Jakarta | Acehtraffic.com - Berbekal modal seadanya, sekitar 80-an orang kaum tani Pulau Padang,
Kabupaten Meranti, Riau berangkat dari kampungnya ke Jakarta untuk
menuntut keadilan.
Di kampungnya, para warga ini merasa resah akan
aktivitas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang dinilai mengambil
lahan warga dan merusak lingkungan sehingga membuat Pulau Padang
berpotensi tenggelam.
Mereka kemudian berorasi di depan Gedung
DPR/MPR hingga akhirnya mendirikan tenda-tenda sederhana dari terpal dan
bambu pada tanggal 12 Desember 2011. Bumi perkemahan DPR, demikian
media massa menyebutnya.
Selama 38 hari, tidak ada satu pun tuntutan warga agar RAPP menghentikan aktivitasnya didengar para wakil rakyat.
Padahal,
mereka sudah melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian anggota
DPR mulai dari aksi jahit mulut sampai rantai diri. Hal itu kemudian
membuat satu per satu warga meninggalkan perkemahannya selama ini.
Kini,
hanya tersisa sekitar 30-an orang warga. Satu orang warga Pulau Padang
bahkan dikabarkan gila akibat keluh kesahnya tak didengar setelah
memasuki hari ke-33.
Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN) yang
mendampingi para warga, Yoris Sindhu Sunarjan, mengatakan salah seorang
warga yang menjadi tidak waras bernama Sulatra (37).
Dia diduga depresi setelah gagal bertemu dengan Bupati Meranti dan Menteri Kehutanan RI pada tanggal 6 Januari lalu.
"Pertemuan
itu padahal kami harapkan menjadi puncak perjuangan kami selama ini.
Kesepakatan antara bupati, warga, dan Menhut, tapi ternyata gagal
dilaksanakan karena tidak jelas alasannya. Ini yang membuat Sulatra
kecewa," ungkap Yoris, Rabu 18 Januari2012, saat dijumpai di depan gedung
DPR/MPR, Jakarta.
Setelah gagal bertemu bupati dan Menhut, lanjut
Yoris, Sulatra menjadi sulit diajak berkomunikasi. Selama bermalam di
tenda, Sulatra sering meracau sendiri. Ia marah-marah sendiri akan hal
yang tidak jelas.
"Dia mengganggap semua orang musuh dan merasa
tidak ada yang peduli sama dia. Sulatra juga selalu mengajak konfrontasi
orang-orang disekelilingnya," papar Yoris.
Akhirnya, oleh sesama
peserta unjuk rasa, Sulatra dibawa ke rumah sakit. Dia juga sempat
menjalani pemeriksaan kejiwaan oleh psikiater.
"Sampai akhirnya
pada tanggal 13 Januari kemarin dia harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa
karena gila. Kami menyayangkan adanya rekan kami yang jadi begini,"
papar Yoris.
Menurut Yoris, Sulatra bisa sedemikian kecewanya
lantaran pernah mengalami pengalaman yang sama saat pria itu tinggal di
Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tanah keluarganya di sana juga
dirampas oleh perusahaan.
Saat masyarakat melawan, ayah Sulatra
kebetulan adalah pimpinanya. "Ayah Sulatra sebagai pemimpin dia yang
terdepan dan sayangnya tertembak oleh aparat keamanan," tutur Yoris.
Sejak
itu, Sulatra melakukan transmigrasi ke Pulau Padang dan menikah dengan
penduduk lokal. Tetapi bukan hidup tenang yang didaptnya, justru
pengalaman serupa kembali menghadang.
"Akhirnya semua memorinya
dia terbolak balik. Kami berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini
dan anggota DPR segera mengabulkan tuntutan kami," tukas Yoris.| AT | KS |


0 komentar:
Posting Komentar