Iran | Acehtraffic.com- Menyusul eskalasi ketegangan antara AS dan Iran, para pejabat Amerika
mengungkapkan kekhawatiran mereka atas penggunaan "beton pintar" yang
membuat situs nuklir Iran mampu bertahan menghadapi ledakan bom
anti-bunker produksi AS.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs Aggravate Research,
disebutkan bahwa mengingat kondisi geografis Iran yang selalu terancam
gempa bumi, para insinyur Iran sangat mahir dalam mengembangkan "ultra-high performance concrete" (UHPC) yang merupakan salah satu bahan bangunan yang paling padat dan solid di dunia.
Formula beton baru Iran itu menggunakan material lokal, dan kini
menjadi perhatian utama Washington di samping aktivitas pengayaan
uranium Iran.
"Tidak seperti beton konvensional, beton
Iran dicampur dengan bubuk kuarsa dan serat khusus yang mengubahnya
menjadi beton dengan kemampuan tinggi yang dapat menahan tekanan yang
lebih ekstrim dengan kepadatan yang juga meningkat."
Ditinjau dari komposisi materialnya, beton pintar Iran itu merupakan
bahan bangunan yang sangat baik untuk pembangunan jembatan yang lebih
aman, bendungan, terowongan, memperkokoh saluran pembuangan limbah, dan
bahkan penyerapan polusi.
Artikel itu menambahkan,
sama seperti penggunaan ganda teknologi di sektor sipil maupun militer,
UHPC dapat juga digunakan untuk melindungi fasilitas bawah tanah yang
tentu menimbulkan masalah dalam setiap upaya militer ke Iran.
Disinggung pula pernyataan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta,
beberapa waktu lalu yang mengungkapkan keprihatinannya soal kemungkinan
tumpulnya bom-bom anti-bunker Amerika Serikat melawan UHPC yang
digunakan untuk melindungi target militer Iran.
Dalam
wawancara dengan The Wall Street Journal pada tanggal 26 Januari lalu,
Panetta mengumumkan bahwa kemampuan bom-bom anti-bunker terus
ditingkatkan dan berharap hasilnya dapat segera dirasakan.
Bom anti-bunker AS (Massive Ordnance Penetrator)berbobot
30.000 pound, dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah.
Akan tetapi "tes awal menunjukkan bahwa bom tersebut tidak akan mampu
menghancurkan beberapa situs Iran."
Amerika Serikat,
Israel, dan sejumlah sekutunya menuduh Iran mengejar tujuan militer
dalam program nuklirnya. Mereka menggunakan alasan tersebut untuk
menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Bahkan Tel Aviv mengancam akan
menyerang Iran jika sanksi Barat gagal menghentikan program nuklir
Tehran.
Republik Islam membantah tuduhan Barat terkait
program energi nuklir Iran, dengan beralasan bahwa sebagai
penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota Badan
Energi Atom Internasional (IAEA), berhak mengembangkan dan
mendayagunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.| Irib

0 komentar:
Posting Komentar