Taheran | Acehtraffic.com- Shalat Jumat Taheran 2 Maret 2012 diimami oleh Hujjatul Islam Kazem Seddiqi. Dalam khutbahnya, Seddiqi menyatkaan, "Pemilu Majelis (parlemen Islam Iran) berlangsung dengan tenang dan pelaksanaannya selalu di atas harapan dan prediksi musuh-musuh.
Dikatakannya, pihaknya bertanya kepada Ayatullah Ahmad Jannati soal partisipasi warga dalam pemilu. Ayatullah Jannati menjelaskannya dengan menyebutkan panjang antrian panjang warga di Lorestan yang diperkirakan akan memakan waktu satu setengah jam untuk menyelesaikan antrian panjang tersebut. Masih menurut keterangan Ayatullah Jannati, di wilayah Kurdestan, turun hujan salju lebat tidak menghalangi warga untuk memenuhi berbagai TPS.
Khatib shalat Jumat Tehran menjelaskan, "Ini adalah partisipasi masyarakat yang menjadi korban serangan rudal dan bom, yang tetap menjaga Revolusi Islam dan terulangnya kembali perjuangan epik bangsa Iran dalam revolusi yang kali ini dilakukan dengan mengisi kotak-kotak suara pada pemilu Majelis.
Menurutnya, pemilu Majelis kesembilan itu berlangsung dahsyat di saat Iran sedang menghadapi propaganda, permusuhan, dan makar sedemikian besar yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh musuh sejak kemenangan Revolusi Islam Iran.
"Hari ini, rakyat Iran menang dan musuh yang gagal," tegas Seddiqi.
DI bagian lain khutbahnya, Seddiqi menyinggung pembakaran al-Quran yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat di Afghanistan dan mengatakan, "Kita harus mengucap Inna lillahi wa inna Lillahi Rajiun. Sebagaimana halnya pembakaran tenda-tenda keluarga Imam Husein as [di padang Karbala] adalah sebuah musibah, makapembakaran al-Quran itu juga merupakan musibah. Kita juga harus mengucapkan bela sungkawa kepada Imam Mahdi as serta kepada Imam Sajjad as yang berkata kita harus bersyukur kepada Allah Swt yang menjadikan musuh-mush kita idiot."
Menyinggung referendum amandemen konstitusi di Suriah, Seddiqi mengatakan, sekitar 60 persen dari warga yang memilik hak pilih berpartisipasi dalam referendum tersebut serta 86 persen pemilih menyetujui amandemen konstitusi tersebut. Rakyat Suriah berjalan di jalur demokratis akan tetapi sejumlah pihak alih-alih membantu menyelesaikan krisis di Suriah, melainkan justru ingin menebar instabilitas dengan mengirim senjata untuk kelompok-kelompok pemberontak anti-Damaskus.
Berbicara terkait standar ganda Barat dalam masalah Suriah dan Bahrain, Seddiqi mengatakan, "Di Bahrain, pelaksanaan demonstrasi damai dicegah dan terjadi kedespotikan, akan tetapi para penguasa Arab dengan santai dan tidak menunjukkan reaksi keras atas pembakaran al-Quran dan masalah Palestina. Alih-laih mengecam brutalitas rezim Bahrain dan Arab Saudi terhadap warganya, mereka justru sibuk menyulut api perang di Suriah." | Irib
Dikatakannya, pihaknya bertanya kepada Ayatullah Ahmad Jannati soal partisipasi warga dalam pemilu. Ayatullah Jannati menjelaskannya dengan menyebutkan panjang antrian panjang warga di Lorestan yang diperkirakan akan memakan waktu satu setengah jam untuk menyelesaikan antrian panjang tersebut. Masih menurut keterangan Ayatullah Jannati, di wilayah Kurdestan, turun hujan salju lebat tidak menghalangi warga untuk memenuhi berbagai TPS.
Khatib shalat Jumat Tehran menjelaskan, "Ini adalah partisipasi masyarakat yang menjadi korban serangan rudal dan bom, yang tetap menjaga Revolusi Islam dan terulangnya kembali perjuangan epik bangsa Iran dalam revolusi yang kali ini dilakukan dengan mengisi kotak-kotak suara pada pemilu Majelis.
Menurutnya, pemilu Majelis kesembilan itu berlangsung dahsyat di saat Iran sedang menghadapi propaganda, permusuhan, dan makar sedemikian besar yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh musuh sejak kemenangan Revolusi Islam Iran.
"Hari ini, rakyat Iran menang dan musuh yang gagal," tegas Seddiqi.
DI bagian lain khutbahnya, Seddiqi menyinggung pembakaran al-Quran yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat di Afghanistan dan mengatakan, "Kita harus mengucap Inna lillahi wa inna Lillahi Rajiun. Sebagaimana halnya pembakaran tenda-tenda keluarga Imam Husein as [di padang Karbala] adalah sebuah musibah, makapembakaran al-Quran itu juga merupakan musibah. Kita juga harus mengucapkan bela sungkawa kepada Imam Mahdi as serta kepada Imam Sajjad as yang berkata kita harus bersyukur kepada Allah Swt yang menjadikan musuh-mush kita idiot."
Menyinggung referendum amandemen konstitusi di Suriah, Seddiqi mengatakan, sekitar 60 persen dari warga yang memilik hak pilih berpartisipasi dalam referendum tersebut serta 86 persen pemilih menyetujui amandemen konstitusi tersebut. Rakyat Suriah berjalan di jalur demokratis akan tetapi sejumlah pihak alih-alih membantu menyelesaikan krisis di Suriah, melainkan justru ingin menebar instabilitas dengan mengirim senjata untuk kelompok-kelompok pemberontak anti-Damaskus.
Berbicara terkait standar ganda Barat dalam masalah Suriah dan Bahrain, Seddiqi mengatakan, "Di Bahrain, pelaksanaan demonstrasi damai dicegah dan terjadi kedespotikan, akan tetapi para penguasa Arab dengan santai dan tidak menunjukkan reaksi keras atas pembakaran al-Quran dan masalah Palestina. Alih-laih mengecam brutalitas rezim Bahrain dan Arab Saudi terhadap warganya, mereka justru sibuk menyulut api perang di Suriah." | Irib


0 komentar:
Posting Komentar