Menjelang pilkada Aceh situasi politik semakin menghangat, terutama Partai Aceh dan kubu Irwandi Yusuf.
Kedua kelompok ini berasal dari sejarah dan pernah mengukir memori yang sama, namun dalam pilkada Aceh 2012 mereka sama-sama bertarung dalam wadah yang berbeda untuk menuju kursi Gubernur Aceh.
Kubu Partai Aceh menganggap kelompok Irwandi Yusuf sudah "Meulanggeh" dari Perjuangan, sementara kelompok Irwandi Yusuf menganggap mereka masih berjalan pada koridor perjuangan.
Mari kita simak bagaimana pandangan tokoh pemuda dari Pantai timur ini.
Namanya Aswen. Pria muda ini banyak mengetahui tentang gerakan 1976 itu, selain pernah terlibat. Salah satu saudara kandungnya hilang tak berbekas hingga sekarang.
Suatu sore disebuah tempat di Aceh Timur, tanpa sengaja kontibutor media ini bertemu dengan tokoh muda itu, dia sedikit pendiam. Memulai dengan cerita biasa hingga lambat laun masuk ke soal Aceh semasa konflik, hingga kondisi pilkada 2012
Atas persetujuannya, cerita ini di izinkan untuk ditulis dan dipublikasikan untuk konsumsi khalayak ramai.
|||
Hari itu seakan dia sedang berdiskusi dengan diri sendiri. Ada yang ditanyakan, lalu ada yang di jawabnya, seperti ada sesuatu yang terganjal dalam bathinnya, dan ingin segera ia lepaskan, agar kelegaan pun mampir padanya.
Dia memulai dengan mengisahkan tentang perjuangan GAM. Perjuangan GAM menurutnya tujuan dasar adalah untuk merebut kemerdekaan dari Republik Indonesia, atas ketidak adilan yang dibuat Republik terhadap rakyat Aceh.
Dasar itulah banyak masyarakat baik yang di ajak maupun dengan kesadaran sendiri bergabung dengan GAM, dengan harapan bila kemerdekaan sanggup di gapai, maka rakyat akan hidup sejahtera.
Se-iring proses berjalan, ekses dari perjuangan terjadinya korban dimana-mana, baik yang cedera selamat hingga sekarang, maupun yang tewas tanpa diketahui dimana kuburan. Persoalan penyiksaan, ditahan di camp-camp aparat sudah jadi sarapan pagi masyarakat Aceh saat itu.
GAM dengan seyakin yakinnya saat itu menanamkan kepada masyarakat bawah suatu saat dengan dukungan si-ini- si itu kemerdekaan akan segera di gapai untuk Aceh, malah ada kata-kata yang menyebutkan “ Haram Merdeka Timor Timor sebelum abangnya Aceh Sumatera yang duluan Merdeka” begitulah saat itu.
Namun cita-cita itu tidaklah jadi kenyataan. Mei 2003 lalu Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Megawati memberlakukan darurat militer di Aceh, ribuan rakyat Aceh metimphan (tewas) dalam kuburan baik normal maupun tidak normal, sekian banyak terjadi salah tembak, sekian banyak perempuan jadi janda, sekian banyak pula kaum perempuan Aceh di perkosa.
Tsunami merubah segalanya, di Helsinki Finlandia terjadinya perundingan damai antara GAM dan RI, dalam pertemuan itu, RI langsung meng-gembok tidak ada percakapan Merdeka dalam pertemuan ini, yang ada pembicaraan otonomi khusus tetapi tertulis dalam bahasa Inggris yang disebut dengan Self Government.
