Banda Aceh | Acehtraffic.com - Siti
Zahara seorang gadis remaja berusia 21 tahun asal Desa Lam Alue Raya, Kecamatan
Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan hampir sepekan ini menghilang dari
rumah. Zahara tak kembali setelah pamit kepada sang bunda untuk menemui
seseorang yang ingin memberi pekerjaan untuknya.
Keluarga menduga Siti Zahara
menjadi korban perdagangan manusia, yang kini marak di Aceh. Ditemui
dikediamannya, rona penuh rasa cemas dan khawatir, jelas terlihat diraut wajah
Nurjannah, ibu paruh baya asal Desa Lam Alue Raya ini. Siti Zahara adalah anak
gadis satu-satunya pasangan Nurjannah dan Muhammad Nasir.
Demi menenangkan hati, setiap
malam Nurjannah tak henti-hentinya berdoa agar sang anak segera pulang ke rumah
mereka. "Kami tak tahu harus mencari kemana lagi, sehari setelah pergi ia
sempat menelpon dan mengatakan kini sedang berada di sebuah rumah yang dekat
pantai dan gunung. Setelah itu telepon terputus dan tidak bisa dihubungi hingga
saat ini," jelas Nurjannah dengan mata yang berkaca-kaca.
Pihak keluarga sudah mencari
Zahara ke sejumlah tempat, seperti Ulee Lheue dan Kajhu, tapi hingga hari ini,
Senin, 6 Februari 2012 upaya itu masih nihil. Zahara tak kunjung kembali.
Siti Zahara mengaku pergi untuk
menemui seorang perempuan bernama Yanti yang berasal dari Aceh Selatan, yang
berjanji memberinya pekerjaan. Keluarga mencurigai kalau siti Zahra menjadi
korban penjualan manusia, alias human trafficking, yang kini sedang marak di
Aceh. "Sebelum pergi dia memang pamit akan menemui seseorang perempuan
katanya berasal dari Aceh Selatan, katanya sudah ada pekerjaan untuk Siti, saya
tidak kenal siapa perempuan itu, ya begitulah kata anak saya, saya tidak
kenal," ujar Nurjannah.
Siti Zahara adalah anak ketiga
dari enam bersaudara. Menurut sang ayah, sejak menamatkan pendidikan di bangku
sekolah Madrasah Aliyah Negeri Tungkop tiga tahun lalu, Zahara tak pernah pergi
keluar rumah tanpa ditemani abangnya, Amir.
Sementara itu, Kepolisian Daerah
Aceh melansir, aktifitas perdagangan manusia mulai marak di Aceh. Persoalan
ekonomi menjadi alasan utama. Para korban dan calon korban selalu ditawarkan
pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi. Sebagai kedok, biasanya para korban
ditawarkan pekerjaan sebagai pengasuh anak di beberapa negara tetangga, dengan
bayaran yang tinggi. | Kompas |


0 komentar:
Posting Komentar