Sigli | Acehtraffic.com- Hingga hari kedua, Minggu 26 Februari 2012 kemarin, banjir yang melanda sepuluh desa di Kecamatan Tangse, Pidie, Sabtu sore hingga malam, masih dirasakan berbagai dampaknya oleh penduduk setempat.Dampak yang paling terasa adalah macetnya jalur transportasi darat dari Beureunuen ke ibu kota Kecamatan Tangse, karena ruas jalannya sepanjang 50 meter masih putus.
Kondisi ini juga dapat mengancam krisis sembako di kecamatan yang berpenduduk 26.960 jiwa itu, karena arus kendaraan roda empat maupun roda dua dari dan ke Tangse hingga kemarin sore masih lumpuh total.
Berdasarkan pantauan Serambi kemarin, ruas jalan di kecamatan itu putus karena jembatan di Dusun Kuala Pantee, Desa Blang Malo, ambruk. Akibatnya, warga setempat harus menyeberangi sungai untuk menuju desa tetangga, yakni Kebun Nilam dan Ulee Gunong.
Dalam kondisi yang demikian, kendaraan hanya bisa jalan hingga ke Desa Blang Malo. Untuk selebihnya, warga harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer (km) hingga ke Pasar Tangse. Begitu juga sebaliknya bagi warga yang bergerak dari arah Tangse ke Blang Malo.
Di badan jalan yang putus itu kini diletakkan empat batang kayu gelondongan plus tiang listrik yang digunakan sebagai alat penyeberangan darurat bagi pejalan kaki.
Ironisnya lagi, jalan putus di Blang Malo itu tak bisa ditangani dalam tempo dua hari. “Soalnya, di lokasi tersebut air masih deras mengalir di atas badan jalan. Maka perlu penanganan secara khusus oleh Dinas BMCK Aceh, mengingat jalan ini merupakan jalan provinsi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Pidie, Apriadi SSos kepada Serambi, Minggu 26 Februari 2012.
Menurutnya, jika provinsi lambat menangani perbaikan jalan yang putus itu, otomatis pasokan logistik dari Beureunuen ke Tangse terhenti total. Masyarakat bakal krisis sembako. Untuk itu, kata Apriadi, provinsi harus secepatnya menangani jalan yang putus itu.
Apriadi menambahkan, longsor yang terjadi di sepanjang jalan dalam wilayah Blang Malo, Kebun Nilam, dan Ulee Gunong cukup parah. Oleh karena itu, pemkab lebih fokus membuka akses jalan yang telah tertutup lumpur longsor dan genangan air dari alur sungai yang jebol di pinggir jalan itu.
Sekretaris Komisi C DPRK Pidie, Iskandar Siddiq menyarankan agar dinas terkait segera mengatasi jalan yang putus akibat banjir itu. “Paling tidak dibuat dulu jembatan darurat, sehingga bisa dilewati kendaraan,” usulnya.
Musibah banjir itu, selain menghanyutkan 29 rumah, juga tiga dayah yang terutama berfungsi sebagai balai pengajian. Dua dayah terletak di Dusun Pulo Pantee, Desa Blang Malo, satu lagi Dayah Zawiyah Darur Asrar di Desa Krueng Seukek.
“Satu di antaranya baru selesai dibangun. Rencananya hari Minggu (4/3) akan dipeusijuek sekaligus dilaksanakan kenduri maulid di situ. Tapi bangunan itu kini tak ada lagi, sudah rata dengan tanah,” kata Ridwan, seorang warga Blang Malo, kemarin.
Menurut Tgk Ibrahim, guru di Dayah Zawiyah Darul Asrar Desa Krueng Seukek, sebelum banjir melanda pada Sabtu sore hingga malam, para santri sedang belajar mengaji. Namun, karena hujan deras disertai petir yang menyambar dahsyat, sehingga pengajian dihentikan. “Saat air bah datang, sebagian santri sedang tidur, sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Kitab dan pakaian ludes bersama bangunan daya disapu air bah. Kami berlarian menyelamatkan diri ke jalan aspal,” kisah Tgk Ibrahim.
Keuchik Gampong Kebun Nilam, Tgk Mustafa Thaib (39) menjelaskan, dari puluhan rumah warganya yang rusak diterjang air bah, 16 unit di antaranya hanyut. Masing-masing milik Muhammad AR (50), Abdullah Ali (37), Nurlaili (37), Ruslan (42), Azwar (35), Salman (35), Sakdiah (60), Basri AG (37), Habsah Makam, (70) Habsah Ahmad (45), Jafar Sabi (50), Khatijah (60), Marhaban (35), Abdurrahman Abbas (51), Ismail Yusuf (65), dan Salamah Saman (35).
“Rumah yang rusak berat dan ringan 25 unit, hingga kini masih kami data pemilik rumah tersebut,” katanya. Camat Tangse, Jafaruddin mengatakan, saat ini 149 jiwa mengungsi di Gampong Blang Malo. Sedangkan, 41 KK warga Gampong Kebun Nilam, masih terjebak di lokasi banjir, menyusul akses ruas jalan belum normal. | Serambi

0 komentar:
Posting Komentar