News Update :

Konflik Internal, Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Tak Terurus

Kamis, 02 Februari 2012

Lhokseumawe | Acehtraffic.com -  Pelayanan kesehatan buruk yang selama ini terjadi di Rumah Sakit Umum Cut Mutia Gampong Buket Rata ternyata diakibat adanya kisruh intern `antara pihak fungsional dan struktural setempat, Rabu 2 Februari 2012.

Saat ini jajaran Pemkab Aceh Utara terpaksa turun tangan menengahi dan menyelesaikan konflik tersebut. Ironisnya  ketika petugas kesehatan yang mempunyai tugas untuk kemanusian tiba-tiba mereka menelantarkan pasiennya yang membutuhkan pertolongan medis, hanya lantaran sedang sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi mereka.
Diduga konflik internal itu terjadi karena dipengaruhi adanya pemberlakuan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) untuk pengobatan gratis bagi masyarakat umum menyebabkan hilangnya kesempatan mereka untukl mencari uang atau keuntungan lebih dari dunia pengobatan.

Sehingga kedua pihak saling menuntut kepentingan pribadi yang tidak mungkin terealisasi sesuai keinginan masing-masingnya. Konflik RSU Cut Mutia pertama sekali dimulai sejak 2011 itu akhirnya semakin hari semakin meruncing dengan seringnya dilakukan aksi boikot.

Aksi Boikot serentak dilakukan oleh para dokter speacialis yang mengutamakan waktu buka praktek ketimbang memberikan waktu mengobati pasien umum dengan gratis. Namun hal tersebut  telah berimbas pada pelayanan kesehatan buruk sehingga  sampai menelantarkan pasien miskin yang berobat gratis melalui JKA;

Pelayanan buruk juga sempat dialami oleh seorang bocah pasien rawat inap penderita tumor mata, bernama Azrikal Mona, 8 Gampong Teungoh Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. Anak pasangan Bustamam dan Anita ini mengalami sakit dibagian matanya yang terlihat  membengkak sehingga terpaksa harus dirawat inap sejak akhir Januari 2012 di Rumah Sakit Cut Mutia.

Azrikal selama dalam perawatan dan pasien lainnya tidak mendapatkan pelayanan maksimal, karena setiap kali tiba waktu melakukan chek up, para pasien harus bangun dan berjalan sendiri ke ruang poliklinik setempat. Jaraknya antara ruang inap dan poliklinik sekitar dua ratus meter, namun sayangnya sang dokter enggan mendatangi pasien dan ingin menunggu kedatangan pasien saja. Seharus dokter harus melakukan visit dokter ke ruang inap pasien.

Para pasien juga harus mengantri mendapatkan kesempatan untuk diperika oleh dokter specialis mata dr. Halimah, Spm. Selaku pasien rawat inap di rumah sakit umum Tipe B, seharusnya dokter berkewajiban memberikan  pelayanan kesehatan yang memuaskan sebagaimana tertera dalam undang-undang tentang praktek kedokteran.
.
Hal senada juga dialami oleh Marhamah, 28 asal Desa Alue Sijuek Kecamatan Tanah Luas sudah 12 tahun menderita sakit lumpuh. Pihak keluarga Marhamah mengungkapkan untuk mengobati sakit lumpuh itu sengaja berobat gratis dengan JKA agar mendapatkan surat rujukan RSU Cut Mutia untuk melanjutkan pengobatan ke Rumah Sakit Zainal Abidin Kota Banda Aceh. Tapi selama dua hari dirawat inap di Rumah Sakit Umum Cut Mutia,pasien miskin ini tidak mendapatkan pelayanan medis, pasien tersebut hanya diberikan infus saja dan tidak ada dokter yang memeriksanya
 .
Pemkab Tengahi Konflik

Terkait hal tersebut, Sekdakab Aceh Utara Syahbuddin Usman yang didampingi Kabag Humas Azhari Hasan membenarkan adanya konflik internal antara fungsional dan struktural telah menyebabkan terganggunya pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Azhari mengaku sangat  sulit untuk menjelaskan secara detil pokok persoalan yang membuat pihak fungsional dan struktural Rumah sakit tidak bisa bekerjasama, namun hanya menyimpulkan masalah berawal dari faktor kecemburuan sosial dan ada komunikasi yang putus.

Untuk mencegah semakin memburuknya pelayanan kesehatan, Azhari, akhirnya Bupati Aceh Utara Ali Basyah memerintahkan pihak jajaran Pemkab untuk turun tangan agar adanya solusi terhadap konflik ini.
           
Azhari menyebutkan terkait masalah,  sejauh ini telah dibantu oleh Asisten Satu Mursyid, Kadis Kesehatan Nurdin dan Badan Keuangan Daerah (BKD) sudah beberapa kali mempertemukan kedua pihak secara tertutup untuk mencari solusi.

Konflik internal itu terasa memuncak dan berapi-api antara kedua pihak yang tidak mau saling mengalah dan ngotot membenarkan kepentingan sendiri.

 “Dalam pertemuan itu, kami tidak akan membiarkan kedua pihak saling bertanya dan melemparkan pendapat yang menuding lawan.  Karena itu bisa memicu konflik baru yang membubarkan pertemuan,” Ujar Azhari.

Azhari menambahkan, kedua pihak telah diminta bertanggung jawab atas fungsi tugasnya masing-masing dan dilarang meninggalkan kewajibannya dengan mengutamakan kepentingan kemanusiaan serta memberikan pelayanan kesehatan.

Maka diharapkan kedua pihak untuk segera mengakhiri konflik dan untuk masa mendatang bisa menjalin komunikasi antar sesamanya. Terkait soal keuangan, pihak rumah sakit juga harus transparan dan terbuka tanpa menutupi keberadaan anggaran proyek tertentu

“Kisruh  ini dikarenakan adanya komunikasi yang putus saja, jadi untuk kedepan segala sesuatu apalagi terkait dengan anggaran maka harus transparan dan terbuka tanpa ditutupi. Kita sudah tiga kali mempertemukan kedua pihak, dan diharapkan konflik ini benar-benar berakhir,”ungkap Azhari tanpa bisa menjamin konflik itu selesai.

Sementara Dirut RSUD Cut Mutia Anita Syahridah ketika dikonfirmasi reporter media ini mengaku pelayanan kesehatan tidak maksimal karena diakibatkan kurangnya dokter specalis dan peralatan medis tertentu.

ironisnya,  Anita membantah adanya konflik internal dirumah sakit  dan selama ini pihaknya fungsional dan struktural masih menjalin hubungan tanpa masalah.

 “Tidak ada itu, tidak ada konflik atau kisruh dirumah sakit ini, mungkin anda salah informasi, kami disini semuaakur-akur saja. Soal pelayanan kesehatan memang tidak bisa maksimal karena kita masih kekurangan dokter specialis dan sejumlah peralatan medis penunjung kerja,” tutur Anita.| AT | AG |

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016