London | Acehtraffic.com - Kulit manusia dapat menghentikan peluru dengan sedikit bantuan dari kambing yang dimodifikasi secara genetik. Kulit dicampur dengan susu kambing (dari kambing hasil rekayasa genetika) dapat menghasilkan protein yang sama seperti yang terdapat di jaring laba-laba sutra. Kekuatan jaring yang dibuat laba-laba sutra memang empat kali lebih kuat dari Kevlar, bahan yang digunakan dalam pembuatan rompi anti-peluru.
'Sutra' tersebut lalu dilapisi kulit manusia dewasa yang direkayasa secara bio-rekayasa dalam sebuah laboratorium, untuk dapat menahan peluru dari sebuah tembakan langsung, meski tidak ditembakkan dengan kecepatan penuh.
“Dalam cuplikan video (hasil penelitian), peluru ditembakkan ke kulit hasil rekayasa itu dalam setengah kecepatan. Tapi daya tahannya terbatas, saat ditembakkan pada kecepatan penuh 329 meter per detik, material butiran peluru itu menembus kulit,” tulis New Scientist.
Peneliti Belanda, Jalila Essaidi yang bekerja di Konsorsium Forensik Genetik Belanda mengatakan bahwa proyek sutra laba-laba 'spidersilk' itu disebut '2,6 gram 329 m / s', yang diambil dari bobot dan kecepatan peluru senapan kaliber 22 yang laras panjang.
![]() |
| Kulit yang dibuat dengan menenun protein sutra laba-laba menjadi kain yang lebih kuat 4 kali dari Kevlar (bahan pembuatan anti peluru) |
“Tujuan percobaan ini adalah untuk mengganti keratin dalam kulit manusia dengan sutra laba-laba”, Ujar Essaidi sebagaimana diansir Daily Mail, Selasa, 31 Januari 2012.
![]() |
| Kulit hasil bio-rekayasa dapat menahan tembakan peluru dengan kecepatan setengah namun tembakan dengan kecepatan penuh masih tembus. |
Sutra tersebut diproduksi di Utah, kemudian dipintal menjadi benang di Korea, kemudian ditenun menjadi kain lapisan di Jerman.
Tahap terakhir melibatkan pertumbuhan lapisan kulit di sekitar sampel dari kulit antipeluru, yang memakan waktu sekitar lima minggu.
Essaidi mengatakan bahwa proyek ini membuat fiksi ilmiah menjadi seperti kenyataan.
Dia mengatakan sutra memiliki sejarah yang panjang, pernah digunakan dalam pertempuran oleh pasukan berkuda Jenghis Khan.

"Bayangkan rompi spidersilk (sutra laba-laba), mampu menangkap peluru, dimasa modern itu sama seperti anti panah yang dimiliki pasukan Jenghis Khan," katanya.
"Sekarang, mari kita tunggu tahapan lebih lanjut, kenapa harus bersusah payah dengan sebuah rompi: bayangkan ini mengganti keratin, protein ini yang bertanggung jawab atas ketangguhan kulit manusia, dengan protein spidersilk ini..” lanjutnya.
"Hal ini dimungkinkan dengan menambahkan gen penghasil sutra laba-laba ke genom seorang manusia untuk menciptakan manusia anti-peluru.
Meski masih dianggap sebagai fiksi ilmiah, Essaidi menyebutkan bahwa ide ini menjadi perintis untuk menghasilkan kulit seperti yang dimiliki Superman, Manusia Baja yang anti-peluru. (Zk)



0 komentar:
Posting Komentar