News Update :

Apple Dihadang Isu Kesejahteraan Buruhnya?

Sabtu, 25 Februari 2012

Jakarta | Acehtraffic.com- Terkait isu kesejahteraan buruh dan lingkungan kerja di pabrik supliernya di China, Apple mengatakan bahwa semuanya cukup baik. Lain halnya dengan laporan dari para auditor. Apple berkelit?

Laporan terbaru dari ABC mengenai kondisi lingkungan kerja di Foxconn, pabrik suplier di China yang merakit banyak produk dari vendor-vendor ternama termasuk Apple, mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa banyak pekerja di Foxconn dibayar di bawah standar dan bekerja melebihi waktu. Kini pihak Foxconn sendiri, Apple dan Fair Labor Association telah merespon laporan tersebut.

Salah seorang buruh Foxconn mengaku bahwa ia memasang logo Apple di enam ribu unit iPad selama satu shift kerjanya. Dari pihak Apple mengklaim bahwa hal ini tidak mungkin. "Dalam proses manufakturing biasanya seorang buruh dalam satu shift-nya hanya memasang logo tiga ribu unit produk saja. Enam ribu unit merupakan gabungan dari dua shift," jelas pihak Apple.

Auret Van Heerden, Presiden dan CEO dari Fair Labor Association (FLA), meminta kejelasan dari pihak Apple. "Diskusi FLA dengan Apple mengenai kesejahteraan buruh mulai April 2007, namun ditunda pada Maret 2008. Kemudian dibuka kembali pada April 2009. Kami pun memutuskan melakukan survei, yang dilakukan akhir 2011," jelas Van Heerden.

Foxconn mengklaim bahwa upah buruh mereka tidak serendah yang dilaporkan oleh berbagai pemberitaan. Pihak Apple juga sebelumnya telah mengatakan bahwa saat ini sejumlah pabrik suplier mereka yang di China sedang dalam pengawasan dari kantor pusat.

Tim Cook, CEO Apple, mengatakan bahwa demi memastikan lingkungan kerja di sejumlah pabrik suplier di China, tim audit terus melanjutkan pengawasannya di sana. "Apple sangat serius dalam memperhatikan lingkungan kerja, yang sudah kami lakukan sejak lama," ujar Cook di acara Goldman Sachs Technology and Internet Conference, di San Francisco.

"Kami tahu bahwa orang-orang memiliki ekspektasi yang tinggi untuk Apple, begitu pula kami untuk diri sendiri," tambahnya. Sebelumnya, dalam memprotes kondisi buruh dan lingkungan kerjanya di China, sebuah petisi dihadirkan, berisi 250 ribu tanda tangan terkait kasus kesejahteraan buruh di pabrik suplier mereka di China.

Kelompok-kelompok persatuan buruh menghantarkan 250 ribu tanda tangan ke Apple Store di enam kota di seluruh dunia, sebagai protes atas kesejahteraan buruh dan kondisi lingkungan kerja di China. Pabrik suplier terbesar Apple di China, Foxconn, paling banyak mendapat tuduhan karena lingkungan kerjanya yang buruk bagi para pekerjanya.

"Sangat menyedihkan untuk mendengarkan kisah seperti buruh loncat dari gedung dan terus menggunakan tangannya hingga tak mampu lagi," ujar William Winters, sang pencetus situs petisi Change.org. Sampai saat ini, petisi tersebut telah dikirimkan ke Apple Store, San Francisco. Sementara sisanya akan dikirimkan Apple Store di kota lainnya di AS, Inggris, Australia, dan India.

Salah satu pabrik supplier Apple di China adalah Foxconn, yang juga memproduksi merk-merk dunia lainnya seperti Samsung, Microsoft, Amazon, dan lain-lain. Namun dalam waktu dua tahun terakhir menjadi perbincangan dengan munculnya kasus bunuh diri massal serta aksi demonstrasi yang sempat dilakukan oleh para buruh pabrik tersebut.

Namun beberapa pengamat mengatakan bahwa sangat tidak adil untuk 'menghakimi' secara sepihak. Mungkin saja pihak supplier demi memenuhi permintaan kuota produk dari Apple, mereka memperkerjakan buruhnya di luar batas-batas wajar.

Permintaan yang besar dari pasar terhadap Apple mungkin 'menggiring' mereka menekan Foxconn agar bekerja cepat, demi menyelesaikan pesanan. Bahkan artikel New York Times menulis bahwa jika Apple berkomitmen untuk membuat ponsel 'bebas konflik' tentunya akan mengubah cara kerja roda teknologi, dan membuat mereka bangkrut.

Pada 2010 lalu dunia sempat dihebohkan kasus bunuh diri karyawan suplier Apple, sehingga membuat opini bahwa perusahaan tidak memperhatikan masalah tersebut. Apple untuk pertama kalinya merilis laporan dari para supliernya, yang berjumlah 156 (Sony, Intel, Samsung, Foxconn, dan lain-lain), karena kasus yang menyeret Apple terkait bunuh diri massal karyawan di pabrik Foxconn pada 2010 lalu.

Sebuah audit internal tahunan yang dilakukan menunjukkan bahwa 38% dari supplier Apple memberlakukan 60 jam kerja dalam sepekan dan satu hari per pekan. Dalam laporan yang bernama Supplier Responsibility Report 2012 tersebut, Apple mengatakan bahwa mereka telah menemukan sedikit pelanggaran pada 2011 ketimbang 2010, berdasarkan 229 audit yang dilakukan tahun lalu.

Audit yang dilakukan sempat menemukan bahwa 50 persen dari pegawai mereka telah melampaui 60 jam kerja dalam sepekan. Lalu para pabrik supplier tersebut tidak membayar lembur sesuai hukum berlaku, mengabaikan hari libur, memperkerjakan anak-anak di bawah umur, lingkungan kerja tak sehat dan masih banyak yang lain-lain. | INC
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016