. Orang Rohingya dianggap pendatang ilegal dari Bangladesh. Tetapi Dhaka menampik tudingan dan lepas tangan soal kaum terbuang itu.

Berdasarkan catatan pemerintah Myanmar, sejak insiden kekerasan pertama kali terjadi, sebanyak 78 warga Rohingya tewas serta 90 ribu penduduk minoritas itu kehilangan rumah dan harus hidup di penampungan. Dari data tidak resmi, korban tewas hampir pasti mencapai 650 jiwa. Beberapa sumber bahkan menyebut ribuan muslim Rohingya tewas selama dua bulan terakhir.

Sampai saat ini belum jelas apa pemicu kerusuhan di Kota Arakan antara etnis muslim Rohingya dan Rakhai beragama Buddha. Menurut data dilansir PBB, saat ini ada sekitar 800 ribu pengungsi Rohingya di Myanmar. Selain masalah pengakuan kewarganegaraan, kesenjangan ekonomi dan sosial serta pembedaan perlakuan ditengarai makin membangkitkan konflik antarsuku.

Bahkan pejuang demokrasi legendaris Myanmar Aung San Suu Kyi tidak berani terang-terangan menawarkan solusi buat masalah itu. Saat pidato pertamanya di depan parlemen awal Juni lalu, pemimpin oposisi itu terlihat berhati-hati menyinggung soal Rohingya. Dia memillih menggunakan kata etnis minoritas buat memperhalus makna. Dia melakukan itu lantaran banyak pendukungnya anti-Rohingya.| AT | M | MR |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016