Jakarta | Acehtraffic.com - Tokoh
Gatotkaca yang diambil dari epik Mahabartha merupakan superhero asli Indonesia.
Ia bisa terbang, mirip Superman. Sosoknya gagah, otot kawat tulang besi, sekali
pukul lawan langsung hancur. Pokoknya hebat.
Namun tak banyak anak-anak,
bahkan orang muda masa kini yang mengenal sosok Gatotkaca karena selama ini
kisahnya lebih banyak disajikan lewat pertunjukkan wayang. Silakan dihitung
anak muda yang menikmati menonton wayang, khususnya di kota besar.
Upaya untuk mengenalkan seni
wayang kepada penonton generasi muda, dilakukan oleh Djarum Apresiasi Budaya
lewat pertunjukan wayang multimedia bertajuk Gatotkaca Jadi Raja - Battle for
the Throne.
Pagelaran itu dikemas dalam
pagelaran drama sinema, yakni format pertunjukan yang memadukan wayang orang
dan wayang kulit tradisional dengan elemen dunia hiburan masa kini, yakni
sinema, musik rock, serta visual efek.
Panggung dilengkapi dengan tiga
layar lebar untuk pemaparan film. Layar film itu berfungsi untuk menampilkan
adegan perang dengan latar belakang awan atau pegunungan sehingga pukulan
Gatotkaca seolah-olah bisa membuat lawannya mental sampai ke awan.
Dikisahkan Gatotkaca akan
diangkat menjadi Raja Pringgodani. Namun ia mendapat tantangan dari paman yang
sakti, Brojodento. Keduanya lalu melakukan adu kesaktian dan berakhir dengan
kemenangan superhero kita.
Disutradari oleh Mirwan Suwarso,
pagelaran Gatotkaca Jadi Raja ini didukung oleh nama-nama beken dari dunia
hiburan seperti Tora Sudiro sebagai Gatotkaca, Titi DJ sebagai Dewi Arimbi ibu
Gatotkaca, serta Aqi Alexa sebagai Brojo Lamatan. Sementara itu Aksan Sjuman
dipercaya sebagai penata lagu.
Namun lakon Gatotkaca Jadi Raja
sama sekali bukan lakon wayang. Dengan durasi yang sangat singkat, 60 menit,
Anda yang punya pengalaman menonton pagelaran wayang atau sendratari
tradisional mungkin akan kesulitan menangkap makna atau pesan yang disampaikan
dari cerita pengangkatan Gatotkaca sebagai raja.
Kendati begitu, pertunjukan yang
digelar Sabtu, 4 Februari 2012 di Mal Senayan City itu memang tidak dimaksudkan
untuk memainkan cerita wayang seperti apa adanya. Dengan kemasan yang modern
itu, Gatotkaca Jadi Raja justru sukses meraih penonton.
Paling tidak, anak-anak muda itu
jadi tahu adanya tokoh superhero yang sakti mandraguna. | KOMPAS |

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar