Belanda | Acehtraffic.com - Terdengarnya sedikit aneh, tapi pada perayaan hari perempuan internasional di Belanda kali ini (8 Maret 2012), justru prialah yang menjadi fokusnya. Tentu saja tidak semua pria, tapi mereka yang menyadari bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan suatu hal yang normal.
Pria yang menyadari bahwa kejantanan tidaklah sinonim dengan perilaku
macho dan kesetaraan hak bagi perempuan juga menguntungkan mereka. Satu
dari pria-pria ini adalah Gary Barker dari Amerika. Pekan ini, ia
menjadi tamu penting dalam debat di Amsterdam.
Gary Barker (50) yang besar di Texas, berada dalam lingkungan yang
benar-benar macho. Di sekolah banyak berkelahi dan bullying. Ketika ia
menyaksikan pembunuhan yang terjadi di sekolahnya, barulah ia mulai
bertanya-tanya apakah perilaku laki-laki semacam itu normal.
Di tahun sembilan puluhan, ia bekerja sebagai pekerja sosial di
favela, yaitu wilayah kumuh di Brasil. Di lingkungan yang penuh
kekerasan dan kejahatan, Barker banyak menemui anak muda yang
menginginkan hiudp yang berbeda, seperti dirinya, yang mempertanyakan
peran macho pria.
Pendidikan macho
Menurut Barker, pria dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka berkuasa. Mereka memutuskan kapan melakukan seks.
"Apabila seorang perempuan terlihat bersama pria lain, maka mereka
berhak menggunakan kekerasan terhadap perempuan itu. Ada banyak pria
yang mempertanyakan hal ini. Mereka berkata: 'Mari kita bekerjasama.'"
Bersama dengan anak-anak muda di favela, Gary Barker memulai
MenEngage, sebuah organisasi yang berjuang bagi persamaan hak antara
perempuan dan laki-laki. Organisasi tersebut, sementara ini sudah
memiliki puluhan cabang di negara-negara seperti Pakistan, India, Congo,
Rwanda, serta negara-negara di Amerika Latin.
Hanya di Saudi Arabia saja yang belum berjalan mulus.
Gagasan MenEngage ini mendapat sambutan di Indonesia pula walaupun
masih perlahan-lahan jalannya. MenEngage bekerjasama dengan mitra-mitra
lokal. Pertama dilihat terlebih dahulu mengapa laki-laki menggunakan
kekerasan. Mengapa mereka berperilaku sebagai bos terhadap perempuan dan
bagaimana hal itu terjadi?
Keraguan atas cara pandang
"Adakah pria di sini yang mempertanyakan pandangan kaku dan patriarkis mengenai apa artinya menjadi laki-laki?" demikian Berker.
"Adakah pria di sini yang mempertanyakan pandangan kaku dan patriarkis mengenai apa artinya menjadi laki-laki?" demikian Berker.
"Bisa saja terjadi seorang pria di pedesaan di Pakistan yang berkata:
tunggu dulu. Istriku tidak perlu punya empat anak. Saya tidak butuh
anak laki-laki untuk melegitimasi kejantanan saya sebagai laki-laki.
Anak-anak perempuanku sama pentingya dengan anak laki-laki.
Kami temukan
pria-pria seperti itu. Kami tidak perlu menciptakan mereka atau
mengada-adakan mereka. Ketika kami sodorkan mikrofon ke pria-pria
seperti ini, kami tanyai mereka: berikan gambaran pada kita semua
bagaimana bisa menjadi pria seperti anda. Di mana anda belajar menjadi
pria seperti ini?"
Pria-pria itu ditanya oleh MenEngage kenapa mereka bersedia
bekerjasama untuk meyakinkan pria-pria lain di sekelilingnya melalui
kampanye, kuliah, ataupun penyuluhan.
Negara barat
Walaupun hak-hak perempuan di negara-negara barat dalam dasawarsa terakhir ini sudah sangat lebih baik, tapi masih banyak pekerjaan.
Di
Belanda ketika ada anak dilahirkan, maka perempuanlah yang akan bekerja
paruh waktu untuk merawat anak, sedangkan kebanyakan pria tetap bekerja
penuh.
Perempuan juga yang biasanya harus menangggung stres akibat kombinasi
kerja dan kehidupan pribadi. Juga di negara-negara barat, pria masih
mendapat gaji yang lebih besar dari pada perempuan serta menduduki
posisi yang lebih tinggi.
Sinetron sebagai penyuluhan
Barker: 'Kami menggunakan sinetron di mana pria dan perempuan muda lokal menyusun cerita. Kami menggunakan radio komunitas untuk bertanya dan memantik diskusi dalam masyarakat. Apakah di salon, tukang cukur, ataupun warteg untuk membuat perempuan dan laki-laki mempertanyakan isu-isu itu."
Barker: 'Kami menggunakan sinetron di mana pria dan perempuan muda lokal menyusun cerita. Kami menggunakan radio komunitas untuk bertanya dan memantik diskusi dalam masyarakat. Apakah di salon, tukang cukur, ataupun warteg untuk membuat perempuan dan laki-laki mempertanyakan isu-isu itu."
Privilese dan kendala
"Kami melihat perubahan di sejumlah negara di mana pria mempertanyakan apakah kekerasan itu oke," kata Berker. Paling tidak, kalaupun mereka sendiri tiddak bisa berubah, tapi mereka tahu bahwa tidaklah oke menertawakan hal itu.
"Kami melihat perubahan di sejumlah negara di mana pria mempertanyakan apakah kekerasan itu oke," kata Berker. Paling tidak, kalaupun mereka sendiri tiddak bisa berubah, tapi mereka tahu bahwa tidaklah oke menertawakan hal itu.
"Mereka tahu bukan suatu hal yang normal untuk mengatakan di depan
umum bahwa 'perempuan itu layak dipukul'. Paling tidak itu yang ingin
kita tanamkan dalam benak mereka."
Gary Barker sadar masih terdapat banyak kendala. Pria harus bersedia
melepas privilese mereka. Jadi tidak dengan sendirinya bahwa perempuan
harus bekerja untuk mereka serta menjalankan kerja-kerja rumah tangga.
Pria yang menduduki fungsi-fungsi tinggi, tidaklah menggebu-gebu
untuk mau menyerahkan kekuasaan mereka. Ini masih menjadi tantangan.
Walau demikian, Barker yakin semakin banyak pria yang perlahan-lahan
menyadari bahwa persamaan hak juga menguntungkan mereka. MenEngage
melakukan penelitian terhadap 15 ribu pria di belahan bumi selatan.
Ternyata pria merasa lebih bahagia apabila mereka memiliki hubungan yang lebih baik dengan anak-anak mereka.
Di samping itu mereka mengatakan bahwa hubungan mereka dan kehidupan
seks menjadi lebih baik sejak mereka memperlakukan istri sebagai pribadi
yang setara. Barker berharap munculnya sebuah generasi baru yang
berpandangan bahwa persamaan hak antara perempuan dan laki-laki adalah
suatu hal yang normal.
Hari Perempuan Internasional yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret, tahun ini adalah yang ke-104. Hari itu berawal pada tahun 1908 ketika ribuan
buruh tekstil perempuan di New York berdemonstrasi menuntut upah yang
lebih tinggi, hari kerja yang diperpendek, hak memilih, serta menentang
buruh anak-anak.
Dua tahun kemudian, konfrensi perempuan sosialis kedua memutuskan untuk mencanangkan Hari Perempuan Internasional. |rnw.nl


0 komentar:
Posting Komentar