
Bom di Aceh Besar diracik
pentolan Gerakan Aceh Merdeka. Bermotif politik menjelang pemilihan gubernur. Tulisan ini telah dimuat majalah TEMPO edisi 2-8
April 2012, dengan judul “Bom Gagal untuk Tengku Agam” tayangan ini adalah salinan yang diketik ulang.
|||
DARI rerimbun semak, Kamaruddin menyaksikan satu demi
satu kendaraan melintasi jalur Pegunungan Geureutee, Aceh Besar, pada Jumat
sore empat pekan lalu. Hingga konvoi belasan mobil itu menghilang, yang
dicarinya tak terlihat: jip Wrangler Rubicon hijau lumut.
Pria yang biasa dipanggil Mayor itu menyimpulkan,
Irwandi Yusuf, si empunya mobil, tak ikut dalam iring-iringan. Ketika menjabat
Gubernur Aceh, Irwandi sendiri yang kerap menyetir jip itu.
Tak menemukan Rubicon pada Jumat sore itu, Kamaruddin
urung memijit sakelar bom di tangannya.
“Pak Irwandi
memang tak ada dalam konvoi,” kata Thamren Ananda, anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Aceh yang juga orang dekat Irwandi, Jumat pekan lalu. (Thamren adalah
Tim sukses bukan anggota DPRA sebagaimana ditulis Majalah TEMPO)
Menurut Thamren, semula Irwandi berencana menghadiri
pemakaman Tengku Abuya Muhibuddin Waly al-Khalidi di Labuhan Haji, Aceh
Selatan. Sang ulama wafat dua hari sebelumnya.
Irwandi mendengar bakal ada yang mencelakainya di
tengah jalan Meulaboh-Banda Aceh itu. Kepada orang-orang yang menanyainya,
Irwandi bilang tetap akan pergi ke Labuhan Haji. “Tapi, ketika mau berangkat,
Pak Irwandi malah pulang ke rumah,” ujar Thamren.
Informasi itu tak sampai ke telinga Mayor. Bersama
Mansur alias Mancuk, Rizal Mustaqim, Usria alias Us, Sulaiman alias Ule Bara,
dan Jamaluddin alias Dugok, ia tetap menunggu Irwandi di jalan itu. Selain
menanam empat bom pipa, keenam orang itu menyiapkan dua AK-47.
“Untuk menyiram konvoi setelah bom meledak,” kata
laki-laki 30 tahun itu ketika diperiksa polisi, seperti ditirukan penyidik di
Kepolisian Daerah Aceh.
Menurut sumber itu, setelah konvoi lewat, Kamaruddin
dan kawan-kawan mendengar kabar baru: sebetulnya Irwandi ikut dalam rombongan,
tapi menunggang mobil lain. Merutuki kekeliruannya, Kamaruddin berkukuh
menjalankan rencana semula.
Bom akan diledakkan malam itu, ketika rombongan pulang
dari Labuhan Haji. Mayor meminta Mansur dan Rizal Mustaqim menemaninya. Adapun
Usria, Sulaiman, dan Jamaluddin, ia suruh pulang ke Aceh Utara, kampung mereka.
Ditunggu hingga lewat tengah malam, iring-iringan
mobil yang tadi tak terlihat melintas lagi.
“Rombongan pulang mengambil jalan lain,” kata polisi.
Gagal lagi, Kamaruddin mengubur dua senapan AK-47 tak jauh dari lokasi bom
ditanam. Kamaruddin dan dua anaknya meluncur ke arah Banda Aceh dengan Daihatsu
Terios hitam. Kamis pekan lalu, senjata itu baru ditemukan polisi.
Malam itu polisi bergerak cepat. Sekitar pukul 02.00,
Sabtu dinihari, Terios hitam disergap di Desa Meunasah Lhok, Lhoong, Aceh
Besar, tak jauh dari titik jalan yang ditanami bom.
Dengan kedua tangan tergari ke belakang, Mayor kabur
ketika hendak digiring ke mobil. Ia ditangkap warga Meunasah, yang menyangka ia
pencuri yang kabur dari kantor polisi, tak lama kemudian.
Terpisah ratusan kilometer, subuh itu polisi juga
menangkap Usria, Sulaiman, dan Jamaluddin, yang baru tiba di Aceh Utara. Dua
hari kemudian, mereka berenam diterbangkan ke Jakarta.
Polisi belum mau menyimpulkan hubungan bom dengan
pemilihan Gubernur Aceh, yang akan digelar Senin pekan depan. “Masih dalam
penyelidikan,” kata juru bicara Markas Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal
Saud Usman Nasution.
Setelah insiden bom gagal itu, teror di Aceh sepanjang
Desember-Januari lalu mulai terurai.
