News Update :

Politik Balas Jasa Usai Pilkada

Minggu, 06 Mei 2012

Manakala pengusaha dan penguasa serta elit-elit politik saling berkalaborasi untuk memenangkan pilkada.

Tidak dapat dipungkiri bahwa korporatisme antara penguasa dan pengusaha serta elit-elit politik seringkali menyisakan cerita tentang politik balas jasa,   para investor politik yang menanamkan modal baik itu modal finansial maupun modal politik. 

Tentu tidak akan tinggal diam manakala kandidat sokongannya terpilih sebagai pemangku jabatan kepala daerah, baik itu kepala daerah ditingkat Provinsi, kabupaten maupun kota.

Logika investasi yang berusaha melipat gandakan investasi capital sudah barang tentu akan menagih pelbagai macam bentuk konsesi dan kesepakan maupun kompromi yang dilakukan sebelum pilkada berlangsung bias tender, bias proyek, dan bias ekonomi politik lainnya hadir dalam keseharian pemerintahan pemimpin terpilih.

Sehingga apa yang ditakutkan oleh banyak pengamat dan ilmuan mengenai shadow government (pemerintah bayangan) menjadi kenyataan setelah Pilkada, pemerintah daerah tidak lagi dijalankan oleh aparatur secara formal tetapi sangat ditentukan oleh pengusaha atau pihak donatur yang menagih janji konsesi dan kompromi selama pra pilkada.

Dalam study state society relation keberadaan praktek shadow government atau informal governance (pemerintahan bayangan). William Sampson Klock Reno (1992) mengatakan fenomena pemerintah bayangan bukanlah sesuatu hal yang baru, ia sudah muncul kepermukaan sejak awal tahun 1990-an.

Sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh kalangan tertentu terhadap seseorang calon yang ikut bersaing dalam pemilihan kepala daerah baik itu ditingkat Provinsi kabupaten dan kota tidak hanya dalam bentuk uang atau finansial akan tetapi juga dalam bentuk pengaruh politik yang dimiliki oleh individu tersebut.

Salah satu kasus kecil politik balas jasa

Jika kita meninjau agak jauh kebelakang, salah satu penyebab kehancuran pemerintahan kabupaten Aceh Utara dibawah kepemimpinan Ilyas A Hamid / Syarifuddin yang merupakan Bupati/Wakil Bupati yang terpilih pada pilkada Aceh Utara tahun 2006, selain disebabkan oleh pemahaman Ilyas A Hamid yang sangat kurang terhadap birokrasi pemerintahan, juga disebabkan oleh politik balas jasa. 

Seperti menempatan beberapa timses dalam posisi penting dalam pemerintahan, padahal orang yang ditepatkan tersebut bukanlah orang-orang yang kredibel dibidangnya, akan tetapi perkara tersebut tidak dapat dihindari oleh Ilyas A Hamid pada saat itu, disebabkan oleh kesepakatan-kesepakatan politik saat ia maju sebagai calon bupati, dan wajib dipenuhi setelah ia terpilih.

Pasca terpilihnya Ilyas A Hamid yang lazim disapa Ilyas Pasee, salah satu gebrakan utama yang ia lakukan adalah menggantikan Direktur PDAM Tirta Mon Pase Ir. Azhari Ali dengan Yunus Gani Kiran, pasca ia melakukan pergantian tersebuat banyak pihak mengkhawatirkan PDAM tirta mon pase akan amburadul sebab tidak di urus oleh orang yang tepat, karena jika menelihat latar belakang Yunus Gani Kiran dia bukanlah orang yang tepat dalam mengurus  PDAM karena baground dia sebelum itu hanya sebagai advokat.

Dan banyak lagi kasus lain yang membuat Aceh utara semakin tidak menentu disebabkan oleh kebijakan politik yang salah arah.

Disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang terus menerus telah membuat kondisi Aceh utara dalam suasana kacau secara ekonomi sampai dengan saat sekarang ini, walaupun Ilyas A Hamid tidak lagi menjabat sebagai Bupati Aceh Utara akan tetapi dosa-dosa politik yang pernah ia lakukan terus berdampak kepada segenap komponen masyarakat di Kabupaten Aceh Utara. 

Dan ini semua hanya satu contoh politik balas jasa dan masih banyak kasus lain yang tidak mungkin diuraikan satu-persatu

Kemungkinan politik balas jasa pasca pilkada, 9 April 2012

Dalam konteks pilkada Aceh 9 April yang lalu, praktek politik balas jasa bukan tidak mustahil akan terjadi, dimana  kita bisa melihat selama proses pilkada Aceh banyak elit politik jakarta yang ikut bergabung dalam tim gubernu terpilih, dan jika meninjau lebih mendalam, keterlibatan mereka dalam tim tersebut bukanlah tanpa tujuan, sebab dalam politik itu tiada makan siang yang gratis.

Kepergian Zaini Abdullah/Muzakir Manaf ke Jakarta pasca dinyatakan keluar sebagai pemenang oleh komisi independen pemilihan Aceh, yaitu dengan menjumpai elit-elit politik dijakarta serta didampingi oleh para mantan Jendral yang ikut bergabung dalam tim pemenangan ZIKIR semasa proses pilkada Aceh berlangsung, menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat Aceh, ada apa sebenarnya?

Kenapa mereka begitu tergesa-gesa pergi kejakarta untuk menjumpai elit-elit politik disana daripada turun ke daerah-daerah untuk menjumpai konstituen yang telah memilih mereka serta mengajak kepada semua komponen untuk sama-sama membangun Aceh, Apakah agenda politik disana lebih penting, ataupun ada sesuatu hal yang tersembunyi dibalik kunjungan yang bertopengkan silaturrahmi.  Waktu akan menjawabnya

Sungguh sangat ironi apabila untuk mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah memilih mereka hanya cukup dengan membuat pernyataan dimedia masa, sedangkan untuk elit-elit dijakarta harus mengunjungi mereka satu-persatu. Bukannya maksud penulis mengatakan mereka tidak boleh berkunjung kejakarta untuk menjumpai cukong-cukong politik disana, akan tetapi tindakan tersebut terlalu cepat.

Yang terakhir penulis yakin semua kita masyarakat Aceh tidak menginginkan Aceh ini digadaikan secara politik dan ekonomi kepada pihak tertentu yang pada akhirnya harapan rakyat untuk menikmati kemakmuran dan kesejahteraan tidak tercapai disebabkan oleh tindakan yang salah arah oleh elit politik  Aceh baik itu Gubernur, Bupati maupun Walikota…..[*]


Oleh  Eka Januar - Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sains Politik  Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)










Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016