News Update :

Rusuh Unimal, Nasib Orang Mencret Dan Konsep Nederland Masa Lalu

Selasa, 14 Februari 2012

Senin 13 Februari 2012, Mahasiswa Universitas Malikussaleh berteriak,dan menjeritttt,  mereka membangunkan Rektorat yang telah mengambil kebijakan menaikkan uang semester atau lebih dikenal dengan SPP. Naiknya tak tanggung, dari Rp.650.000,- per-semester menjadi Rp. 950.000,.

Nilai inilah yang dipersoalkan mahasiswa, karena mahasiswa sangat sadar, dengan jumlah 650.000 per-semester saja sulit untuk dibayar apalagi dengan jumlah Rp.950.000,-

Kenapa mereka berteriak? Dan kenapa mereka tidak setuju? Tentu itulah pertanyaan yang layak?

Kita akui atau tidak umumnya mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe adalah anak dari keluarga yang hidupnya pas-pasan. Dengan kondisi ekonomi yang melarat sekarang ini kenaikan ini adalah masalah besar bagi mereka.

Bayangkan, ada sejumlah mahasiswa yang berangkat ke kampus hanya sanggup difasilitasi ongkos oleh orang tua mereka. Masalah jajan bukan persoalan penting disini.

Bahkan diantara mereka yang kampungnya jauh dari kampus, bila tidak ada biaya untuk sewa cost lebih memilih tinggal menumpang sama kawan mereka atau numpang tidur  dikantor –kantor swasta. Begitu juga soal makan. Tidak makan satu hari menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa ini.

Namun apa yang membuat mereka semangat, pendidikan walaupun “Ala Kadar “ namun itulah yang mereka sanggup gapai.  Mereka juga sadar,  kertas yang namanya ijazah sangat penting untuk “Surat tunjuk”  dinegeri ini.

Setiap libur kuliah atau Minggu mereka kembali ke kampung, atau kadang jadwal ini tidak menentu, bila ada pekerjaan dikampung semisal membantu orang tuanya ke sawah atau ke kebun, pasti mereka akan pulang dengan harapan sekembalinya ada jajan yang dibawa untuk pertahanan selama seminggu kedepan.

Tapi kebiasaannya, pulangnya mereka ke kampung tidaklah  membawa uang 1 juta, atau 500 ribu, tapi mereka hanya membawa sedikit lebih dari ongkos angkutan umum, atau sedikit lebih dari dua liter bensin.

Maka wajar, kemarahan dan kesedihan memuncak pada anak bangsa itu, yang kemudian melampiaskan dengan demo.

Apa yang mereka terima saat demo dilakukan? Terlepas anarkis atau tidak, mereka bukannya diajak untuk memikirkan apa kebutuhan kampus hingga ini dinaikkan? atau kenapa harus di naikkan?

Lebih bagus lagi jika kampus mau membuat surve pendapatan orang tua mereka dikampung, sudah layakkah itu dinaikkan?... Itu belum berbicara agar pengelola kampus berusaha atau membuat konsep agar  pendapatan masyarakat terbangun? 

Ini malah mereka ditakuti, ada shok terapi lagi ? untuk membunuh mental anak-anak bangsa ini, agar mereka diam dan nurut walaupun yang diliatnya adalah salah. Atau upaya untuk menciptakan agar apa yang menjadi kehendak kita jangan tersentuh? soal mahasiswa dan orang tuanya menjerit, apa urusan, mati -mati sana, yang penting saya hidup, saya gagah, saya hebat.

Pastinya  demo kemarin adalah  ungkapan anak bangsa yang hendak dia katakan bahwa “Kami Tidak Sanggup” kami rakyat, orang tua kami bukan penguasa? Tidak punya kesempatan untuk jadi raja olah? Tapi hanya seorang buruh tani dan buruh kebun serta buruh bangunan.

Di posisi ini terkadang benar plesetan pepatah " Adat bak ureung Mbong, Hukom bak ureung teuga, Reusam keu Piasan, Qanun mita belanja" Artinya adat sama orang sombong dan angkuh, besar suara, Hukum sama orang kuat dan berkuasa, Reusam untuk sandiwara, Qanun untuk mencari uang.

Terlepas dari pepatah diatas, namun Rektorat dalam posisi ini sebagai penguasa memilih diam, tanpa mencari solusi bagaimana dengan anak –anak rakyat miskin ini.

