Kutacane | Acehtraffic.com - Suhu politik di Kabupaten Aceh Tenggara [Agara] memanas ditandai aksi demo ribuan orang menuntut pilkada ulang karena salah satu pasangan yang unggul diyakini melakukan praktik money politic. Gelombang demo yang sempat diwarnai tembakan peringatan oleh pihak keamanan tersebut berlangsung Rabu, 4 Juli 2012 oleh massa yang menamakan diri Front Rakyat Bersatu Aceh Tenggara [FRB Agara].
Memulai aksinya, para demonstran berjalan kaki lebih 1 kilometer dari pelataran parkir Stadion Haji Syahadat Kutacane menuju Kantor Panwas Agara di Kutacane. Mereka disambut Ketua Panitia Pengawas [Panwas] Pilkada Agara, Junianto Siahaan.
Para pengunjuk rasa membawa soundsystem di dalam mobil pikap, sehingga kritikan dan orasi mereka lebih jelas terdengar. Massa juga mengusung berbagai poster yang berisi desakan agar aparat hukum mengusut tuntas kecurangan pilkada dan money politics yang mereka klaim sebagai upaya pembodohan rakyat.
Di depan Ketua Panwas Agara, para demonstran menuntut selain Pilkada Agara harus diulang, kandidat yang terbukti melakukan money politics juga harus didiskualifikasi dari daftar calon bupati/wakil bupati. Mereka juga meminta agar dihentikan penghitungan suara sementara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan [PPK].
Selain itu, massa meminta Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] mengusut dugaan korupsi pembangunan Masjid Taqwa Agara dan tuntutan lainnya berkaitan dengan pelaksanaan Pilkada Agara yang mereka anggap penuh dengan pelanggaran yang dilakukan salah satu pasangan calon bupati/wakil bupati Agara.
Babak belur
Saat bergerak ke Kantor Panwas Agara, massa demonstran memukuli seorang warga secara brutal sehingga babak belur. Aparat kepolisian berseragam Polri maupun yang memakai baju preman yang berada di lokasi itu langsung melepaskan berkali-kali tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa yang mulai anarkis.
Warga yang dipukuli itu belakangan diketahui bernama Alex, warga Desa Sebungke, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara. Korban amuk massa itu kini diamankan aparat di Mapolres Agara dengan kondisi babak belur. Wajah dan mata kanannya berdarah. Namun, belum jelas apa penyebab dia dipukuli massa.
Pertemuan tertutup
Ketika massa berdemo di luar Kantor Panwas Agara, unsur Muspida Agara yang terdiri atas Dandim 0108 Agara Letkol Inf R Andi Roediprijatna W, Kapolres Agara AKBP Trisno Riyanto, serta Ketua Panwas Agara Junianto Siahaan dan Ketua KIP Agara Dedi Mulyadi menggelar pertemuan tertutup di kantor panwas setempat dengan enam kandidat calon bupati/wakil bupati Agara.
Pertemuan itu membahas agar tahapan Pilkada Agara segera dihentikan dan memproses pelanggaran-pelanggaran pilkada seperti praktik money politics, kampanye terselubung, dan kepemilikan senjata tajam yang ditemukan di dalam mobil salah satu tim sukses kandidat.
Pertemuan itu dihadiri pasangan nomor urut 1, Raidin Pinim/Muslim Aiyub [Rapi Mulia], nomor urut 4, H Armen Desky/Tgk Appan JS [Harapan], cabup nomor urut 7, M Ridwan SKD, cabup nomor urut 6, Amri Selian, dan Marthin Desky, cabup nomor urut 5. Sedangkan satu pasangan lainnya, yaitu Hasanuddin B [Sanu]/Ali Basrah dengan nomor urut 2 tak hadir dalam forum tersebut.
Di antara calon bupati yang meminta Panwas maupun KIP Agara menghentikan tahapan pilkada adalah Armen Desky. Seusai mendengarkan orasi singkat Armen Desky, sebagian massa langsung membubarkan diri. Tapi ada juga yang masih menunggu sampai Panwas Agara mengeluarkan rekomendasi agar pilkada di kabupaten itu diulang. Hingga pukul 15.00 WIB, sebagian massa masih berkerumun di halaman Kantor Panwas Agara. | AT | SR |


0 komentar:
Posting Komentar