Suatu sore disebuah tempat di Aceh Timur, tanpa sengaja kontibutor media ini bertemu dengan tokoh muda itu, dia sedikit pendiam. Memulai dengan cerita biasa hingga lambat laun masuk ke soal Aceh semasa konflik, hingga kondisi pilkada 2012
Atas persetujuannya, cerita ini di izinkan untuk ditulis dan dipublikasikan untuk konsumsi khalayak ramai.
|||
Hari itu seakan dia sedang berdiskusi dengan diri sendiri. Ada yang ditanyakan, lalu ada yang di jawabnya, seperti ada sesuatu yang terganjal dalam bathinnya, dan ingin segera ia lepaskan, agar kelegaan pun mampir padanya.
Dia memulai dengan mengisahkan tentang perjuangan GAM. Perjuangan GAM menurutnya tujuan dasar adalah untuk merebut kemerdekaan dari Republik Indonesia, atas ketidak adilan yang dibuat Republik terhadap rakyat Aceh.
Dasar itulah banyak masyarakat baik yang di ajak maupun dengan kesadaran sendiri bergabung dengan GAM, dengan harapan bila kemerdekaan sanggup di gapai, maka rakyat akan hidup sejahtera.
Se-iring proses berjalan, ekses dari perjuangan terjadinya korban dimana-mana, baik yang cedera selamat hingga sekarang, maupun yang tewas tanpa diketahui dimana kuburan. Persoalan penyiksaan, ditahan di camp-camp aparat sudah jadi sarapan pagi masyarakat Aceh saat itu.
GAM dengan seyakin yakinnya saat itu menanamkan kepada masyarakat bawah suatu saat dengan dukungan si-ini- si itu kemerdekaan akan segera di gapai untuk Aceh, malah ada kata-kata yang menyebutkan “ Haram Merdeka Timor Timor sebelum abangnya Aceh Sumatera yang duluan Merdeka” begitulah saat itu.
Namun cita-cita itu tidaklah jadi kenyataan. Mei 2003 lalu Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Megawati memberlakukan darurat militer di Aceh, ribuan rakyat Aceh metimphan (tewas) dalam kuburan baik normal maupun tidak normal, sekian banyak terjadi salah tembak, sekian banyak perempuan jadi janda, sekian banyak pula kaum perempuan Aceh di perkosa.
Tsunami merubah segalanya, di Helsinki Finlandia terjadinya perundingan damai antara GAM dan RI, dalam pertemuan itu, RI langsung meng-gembok tidak ada percakapan Merdeka dalam pertemuan ini, yang ada pembicaraan otonomi khusus tetapi tertulis dalam bahasa Inggris yang disebut dengan Self Government.
Cita –cita merdeka tidak terealisasi”
Namun,pasca MoU Helsinki, se olah- olah mimpi merdeka masih ada, walaupun dengan pemikiran dan dengan pola-pola lain. Tetapi setelah lahirnya Partai Aceh, se-akan sudah ada mainan baru hingga semua terfokus kesana.
“Artinya GAM, kombatan (KPA), elemen sipil, aktivis GAM sudah di Partai Aceh semua, sehingga mimpi tinggal mimpi dan kekuatan serta martabat itu hilang,” ujar Aswen
Padahal banyak orang mengetahui bahwa kekuatan Partai Aceh dalam Republik Indonesia adalah kekuatan semu, yang bisa diartikan dengan ada dan tidak ada.
Sebagai bentuk tidak adanya kekuatan lagi terlihat di awal –awal pembentukan partai lokal. GAM mengajukan nama kepada pemerintah dengan nama Partai Gerakan Aceh Mandiri (GAM).
Nama itu di tolak oleh pemerintah Jakarta, padahal menurutnya dalam UU kepartaian tak pernah diatur soal larangan dengan nama itu. Yang ada diatur adalah untuk partai yang beraliran atau berazaskan komunis. Sementara partai GAM bukanlah komunis.
Dan Jakarta saat itu memberi alasan bahwa pasca MOU tidak ada lagi embel –embel GAM. Sehingga mulai saat itu perjalanan politik Aceh dan Jakarta selalu ada benturan –benturan.
