Yogyakarta | Acehtraffic.com - Ratusan
orang berdesak-desakan untuk bisa menjadi yang terdepan dalam memperebutkan
lima gunungan yang menjadi sedekah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di
halaman Masjid Gedhe Yogyakarta, Minggu.
Meskipun panas sinar matahari
cukup menyengat, ratusan orang dari berbagai usia telah datang memadati halaman
Masjid Gedhe sejak pagi, dan menunggu datangnya gunungan Gerebek Maulud.
Saat gunungan akhirnya tiba di
halaman Masjid Gedhe Yogyakarta sekitar pukul 11.00 WIB dan didoakan oleh
Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat,
lima gunungan itu pun langsung diserbu oleh warga.
Gunungan yang diperebutkan oleh
warga di halaman Masjid Gedhe Kauman atau dikenal dengan tradisi "Ngalap
Berkah" tersebut adalah Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak,
Gunungan Darat dan Gunungan Pawohan.
Warga yang telah berhasil naik ke
gunungan kemudian berebut memperoleh salah satu bagian dari gunungan, bahkan
bilah-bilah bambu yang menjadi dasar pembuatan gunungan pun tak luput menjadi
rebutan massa. Dalam sekejap, gunungan yang berukuran cukup besar itu pun
"lenyap".
"Upacara Gerebek Maulud ini
adalah salah satu bentuk rasa syukur dari Raja Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat yang diwujudkan dalam sedekah berupa hasil bumi," kata
Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat.
Perebutan gunungan, lanjut dia,
adalah bagian dari budaya yang merupakan hasil karya, cipta dan kreasi dari
masyarakat dan bukan merupakan bentuk ibadah.
"Intisari dari Maulud Nabi
Muhammad SAW adalah meneladani kehidupan rasullah," lanjutnya.
Pada Gerebek Maulud Tahun Wawu 1945, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyiapkan tujuh buah gunungan, yaitu tiga Gunungan Lanang, dan sisanya masing-masing satu buah untuk Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawohan.
Dua buah Gunungan Lanang,
masing-masing diarak ke Pura Pakualaman Yogyakarta dan ke Kepatihan, juga untuk
diperebutkan oleh masyarakat.
Gunungan tersebut diarak dari
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat diawali oleh Prajurit Bugis, Abdi Dalem Sipat
Bupati dan di akhiri oleh Prajurit Surokarso.
Gunungan itu melewati delapan
bregada prajurit yang telah bersiap di keraton, kemudian diarak ke arah utara
melewari dua pohon beringin atau "Ringing Kurung", menuju ke barat ke
arah masjid, sedang dua gunungan lain terus diarak ke utara menuju ke Pura Pakualaman
dan Kepatihan.
Delapan bregada prajurit yang
dilewati gunungan tersebut adalah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Daeng, Prajurit
Patang Puluh, Prajurit Jogokariyo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Nyuthro,
Prajurit Ketanggung dan Prajurit Mantrijero.
Setelah gunungan selesai
diperebutkan, Prajurit Bugis dan Surokarso kembali ke keraton untuk kembali
bergabung dengan delapan bregada prajurit lain sebelum dibubarkan di Bangsal
Pracimosono Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pelaksanaan Gerebek Maulud ini sekaligus
menjadi penanda berakhirnya Sekaten, yang selalu digelar sepekan sebelum
peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. | Antara |

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar