News Update :

Gatotkaca Jadi Raja Selama 60 Menit

Minggu, 05 Februari 2012

Jakarta | Acehtraffic.com - Tokoh Gatotkaca yang diambil dari epik Mahabartha merupakan superhero asli Indonesia. Ia bisa terbang, mirip Superman. Sosoknya gagah, otot kawat tulang besi, sekali pukul lawan langsung hancur. Pokoknya hebat.

Namun tak banyak anak-anak, bahkan orang muda masa kini yang mengenal sosok Gatotkaca karena selama ini kisahnya lebih banyak disajikan lewat pertunjukkan wayang. Silakan dihitung anak muda yang menikmati menonton wayang, khususnya di kota besar.

Upaya untuk mengenalkan seni wayang kepada penonton generasi muda, dilakukan oleh Djarum Apresiasi Budaya lewat pertunjukan wayang multimedia bertajuk Gatotkaca Jadi Raja - Battle for the Throne.

Pagelaran itu dikemas dalam pagelaran drama sinema, yakni format pertunjukan yang memadukan wayang orang dan wayang kulit tradisional dengan elemen dunia hiburan masa kini, yakni sinema, musik rock, serta visual efek.

Panggung dilengkapi dengan tiga layar lebar untuk pemaparan film. Layar film itu berfungsi untuk menampilkan adegan perang dengan latar belakang awan atau pegunungan sehingga pukulan Gatotkaca seolah-olah bisa membuat lawannya mental sampai ke awan.

Dikisahkan Gatotkaca akan diangkat menjadi Raja Pringgodani. Namun ia mendapat tantangan dari paman yang sakti, Brojodento. Keduanya lalu melakukan adu kesaktian dan berakhir dengan kemenangan superhero kita.

Disutradari oleh Mirwan Suwarso, pagelaran Gatotkaca Jadi Raja ini didukung oleh nama-nama beken dari dunia hiburan seperti Tora Sudiro sebagai Gatotkaca, Titi DJ sebagai Dewi Arimbi ibu Gatotkaca, serta Aqi Alexa sebagai Brojo Lamatan. Sementara itu Aksan Sjuman dipercaya sebagai penata lagu.

Namun lakon Gatotkaca Jadi Raja sama sekali bukan lakon wayang. Dengan durasi yang sangat singkat, 60 menit, Anda yang punya pengalaman menonton pagelaran wayang atau sendratari tradisional mungkin akan kesulitan menangkap makna atau pesan yang disampaikan dari cerita pengangkatan Gatotkaca sebagai raja.

Kendati begitu, pertunjukan yang digelar Sabtu, 4 Februari 2012 di Mal Senayan City itu memang tidak dimaksudkan untuk memainkan cerita wayang seperti apa adanya. Dengan kemasan yang modern itu, Gatotkaca Jadi Raja justru sukses meraih penonton.

Paling tidak, anak-anak muda itu jadi tahu adanya tokoh superhero yang sakti mandraguna. | KOMPAS |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016