Begitu juga dengan pasal 256 soal jalur independen, dalam Mou disebutkan bahwa warga Aceh berhak berpartisipasi politik dalam berbagai tingkatan. Namun karena ketakutan dari pemerintah Jakarta termasuk DPR Aceh saat itu, akhirnya isi UUPA tidak sesuai dengan isi MoU Helsinki, dimana dalam MoU jalur Independen/partisipasi politik rakyat Aceh adalah sebuah kelebihan yang dimiliki, namun dalam UUPA hanya berlaku sekali saja.
Walaupun setelah itu pemerintah pusat juga memberlakukan jalur perseorangan itu untuk pemilihan kepala daerah di propinsi dan kabupaten lain di Indonesia. Sementara Aceh yang menciptakan model pertama tidak menikmati lagi kebebasan berdemokrasi itu.
Untung saja, ada gugatan warga Aceh kepada Mahkamah Kontitusi, maka ruh MoU Helsinki yang sempat dicabut, dapat kembali lagi kepada masyarakat Aceh.
Dalam kontek perpolitikan kekinian, beriring runtuhnya martabat dan ruh dasar perjuangan, pemerintah pusat tidak lagi menjawab persoalan Aceh dengan politik, tetapi sekarang dengan gampang menjelaskan aturan-aturan yang berlaku di Negara kesatuan Republik Indonesia.
Begitu juga jika bila ada suatu bargaining antara Partai Aceh dengan Jakarta, Jakarta tidak perlu lagi menyikapi dengan politik, tapi tinggal menjelaskan dengan aturan-aturan yang ada.
Dalam posisi ini yang sangat kita sayangkan adalah GAM. GAM jelas tidak mampu menye-imbangkan atau menjelaskan seperti yang Jakarta jelaskan aturan-aturan nya kepada Aceh.
“Dalam MoU Ini juga ada aturan aturan dan ada poin-poin milik GAM, tapi GAM tidak mampu menjelaskan ini kepada pemerintah Indonesia,” Jelas Aswen.
Katanya, seharusnya GAM adalah pihak yang mengevaluasi jalannya butir-butir MoU, tapi justru yang terjadi GAM yang sebelumnya duduk sebahu untuk berunding soal masa depan Aceh, kini turun ke tingkat dasar yaitu bernaung disebuah Partai.
Partai Lokal
Aswen juga bercerita soal partai lokal, seharusnya diawal pendirian Partai Lokal, idealnya Partai Lokal Aceh harus banyak. Namun harus memiliki visi yang sama untuk membangun Aceh.
Nama itu di tolak oleh pemerintah Jakarta, padahal menurutnya dalam UU kepartaian tak pernah diatur soal larangan dengan nama itu. Yang ada diatur adalah untuk partai yang beraliran atau berazaskan komunis. Sementara partai GAM bukanlah komunis.
Dan Jakarta saat itu memberi alasan bahwa pasca MOU tidak ada lagi embel –embel GAM. Sehingga mulai saat itu perjalanan politik Aceh dan Jakarta selalu ada benturan –benturan.
Begitu juga dengan pasal 256 soal jalur independen, dalam Mou disebutkan bahwa warga Aceh berhak berpartisipasi politik dalam berbagai tingkatan. Namun karena ketakutan dari pemerintah Jakarta termasuk DPR Aceh saat itu, akhirnya isi UUPA tidak sesuai dengan isi MoU Helsinki, dimana dalam MoU jalur Independen/partisipasi politik rakyat Aceh adalah sebuah kelebihan yang dimiliki, namun dalam UUPA hanya berlaku sekali saja.
Walaupun setelah itu pemerintah pusat juga memberlakukan jalur perseorangan itu untuk pemilihan kepala daerah di propinsi dan kabupaten lain di Indonesia. Sementara Aceh yang menciptakan model pertama tidak menikmati lagi kebebasan berdemokrasi itu.
