News Update :

Malik Hidup Dalam Bulatan Gorong-Gorong, Dan Perasaan Martabat Serta Kemuliaan

Minggu, 13 Mei 2012

Jakarta | Acehtraffic.com- Kata siapa hidup di Jakarta itu enak ? Mungkin itulah sebuah pertanyaan yang ada di pikiran saya ini. Dari dulu sampai sekarang yang namanya Jakarta memang terkenal dengan kemegahannya sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Namun apakah kita juga yakin di Jakarta itu benar-benar enak dan megah ?

Pernah dengar istilah “Ibu Kota itu lebih kejam daripada Ibu Tiri” ? Sepertinya kita akan setuju jika kita tau bagaimana susahnya mencari kehidupan dan sesuap nasi di Jakarta.

Itulah yang mungkin sekarang dirasakan oleh sosok petugas Layanan Pembersih Saluran Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Abdul Malik. 

Pria berusia 26 tahun yang kesehariannya bertugas untuk membersihkan Kali Cideng, Kuningan, Jakarta Selatan itu tidak mampu untuk menyewa rumah karena upah sebagai petugas kebersihan terlalu minim, alhasil dia hanya tinggal seorang diri di sebuah gorong-gorong yang sudah tidak terpakai lagi.

Entah apa yang ada dipikiran atasan Abdul Malik di lingkungan dinas kebersihan, apakah dia tidak merasa prihatin atau peduli dengan keadaan anak buahnya ? Padahal sosok seorang Abdul Malik inilah yang menjadi salah satu pahlawan kebersihan di Jakarta. 

Tanpa Abdul Malik, mungkin sungai yang biasanya tiap hari dia bersihkan mungkin akan kotor dipenuhi sampah-sampah dan kemungkinan terjadinya banjir akan semakin besar. Namun Malik tetap hidup didalam gorong-gorong? 

Kondisi ini jangan pula anda berpikir bahwa Malik saja yang merasakannya, namun masih banyak orang lain juga bernasib serupa tapi tak sama, baik di Jakarta maupun ditempat lain diseluruh Indonesia.

Termasuk di Aceh ? adakah yang bernasib seperti Malik? ukuran tentunya bukan tinggal di gorong-gorong, tetapi tinggal ditempat lain yang nasibnya tidak lebih baik dari tinggal didalam bulatan gorong-gorong? 

Atau di Aceh sedang memimpikan tentang sebuah martabat, tentang sebuah kehebatan, dan tentang sebuah kemuliaan,  sementara komponen dari unsur tersebut tak kita miliki. 

Sementara ada banyak masyarakat yang mungkin sering menyebutkan "Martabat,dan  kemuliaan" sementara kondisinya  mencari upahan dan upahan itu tidak cukup untuk datang ke restoran atau ke hari pekan, tetapi hanya cukup untuk memperlambat  kepunahan.

Jikapun demikian kondisinya  terkadang secara omongan dan ngerasa bahwa   "Martabat, Kemuliaan" masih bak bak pangkat tersandang dibahunya. 

Dan jika ada banyak orang yang merasa atau bertingkah laku seperti ini, maka yang beruntung tak lain adalah pengobral martabat dan kemuliaan. 

Mereka akan selalu memamfaatkan "Ngerasa" martabat dan kemuliaan yang dimiliki oleh masyarakat untuk berbagai tujuan yang menguntungkan pribadi dan kelompoknya. 

Sementara yang "Ngerasa" - ya Ngerasa terus sampai punah ! | AT | Alakadar
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016