News Update :

Gadis Aceh Di Duga Korban Perdagangan Manusia

Senin, 06 Februari 2012

Banda Aceh | Acehtraffic.com - Siti Zahara seorang gadis remaja berusia 21 tahun asal Desa Lam Alue Raya, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan hampir sepekan ini menghilang dari rumah. Zahara tak kembali setelah pamit kepada sang bunda untuk menemui seseorang yang ingin memberi pekerjaan untuknya.

Keluarga menduga Siti Zahara menjadi korban perdagangan manusia, yang kini marak di Aceh. Ditemui dikediamannya, rona penuh rasa cemas dan khawatir, jelas terlihat diraut wajah Nurjannah, ibu paruh baya asal Desa Lam Alue Raya ini. Siti Zahara adalah anak gadis satu-satunya pasangan Nurjannah dan Muhammad Nasir.

Demi menenangkan hati, setiap malam Nurjannah tak henti-hentinya berdoa agar sang anak segera pulang ke rumah mereka. "Kami tak tahu harus mencari kemana lagi, sehari setelah pergi ia sempat menelpon dan mengatakan kini sedang berada di sebuah rumah yang dekat pantai dan gunung. Setelah itu telepon terputus dan tidak bisa dihubungi hingga saat ini," jelas Nurjannah dengan mata yang berkaca-kaca.

Pihak keluarga sudah mencari Zahara ke sejumlah tempat, seperti Ulee Lheue dan Kajhu, tapi hingga hari ini, Senin, 6 Februari 2012 upaya itu masih nihil. Zahara tak kunjung kembali.

Siti Zahara mengaku pergi untuk menemui seorang perempuan bernama Yanti yang berasal dari Aceh Selatan, yang berjanji memberinya pekerjaan. Keluarga mencurigai kalau siti Zahra menjadi korban penjualan manusia, alias human trafficking, yang kini sedang marak di Aceh. "Sebelum pergi dia memang pamit akan menemui seseorang perempuan katanya berasal dari Aceh Selatan, katanya sudah ada pekerjaan untuk Siti, saya tidak kenal siapa perempuan itu, ya begitulah kata anak saya, saya tidak kenal," ujar Nurjannah.

Siti Zahara adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Menurut sang ayah, sejak menamatkan pendidikan di bangku sekolah Madrasah Aliyah Negeri Tungkop tiga tahun lalu, Zahara tak pernah pergi keluar rumah tanpa ditemani abangnya, Amir.

Sementara itu, Kepolisian Daerah Aceh melansir, aktifitas perdagangan manusia mulai marak di Aceh. Persoalan ekonomi menjadi alasan utama. Para korban dan calon korban selalu ditawarkan pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi. Sebagai kedok, biasanya para korban ditawarkan pekerjaan sebagai pengasuh anak di beberapa negara tetangga, dengan bayaran yang tinggi. | Kompas |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016