Untung saja, ada gugatan warga Aceh kepada Mahkamah Kontitusi, maka ruh MoU Helsinki yang sempat dicabut, dapat kembali lagi kepada masyarakat Aceh.
Dalam kontek perpolitikan kekinian, beriring runtuhnya martabat dan ruh dasar perjuangan, pemerintah pusat tidak lagi menjawab persoalan Aceh dengan politik, tetapi sekarang dengan gampang menjelaskan aturan-aturan yang berlaku di Negara kesatuan Republik Indonesia.
Begitu juga jika bila ada suatu bargaining antara Partai Aceh dengan Jakarta, Jakarta tidak perlu lagi menyikapi dengan politik, tapi tinggal menjelaskan dengan aturan-aturan yang ada.
Dalam posisi ini yang sangat kita sayangkan adalah GAM. GAM jelas tidak mampu menye-imbangkan atau menjelaskan seperti yang Jakarta jelaskan aturan-aturan nya kepada Aceh.
“Dalam MoU Ini juga ada aturan aturan dan ada poin-poin milik GAM, tapi GAM tidak mampu menjelaskan ini kepada pemerintah Indonesia,” Jelas Aswen.
Katanya, seharusnya GAM adalah pihak yang mengevaluasi jalannya butir-butir MoU, tapi justru yang terjadi GAM yang sebelumnya duduk sebahu untuk berunding soal masa depan Aceh, kini turun ke tingkat dasar yaitu bernaung disebuah Partai.
Partai Lokal
Aswen juga bercerita soal partai lokal, seharusnya diawal pendirian Partai Lokal, idealnya Partai Lokal Aceh harus banyak. Namun harus memiliki visi yang sama untuk membangun Aceh.
Tapi apa yang terjadi saat itu ? Beberapa petinggi waktu itu tidak setuju.
Kehadiran Partai PRA, Sira, PDA, PAAS dibuat seperti musuh oleh Partai Aceh, pembusukan terjadi dimana-dimana? Bagaimana partai lokal itu dihantam dilapangan, hingga mereka tidak bisa merangkak, padahal mereka juga ingin berbuat untuk Aceh.
Berbeda 100 % di masa perang dulu, antar elemen di Aceh memiliki visi yang sama untuk kejahteraan Aceh ke depan. Bagaimana saat itu GAM dilapangan membangun hubungan dengan berbagai elemen, elemin sipil masyarakat, mahasiswa, dan Lsm.
Seharusnya kehadiran partai lokal saat itu, dan keinginan dari elemen sipil untuk berbuat untuk Aceh, Partai Aceh harus menyikapi dengan arif dan mendukung. Karena dengan banyaknya kekuatan atau adanya kekuatan baru yang ingin berbuat untuk Aceh, perwujudan tuntutan keadilan Aceh terhadap pemerintah pusat kan semakin kuat ?
Tapi justru yang terjadi sebaliknya, Partai Aceh bersama sejumlah perangkat dibawahnya seperti KPA (Mantan Combatan), Elemen sipil GAM, justru menjustifikasi atau membenarkan bahwa partai lain tidak beres, dan menuding mereka pengkhianat perjuangan. Dan yang berhak buat Partai adalah GAM. " Ini tidak logis”
||| Keberlanjutan Perjuangan
Kehadiran Partai PRA, Sira, PDA, PAAS dibuat seperti musuh oleh Partai Aceh, pembusukan terjadi dimana-dimana? Bagaimana partai lokal itu dihantam dilapangan, hingga mereka tidak bisa merangkak, padahal mereka juga ingin berbuat untuk Aceh.
Berbeda 100 % di masa perang dulu, antar elemen di Aceh memiliki visi yang sama untuk kejahteraan Aceh ke depan. Bagaimana saat itu GAM dilapangan membangun hubungan dengan berbagai elemen, elemin sipil masyarakat, mahasiswa, dan Lsm.
