Jakarta | Acehtraffic.com - Isu money politics yang terjadi di Kongres Partai Demokrat (PD) disebut beberapa politisi PD sebagai hal wajar. Kongres partai lainnya pun demikian, termasuk Golkar. Namun, hal tersebut dibantah politisi Golkar Azis Syamsudin. Dia mengklaim Golkar bersih money politics.
"Mungkin di Partai Demokrat biasa (money politic), di Golkar itu nggak biasa," kata Azis kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Rabu 22 Februari 2012.
Menurut Azis, Partai Golkar tidak membenarkan praktik money politics di internalnya. Tetapi ia membenarkan jika ada uang transport yang diberikan kepada kader partai. Namun, ia menganggap hal tersebut wajar, karena memang uang transport diperlukan bagi kader partai.
"Kalau uang transport sih bukan dalam kongres saja, Anda kesini juga pakai uang transport dari kantor. Saya juga kesini pakai uang transport," tutur Azis.
"Kalau bagi-bagi Blackberry di Kongres?" tanya wartawan.
"Nah itu yang nggak pas. Tapi saya nggak mau mengomentari tentang partai lain lah," jawab Azis.
Seperti diberitakan sebelumnya, Waketum Partai Demokrat menganggap praktek money politics dalam usaha memenangkan seorang calon adalah hal yang wajar di sebuah kongres partai politik. Selama sumber dana yang digunakan adalah uang pribadi, bukan uang negara.
"Kalau ada yang disebut sebagai uang apresiasi, uang lelah, karena ingin dipilih dan mendapat suara itu wajar-wajar saja. Di mana saja, di kongres mana saja, di Munas manapun terjadi hal yang sama, yang sekarang ini disebut money politics," kata Max saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Senayan, Selasa (21/2).
Ketua Divisi Kominfo PD Ruhut Sitompul mengungkap bahwa praktek politik uang sudah menjadi hal sangat lazim terjadi. Bahkan semasa masih aktif di Partai Golkar, justru praktek seperti itu sudah seperti tradisi dalam setiap kongres.
"Money politics itu di semua partai, apalagi di Golkar. Golkar kan hobinya sok suci," kata Ruhut.| AT | DT |
"Mungkin di Partai Demokrat biasa (money politic), di Golkar itu nggak biasa," kata Azis kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Rabu 22 Februari 2012.
Menurut Azis, Partai Golkar tidak membenarkan praktik money politics di internalnya. Tetapi ia membenarkan jika ada uang transport yang diberikan kepada kader partai. Namun, ia menganggap hal tersebut wajar, karena memang uang transport diperlukan bagi kader partai.
"Kalau uang transport sih bukan dalam kongres saja, Anda kesini juga pakai uang transport dari kantor. Saya juga kesini pakai uang transport," tutur Azis.
"Kalau bagi-bagi Blackberry di Kongres?" tanya wartawan.
"Nah itu yang nggak pas. Tapi saya nggak mau mengomentari tentang partai lain lah," jawab Azis.
Seperti diberitakan sebelumnya, Waketum Partai Demokrat menganggap praktek money politics dalam usaha memenangkan seorang calon adalah hal yang wajar di sebuah kongres partai politik. Selama sumber dana yang digunakan adalah uang pribadi, bukan uang negara.
"Kalau ada yang disebut sebagai uang apresiasi, uang lelah, karena ingin dipilih dan mendapat suara itu wajar-wajar saja. Di mana saja, di kongres mana saja, di Munas manapun terjadi hal yang sama, yang sekarang ini disebut money politics," kata Max saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Senayan, Selasa (21/2).
Ketua Divisi Kominfo PD Ruhut Sitompul mengungkap bahwa praktek politik uang sudah menjadi hal sangat lazim terjadi. Bahkan semasa masih aktif di Partai Golkar, justru praktek seperti itu sudah seperti tradisi dalam setiap kongres.
"Money politics itu di semua partai, apalagi di Golkar. Golkar kan hobinya sok suci," kata Ruhut.| AT | DT |


0 komentar:
Posting Komentar