Jakarta | Acehtraffic.com- Seringnya salah dalam memberikan pernyataan, sejumlah kalangan mulai meragukan kemampuan Walikota Solo Joko Widodo dalam memimpin Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2012
Dengan kesalahan yang sering dilakukan, pemahaman Jokowi akan Jakarta dianggap kurang.
Dengan kesalahan yang sering dilakukan, pemahaman Jokowi akan Jakarta dianggap kurang.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) DKI Jakarta, Pardi mengatakan, melihat begitu seringnya Jokowi melakukan kesalahan dalam mengungkapkan data dan fakta, pemahamanan Jokowi terhadap Jakarta sangat lemah.
"Pemahaman masih lemah, Jokowi belum pantas menjadi gubernur DKI Jakarta,” kata Pardi, Selasa 28 Agustus 2012. Sebagai salah satu anggota DPD yang mewakili masyarakat Jakarta, dirinya menyayangkan dengan cara-cara berkampanye asal ucap atau asal janji.
“Jangan karena ingin mencitrakan, lantas berupaya mendeskreditkan lawan dengan memberikan dan mengarahkan pemahaman yang keliru kepada masyarakat. Itu cara yang tidak benar,” ungkapnya.
Dengan pemahaman yang lemah, ia semakin tidak yakin jika Jokowi-Ahok bisa membuat Jakarta lebih baik. Semboyan perubahan yang diusung oleh pasangan ini, lanjut Pardi, lebih hanya untuk pemanis dalam kampanye.
"Pemahaman masih lemah, Jokowi belum pantas menjadi gubernur DKI Jakarta,” kata Pardi, Selasa 28 Agustus 2012. Sebagai salah satu anggota DPD yang mewakili masyarakat Jakarta, dirinya menyayangkan dengan cara-cara berkampanye asal ucap atau asal janji.
“Jangan karena ingin mencitrakan, lantas berupaya mendeskreditkan lawan dengan memberikan dan mengarahkan pemahaman yang keliru kepada masyarakat. Itu cara yang tidak benar,” ungkapnya.
Dengan pemahaman yang lemah, ia semakin tidak yakin jika Jokowi-Ahok bisa membuat Jakarta lebih baik. Semboyan perubahan yang diusung oleh pasangan ini, lanjut Pardi, lebih hanya untuk pemanis dalam kampanye.
“Saya melihat, dalam kampanye dan berbagai pernyataan Jokowi-Ahok hanya untuk mencari popularitas,” katanya.
Seperti diketahui, beberapa pernyataan Jokowi tentang Jakarta sering dianggap salah. Sebagai contoh saat Jokowi mengungkapkan jumlah angka kemiskinan di Jakarta yang mencapai 20 persen. Padahal menurut BPS angka kemiskinan di Jakarta hanya 3,8 persen.
Begitu juga saat penyampaian visi, misi dan program pasangan Cagub dan Cawagub di DPRD DKI Jakarta saat putaran pertama lalu. Saat itu Jokowi menyatakan Pemprov DKI sama sekali tidak terlibat dalam proyek Banjir Kanal Timur (KBT). Pernyataan ini langsung dibantah oleh Pemprov DKI, karena 60% dari dana pembangunan KBT berasal dari APBD Jakarta.
Tak hanya itu, saat Jokowi mempertanyakan penggunaan APBD DKI selama 5 tahun terakhir, yang mempertanyakan kemana penyaluran dana APDB sebesar Rp44 triliun. Padahal, selama ini Pemprov DKI sangat transparan dalam mengelola APBD DKI.
Seperti diketahui, beberapa pernyataan Jokowi tentang Jakarta sering dianggap salah. Sebagai contoh saat Jokowi mengungkapkan jumlah angka kemiskinan di Jakarta yang mencapai 20 persen. Padahal menurut BPS angka kemiskinan di Jakarta hanya 3,8 persen.
Begitu juga saat penyampaian visi, misi dan program pasangan Cagub dan Cawagub di DPRD DKI Jakarta saat putaran pertama lalu. Saat itu Jokowi menyatakan Pemprov DKI sama sekali tidak terlibat dalam proyek Banjir Kanal Timur (KBT). Pernyataan ini langsung dibantah oleh Pemprov DKI, karena 60% dari dana pembangunan KBT berasal dari APBD Jakarta.
Tak hanya itu, saat Jokowi mempertanyakan penggunaan APBD DKI selama 5 tahun terakhir, yang mempertanyakan kemana penyaluran dana APDB sebesar Rp44 triliun. Padahal, selama ini Pemprov DKI sangat transparan dalam mengelola APBD DKI.
Bahkan masyarakat dengan sangat mudah mengakses melalui internet penggunaan APBD DKI Jakarta melalui laporan yang diterbitkan tiap tahun sejak era kepemimpinan Fauzi Bowo | AT | R | INC |


0 komentar:
Posting Komentar