Seharusnya kehadiran partai lokal saat itu, dan keinginan dari elemen sipil untuk berbuat untuk Aceh, Partai Aceh harus menyikapi dengan arif dan mendukung. Karena dengan banyaknya kekuatan atau adanya kekuatan baru yang ingin berbuat untuk Aceh, perwujudan tuntutan keadilan Aceh terhadap pemerintah pusat kan semakin kuat ?
Tapi justru yang terjadi sebaliknya, Partai Aceh bersama sejumlah perangkat dibawahnya seperti KPA (Mantan Combatan), Elemen sipil GAM, justru menjustifikasi atau membenarkan bahwa partai lain tidak beres, dan menuding mereka pengkhianat perjuangan. Dan yang berhak buat Partai adalah GAM. " Ini tidak logis”
||| Keberlanjutan Perjuangan
Sekarang banyak kita dengar Partai Aceh mengembar-gemborkan bahwa apa yang dilakukan sekarang, seperti mencalonkan diri sebagai Gubernur adalah kelanjutan dari perjuangan GAM dulu. Tetapi menurut pria muda ini, tidaklah demikian.
Namun ia memprediksikan ucapan itu terlahir dan sengaja dibangun isu tersebut, karena masih ada keyakinan dari orang-orang itu sendiri. Tapi tidak sanggup mengaplikasikannya.
“ Sama saja tong kosong nyaring bunyinya,” Ujar Aswen.
Dan itu jelas membuktikan ketidakmampuan, dan untuk membenarkan kepada rakyat yang telah berkorban harta,benda, nyawa, maka itu dipaksakan harus dikatakan, walaupun pada hakikatnya jauh panggang dari api.
||| Kata Pengkhianat Dan Pengganggu Perjuangan
Jika ditelisik dua kata tersebut yang kerap terlihat di media massa atas pernyataan para pihak. Aswen mengungkapkan definisi pengkhianat tidaklah serta merta seperti yang di ucapkan itu.
Dia menjelaskan ada dua definisi pengkhianat, pertama bila sumpahnya demi ALLAH, dan bila dalam pekerjaan sudah keluar dari jalur perintah ALLAH, berarti itu sudah mengkhianati Allah.
Sementara dalam kontek perjuangan, seperti yang pernah disampaikan Alm Komandan Operasi GAM Wilayah Peureulak Ishak Daud, jika sumpahnya Demi Aceh, Darah Uloen, Nyowoeng Uloen kan loen relakan untuk perjuangan nyoe.
Maka yang dianggap pengkhianat adalah orang–orang atau anggota yang keluar dan menyerahkan harta Negara kepada musuh, membocorkan informasi rahasia perjuangan, dan menyerah dalam berjuang. “Itu baru dikatakan pengkhianat”
Sementara yang terjadi selama ini banyaknya anggota GAM, KPA yang mendukung calon Gubernur di luar Partai Aceh atau mendukung calon lain, bukanlah pengkhianat. Tetapi ini hanya beda pendapat. “Dalam agama saja ada 4 mazhab yang berbeda, tapi saling menghargai,” Tambah Aswen.
Ketidakfahaman itulah dalam perjalanan pilkada ini nantinya, karena ada yang menganggap Mazhabnya lebih benar dan orang lain “Pengkhianat “ akan terjadi gesekan kecil antara para pendukung kandidat yang tidak memahami apa yang sedang terjadi terutama dalam lingkungannya dan rumahnya sendiri.
Namun jikapun ada pihak yang memaksakan dan melupakan akal sehat serta menerima alasan tertentu walaupun secara jelas nampak didepan matanya yang didukung dan dibela adalah bertolak belakang dengan nuraninya, seperti kata pepatah “Yang dulu di benci sekarang dicintai”
Dan dalam memaksakan itu membuat “teupeh keuno keudeh, sampe dawa ngon apa dadeh (tersenggol sana- sini, sampai adu mulut dengan pak dadeh), yang pasti masyarakat lemah di Aceh sudah muak dengan cara-cara itu.
