Jakarta | Acehtraffic.com — Pola dan motif penembakan misterius yang terjadi di Aceh dapat dipetakan dengan sangat sederhana.
Direktur Penelitian dan Pengembangan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Agung Wijaya, memaparkan hal tersebut dalm jumpa pers yang dilakukan di kantor Kontras, Jakarta, Minggu [8/1].
“Dari lima peristiwa sejak 4 Desember 2011 hingga Awal Januari, 10 orang tewas dan 13 orang terluka. Tapi dari lima peristiwa itu, ada satu peristiwa yang harus dilepaskan,
yakni di Ulee Kareng, Banda Aceh,” ujar Agung.
Menurutnya, peristiwa di Uli Karing merupakan pengecualian karena pelaku menggunakan senjata laras pendek dan memiliki target yang jelas.
Pelaku juga sempat saling mengontak satu sama lain.
“Sementara empat peristiwa lainnya menggunakan laras panjang, dengan waktu yang hampir sama, dan pola penembakan sporadis,” tukasnya.
Ia mengurai, pola umum yang terjadi jika penembakan memiliki motif ekonomi atau bisnis sasarannya adalah pengusaha, investor, dan terlepas dari apapun latar belakang etnisnya.
“Polanya penculikan, hingga meminta tebusan,” ujarnya.
Sementara jika motifnya politik lokal, targetnya sangat jelas yakni pimpinan atau tokoh politik. “Biasanya calon tokoh politik.
Umumnya menggunakan granat dan menyerang rumah atau kantor tertentu,” tukas Agung.
Motif pembunuhan secara personal juga memiliki ciri tertentu yakni targetnya jelas tertuju pada personal [individu perorangan] atau keluarganya. “Senjatanya termasuk senjata tajam,” tukasnya.
Oleh karenanya, ia menduga penembakan misterius yang belakangan terjadi di Aceh merupakan sesuatu yang terencana secara baik.
“Dalam empat kasus, ada persamaannya. Pelakunya melakukan tembakan sporadis kepada sekumpulan orang dan dengan cepat menghilang. Penembakan juga dilakukan pada malam hari. Kejadiannya juga terjadi di tempat sepi dan bukan di keramaian,” ujarnya.
Ia mengatakan, pola tertutup seperti ini, dengan upaya membentrokkan etnis bukan tipikal kelompok tertentu yang berkuasa di Aceh.| AT | AK |

0 komentar:
Posting Komentar