Kepada polisi, kelompok Kamaruddin mengaku sebagai
pelaku penembakan di mes Telkom, Bireuen, pada 31 Desember tahun lalu. Ketika
itu sepuluh penggali kabel dihujani peluru oleh orang tak dikenal.
Tiga tewas, sisanya harus menginap di rumah sakit
karena luka tembak. Kelompok Kamaruddin juga mengaku terlibat dalam empat
penembakan lainnya.
Menenteng AK-47, yang belakangan dikubur di Aceh
Besar, Kamaruddin dan Jamaluddin menjadi eksekutor dalam setiap penembakan.
Kepada polisi, mereka mengatakan senapan berasal dari zaman sebelum perjanjian
Helsinki.
Dia merencanakan dan memilih targetnya di sebuah rumah
toko di Cot Matahe, Aceh Utara—lokasi penangkapan Usria, Sulaiman, dan
Jamaluddin. Di sana pula pembunuhan Tengku Agam—panggilan Irwandi—direncanakan.
Dari sinilah muncul nama Vikram Hasbi alias Ayah
Banta. Menurut polisi, Vikram otak pengeboman yang gagal di Aceh Besar.
Pada akhir Februari hingga awal Maret, di rumah toko
Cot Matahe, Vikram bersama Kamaruddin, Jamaluddin, Rizal, dan Mansyur meracik
empat bom pipa—panjang 50 sentimeter dan berdiameter 15 sentimeter—yang bisa
diledakkan dari jarak jauh dengan sakelar yang dihubungkan kabel. Vikram pula
yang menanggung biaya perakitan bom.
Vikram bukan orang baru. Ia sudah dipelototi polisi
sejak 2003. Tahun itu, ada tiga bom yang meledak di Jakarta, yang diduga
melibatkan Vikram. Bom pertama meletus di belakang kantor perwakilan
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 24 April.
Empat hari kemudian, bom meletus di Terminal II F
Bandar Udara Soekarno-Hatta. Bom juga mengguncang gedung MPR/DPR pada 14 Juli
tahun itu. Menilik jeroan bom, polisi menyimpulkan pelaku adalah kelompok yang
sama: Gerakan Aceh Merdeka.
Setelah peristiwa itu, nama Vikram ”harum” di antara
pengikut Gerakan Aceh Merdeka. Apalagi ia tak ikut terseret masuk pengadilan.
Ketika itu bukti-bukti yang mengaitkan Vikram dengan bom-bom tadi amat tipis.
Meski efek ledakan di tiga tempat tadi tak besar, pria 45 tahun itu dianggap
berhasil menembus Ibu Kota.
Di dalam GAM, Vikram disebut-sebut pernah menjabat
komandan pasukan bom wilayah Pasee. Ilmu meracik bom ia peroleh dari Ahmad
Kandang, pentolan Gerakan yang dikabarkan tewas di Paya Bakong, Aceh Utara,
pada 2011. Sepeninggal Ahmad Kandang, Vikram mewarisi pasukan bom.
Pada 2007, Vikram membangun ratusan hektare kebun di
kawasan Geureundong, Aceh Utara, yang digarap sejumlah bekas anggota pasukan
GAM. Belakangan ia menjadi koordinator tim sukses Partai Aceh di sana.
Irwandi Yusuf mengatakan rencana pengeboman dan teror
belakangan ini dilakukan musuh-musuh politiknya untuk menyingkirkannya dari
pemilihan Gubernur Aceh.
Di depan pendukungnya di Peusangan, Bireuen, pada Ahad
dua pekan lalu, calon gubernur independen ini menyebut dirinya sebagai sasaran
teror. “Mereka merencanakan pembunuhan terhadap saya,” katanya.
Kini, setelah Kamaruddin dan kawan-kawan diringkus,
Vikram seolah-olah ditelan bumi. Ia tak pernah terlihat lagi dalam acara-acara
partai, termasuk kampanye calon gubernur Partai Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir
Manaf.
Polisi kini memburunya. Sejumlah anak buah Vikram yang
dikontak Tempo bungkam soal keberadaan bosnya. Ketua Partai Aceh Utara
Tengku Zulkarnaini Hamzah irit bicara mengenai keterlibatan Vikram dalam
sejumlah teror. “Saya tidak tahu soal itu,” katanya singkat.
Pengurus pusat Partai Aceh yang juga wakil ketua
fraksi partai itu di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Abdullah Saleh, menyangkal
keberadaan Vikram di partainya.
“Saya tak ingat
orangnya yang mana,” ujarnya. Ia
mengatakan tak ada perintah partai untuk menakut-nakuti kontestan lain
menjelang pemilihan Gubernur Aceh. | Sumber Majalah TEMPO

0 komentar:
Posting Komentar