Namun jikapun masyarakat terlihat lemah, tapi yakinlah soal ketahanan untuk menghadapi teror dan tekanan, masyarakat Aceh sudah teruji. Dan klimaknya jika tidak sanggup bersabar lagi, Mereka pasti melawan. “Ini panggung sandiwara pilkada, seharusnya para kandidat atau pendukung bersandiwaralah yang sehat.
Dalam pilkada Aceh walaupun ada empat pasangan calon Gubernur, namun yang paling heboh adalah kubu Partai Aceh yang dimotori para mentro GAM, Mentro Zaini Abdullah, Mentro Zakaria Saman, dan Mentro Malik Mahmud, Muzakkir Manaf, Abu Razak, beberapa aktivis 98, dan untuk kampanye nantinya salah satunya terlibat disana mantan komandan Jenderal Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko
Sementara kubu jalur Independen Irwandi Yusuf, didukung oleh mantan panglima GAM yang sudah tersingkir dari kubu Mentro dan hingga saat ini belum diketahui siapa saja yang terlibat atau jagoan yang akan di pasang sebagai jurkam nantinya.
Dan itu jelas membuktikan ketidakmampuan, dan untuk membenarkan kepada rakyat yang telah berkorban harta,benda, nyawa, maka itu dipaksakan harus dikatakan, walaupun pada hakikatnya jauh panggang dari api.
||| Kata Pengkhianat Dan Pengganggu Perjuangan
Jika ditelisik dua kata tersebut yang kerap terlihat di media massa atas pernyataan para pihak. Aswen mengungkapkan definisi pengkhianat tidaklah serta merta seperti yang di ucapkan itu.
Dia menjelaskan ada dua definisi pengkhianat, pertama bila sumpahnya demi ALLAH, dan bila dalam pekerjaan sudah keluar dari jalur perintah ALLAH, berarti itu sudah mengkhianati Allah.
Sementara dalam kontek perjuangan, seperti yang pernah disampaikan Alm Komandan Operasi GAM Wilayah Peureulak Ishak Daud, jika sumpahnya Demi Aceh, Darah Uloen, Nyowoeng Uloen kan loen relakan untuk perjuangan nyoe.
Maka yang dianggap pengkhianat adalah orang–orang atau anggota yang keluar dan menyerahkan harta Negara kepada musuh, membocorkan informasi rahasia perjuangan, dan menyerah dalam berjuang. “Itu baru dikatakan pengkhianat”
Sementara yang terjadi selama ini banyaknya anggota GAM, KPA yang mendukung calon Gubernur di luar Partai Aceh atau mendukung calon lain, bukanlah pengkhianat. Tetapi ini hanya beda pendapat. “Dalam agama saja ada 4 mazhab yang berbeda, tapi saling menghargai,” Tambah Aswen.
Ketidakfahaman itulah dalam perjalanan pilkada ini nantinya, karena ada yang menganggap Mazhabnya lebih benar dan orang lain “Pengkhianat “ akan terjadi gesekan kecil antara para pendukung kandidat yang tidak memahami apa yang sedang terjadi terutama dalam lingkungannya dan rumahnya sendiri.
Namun jikapun ada pihak yang memaksakan dan melupakan akal sehat serta menerima alasan tertentu walaupun secara jelas nampak didepan matanya yang didukung dan dibela adalah bertolak belakang dengan nuraninya, seperti kata pepatah “Yang dulu di benci sekarang dicintai”
Dan dalam memaksakan itu membuat “teupeh keuno keudeh, sampe dawa ngon apa dadeh (tersenggol sana- sini, sampai adu mulut dengan pak dadeh), yang pasti masyarakat lemah di Aceh sudah muak dengan cara-cara itu.