Padahal  seorang Rektorat  bisa menikmati fasilitas dan uang serta popularitas, toh gara-gara anak orang miskin yang mau terdaftar sebagai mahasiswa universitas ini.

Karena keberadaan kampus tanpa anak buruh tani ini juga tidak akan berarti apa-apa, dan para dosen serta sejumlah pejabat didalamnya juga tidak akan ada,  bila kaum mencret itu tidak ada.

Coba kita pikirkan, bagaimana kemegahan akan kita capai? ... Sebagai apapun namanya.  Dalam bab kampus misalnya. Menjabat sebagai Rektor kemudian  sangat terkenal atau dikenal dimana-dimana, diberikan fasilitas yang sebelumnya tidak pernah diberikan oleh orang tua kita, justru karena berkumpulnya anak orang miskin.

Begitu juga dosen, atau sebagai tenaga lain di didalam kampus jika tidak ada anak dari orang–orang miskin itu datang dan mendaftarkan diri ke kampus itu, dari SK pegawai negeri atau kontrak itu kita dapat, dan kemudian  kita gadaikan ke BANK,  mendapat  kredit, kemudian kita beli sedan senget  serta perumahan dikomplek, tak lain gara-gara masyarakat miskin itu yang menyekolahkan anaknya di kampus itu.

Pernahkah anda bayangkan, jika anaknya Komisaris PT ARUN, PT PIM atau anak pengusaha  yang memiliki kebun sawit ribuan hektar. Tentunya  akan berpikir sepuluh kali untuk datang dan mebdaftar serta bersekolah di kampus kita?

Kalaupun ada, ini barang langka?

Para komisaris itu pasti mengarahkan anaknya ke sekolah yang lebih berkualitas baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Tidak mungkin mereka merelakan anaknya menempuh pendidikan dikampus yang masih banyak kekurangan terutama dalam hal fasilitas laboratorium.

Sekali lagi,  jikapun ada, itu adalah anak mereka yang sudah diluar situasi normal alias Sakit. Penulis bukan berarti menyepelekan kualitas Unimal, tetapi itulah kenyataaanya dan kemampuan kampus sekarang.

Maka jika anda sadar bahwa semua kemewahan, yang setiap paginya badan anda terbungkus rapi dan memakai dasi, serta menyandang  panggilan dosen dosen, pegawai.

Bahkan lebih dari itu dengan status anda tercatat di Universitas kumpulan anak orang Mencret itu, anda juga merasa bangga dengan istri anda, dan mertua anda  serta orang kampung anda.

Bahwa orang kampung yang juga umumnya ber ekonomi mencret menganggap anda telah berhasil, dari sebelumnya anda di panggil dengan nama “ EEE” menjadi Pak Ismail.

Bahkan lebih lagi, dengan adanya anak orang miskin tersebut anda dapat fasilitas untuk berkunjung mengikuti seminar, dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Dan dengan status anda karena adanya anak orang Mencret itu, anda bisa membawa anak anda berlibur, dan menyekolahkan anak anda ke sekolah yang sedikit disiplin.

Dan bila anda memiliki tabiaat agak aneh atau "Canggih "  juga anda bisa melampiaskan disini, peluang anda menambah istri, dari satu menjadi 2, atau berselingkuh, mencari pacar tambahan, atau main serong juga terbuka peluang, setelah anak –anak orang mencret terdaftar sebagai mahasiswa dikampus ini.

Maunya dalam posisi ini semua kita jangan terlalu memburu konsep NEDERLAND yang pernah singgah di negeri kita. Tapi alangkah baiknya kita menyadari dengan si Mencret itulah kita bisa hidup,dan bagaimana dia juga harus hidup. TINGGAL LAH KONSEP NEDERLAND DARI DIRI KITA. [RD]

Data Kenaikan SPP:
Bagi non eksakta [Fakultas Ekonomi, Hukum dan Sospol] Untuk semester ganjil angkatan 2011 diwajibkan membayar Rp. 890.000 rupiah dan semester genap dikenakan tarif Rp. 750.000 rupiah.

Adapun bagi yang eksakta [Fakultas Teknik dan Pertanian] untuk semester ganjil angkatan 2011 mereka dikenakan biaya Rp. 1.090.000 rupiah dan Rp. 950.000 rupiah untuk semester genap.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016