Namun jikapun masyarakat terlihat lemah, tapi yakinlah soal ketahanan untuk menghadapi teror dan tekanan, masyarakat Aceh sudah teruji. Dan klimaknya jika tidak sanggup bersabar lagi, Mereka pasti melawan. “Ini panggung sandiwara pilkada, seharusnya para kandidat atau pendukung bersandiwaralah yang sehat.
Dalam pilkada Aceh walaupun ada empat pasangan calon Gubernur, namun yang paling heboh adalah kubu Partai Aceh yang dimotori para mentro GAM, Mentro Zaini Abdullah, Mentro Zakaria Saman, dan Mentro Malik Mahmud, Muzakkir Manaf, Abu Razak, beberapa aktivis 98, dan untuk kampanye nantinya salah satunya terlibat disana mantan komandan Jenderal Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko
Sementara kubu jalur Independen Irwandi Yusuf, didukung oleh mantan panglima GAM yang sudah tersingkir dari kubu Mentro dan hingga saat ini belum diketahui siapa saja yang terlibat atau jagoan yang akan di pasang sebagai jurkam nantinya.
Dan apa isu yang di jual ke masyarakat ?
Semua mengakui kehadiran kedua kubu ini dalam kancah perpolitikan di Aceh, adalah lepasan dari sejarah yang sama, dan dua-duanya bisa mengklaim dirinya pejuang karena memang mereka pelaku sejarahnya.
Dan menurut Aswen, jika salah satu kelompok ada yang mengkampanyekan bahwa yang di lakukan saat ini adalah (Sinambong Perjuangan) kelanjutan dari perjuangan masa lalu?
Tidak ada kaitan nya? Karena jika itu adalah kesimbungan dari perjuangan maka tingkah dan tindakan tidaklah bertentangan dengan koridor perjuangan yang telah di gariskan Almarhum Wali Negara Tengku Chik Hasan Muhammad Di Tiro.
Dalam garis besar itu, salah satunya di simpulkan dalam sumpah setia GAM. Dimana Wali tidak merelakan seorang pejuang berkawan dengan musuhnya, dan tidak akan memusuhi engan kawan Wali, dan tidak akan saya berkawan dengan musuh wali?
Maka dari situ, biar ketemu dasarnya agar tidak terjadi pertengkaran pilihannya kembali ke dasar perjuangan yaitu sumpah perjuangan. Di sana merenungi dan memahami maksud dan isinya.
Tidak ada kaitan nya? Karena jika itu adalah kesimbungan dari perjuangan maka tingkah dan tindakan tidaklah bertentangan dengan koridor perjuangan yang telah di gariskan Almarhum Wali Negara Tengku Chik Hasan Muhammad Di Tiro.
Dalam garis besar itu, salah satunya di simpulkan dalam sumpah setia GAM. Dimana Wali tidak merelakan seorang pejuang berkawan dengan musuhnya, dan tidak akan memusuhi engan kawan Wali, dan tidak akan saya berkawan dengan musuh wali?
Maka dari situ, biar ketemu dasarnya agar tidak terjadi pertengkaran pilihannya kembali ke dasar perjuangan yaitu sumpah perjuangan. Di sana merenungi dan memahami maksud dan isinya.
“Han loen Meurakan Ngon Musoh Wali, Han Loen Memusoh Ngon Rakan Wali, Akan Uloen Meurakan dengan Rakan Wali, itu sumpah perjuangan,” Ujar Aswen serius.
Jadi sekarang ? | AT | Kontributor Aceh Timur
Baca Juga:
Mantan Danjen Baret Merah Jadi Jurkam Partai Merah
Inilah Profile Mayjen (Purn) Soenarko Tim Sukses Pasangan Partai Aceh Mentro Zaini -Muzakkir Manaf
Baca Juga:
Mantan Danjen Baret Merah Jadi Jurkam Partai Merah
Inilah Profile Mayjen (Purn) Soenarko Tim Sukses Pasangan Partai Aceh Mentro Zaini -Muzakkir Manaf


0 komentar:
Posting Komentar